Beranda Rumah Kita : Kenangan Dalam Puisi
Friday, December 26, 2003
Aku mengenal namanya di majalah HAI dengan serentetan puisinya tentang ibu dan kerinduan yang menjadi lumut. Kemudian tanpa sengaja aku mengenalnya secara nyata di kampus, di dunia teater. Tidak ada apa-apa diantara kita. hanya sebatas teman biasa yang kadang-kadang berbeda pendapat. Aku sudah mempunyai kekasih pilihan orang tua sedang dia masih berkubang dalam kenangan cinta masa lalunya. Hingga suatu saat, dia mulai menyelipkan puisi di balik skripsiku yang yang tak lelah-lelahnya dia bantu meberikan referensi buku-buku mewujudkan gelar sarjanaku.
Romance (Puisi Aly D Musyrifa)
Siapakah diam-diam mengirim bunga padamu
berkali-kali menjengukmu lewat angin yang hinggap
di jendela. Lalu bergegas pergi meninggalkan beribu
kata pada embun yang membasah di telapak tanganmu
dan kau usap pada lembut wajahmu berkali-kali
Siapakah diam-diam menyematkan pita pada rambutmu
berkali-kali memelukmu lewat parfummu yang melekat
di gaunmu. Berpijar-pijar sepeerti fajar. Menetaskan pagi
di bening matamu
di indah hatimu.
Siapakah diam-diam menjadi ketukan di pintu
yang mengubah duniamu, menjadi detak-detak
sepatu yang kauikuti sepanjang waktu. Siapakah ?
Yogyakarta 1992.
Akupun tersenyum dan memberikan masukan tentang puisi itu, mendengarkan ulasan dia tentang puisi- puisi yang harus menyentuh segi tematis dan estetis tanpa berani menafsirkan lebih lanjut. Dia seorang penyair dan biasa menulis kata-kata indah tentang cinta yanglahir baik dari masa lalunya ataupun imajinasinya. tapi dia tetap mengirimiku puisi-puisinya sejalan dengan retaknya hubunganku dengan kekasihku itu.
SAJAK KEMATIAN
(Puisi labibah)
Ketika kau senandungkan lagu kematian
Langit sukma menghening
Wangi cendana telah mengarakku ke negeri kabut
Bersama taburan bunga aku menengadah
meraih doa-doa yang kurenda dimasa silam
Dan diam-diam auranya kusematkan di dadaku
Yogya, 1992
Puisi-puisinya terus mengalir dan akupun mulai berani menghubungkannya dengan kejadian yang menimpa hari-hariku. Pada hari ulang tahunku, 3 November 1992, dia memintaku menjadi kekasihnya
KETIKA LANGIT KEMBALI EMAS
(Aly D Musyrifa)
Geraikan rambutmu geraikan duka citamu
Langit telah kembali emas di ufuk jauh
Sebab cinta adalah cakrawala
Kualir seribu sungai buat menyapamu
Dikaulah pelabuhan
kuraih tanganmu sebab aku kehilangan sebelah tangan
Buat melukis hidup dengan fajar dan bintang-bintang
Seperti alam merangkai musim menjadi puisi
Hamparan bukit dan ladang hijau
Betapa ingin kugubah menjadi lagu di hati
Duka adalah jurang
Luka adalah tombak
Sedang lelaki selalu tersenyum
Menyelam seribu jurang dengan tombak patah di jantung
Kebahagiaan adalah embun
Tetapi jalan menuju danau begitu sunyi dan rahasia
Yogyakarta, 1992
Tidaklah mudah menjadi kekasihnya. Cemburuku ada dimana-dimana. badai dan salju yang menentang hubungan kita terbentang dimana-mana. Aku ketakutan. Puisi-puisinya memberiku kekuatan
LAGU MALAM I
(Puisi Aly D Musyrifa)
Melukis gelisah bulan dan matahari, seribu dermaga
Kubangun dan kuruntuhkan kembali dengan cinta
Kata-kata yang menetes dari bibir
Telah menjelma bercak-bercak darah di lembar syair
Di beranda itu kini
Aku mendengar riuh badai di kejauhan
Dan kabut yang tengah turun perlahan-lahan
Bila awan mengarakku ke negeri angin
Kekasih, kubawa dukamu menempuh ajal yang dingin
LAGU MALAM II
(Puisi Aly D Musyrifa)
Telah kupotong tangan dan lidahku yang panjang
Agar lebih mengerti air matamu yang sunyi dan tenang
Telah kubakar bibirku yang basah oleh dusta
Agar lebih mengerti bahasamu yang sandi dan rahasia
Kumasuki kabut, berjalan menempuh malam
Agar mataku senantiasa pagi
Menyaksikan lampu berpendar
Dari balik hatimu yang tegar
Seperti bunga, batinku senantiasa mekar dalam keteduhan
Menempuh musim-musimmu dengan sabar dan ketulusan
Kini aku menjulang dan melambai
Memanggil seribu topan dan badai
Mengembang kembali layar, sebab laut tiada berpantai.
Yogyakarta 1992
Bersama ribuan doa para malaikat, 1 Nopember 1995, resmilah aku menjadi isterinya.
Januari 1996, aku positif menjadi seorang calon ibu. Yasa ada di dalam rahimku dan lahir menyinari hidupku pada tanggal 17 September 1996.
SARINADE MUSIM SEMI
(Puisi Aly D Musyrifa)
*Puisi ini telah di gubah menjadi sebuah lagu oleh Asep Hilman Yahya.
Bersimbah harum bunga
Kupeluk hatimu dengan hatiku
bermandikan kehangatan sungai
yang mengalir dari surga
Pagi ini fajar terbit dijiwaku
Salami aku
agar sempurna kebahagiaan kukalungkan
bintang-bintang bersinar dimataku
O, Isteriku
dikaulah ibu kandung harapan dan impian
bila sampai dermaga akan kita dirikan
rumah sepanjang pantai
agar anak kita bermain
bersama gelombang dan ombak-ombak
menantang matahari
Yogyakarta, 1996
Kebahagiaan tak selamanya berpihak kepadaku. Aku harus meninggalkan suami dan anakku untuk berlayar kenegeri ilmu.
UNTITLED
(Aly D Musyrifa)
dengan tangan anakku, kulambaikan tanganku
pergilah. biarkan kelopak di hatiku
tanggal memanggilmu
langit telah mendung
namun kereta harus diberangkatkan
dan di stasiun itu peluit melengking dari dalam jiwaku
aku termangu berpayung awan
menuai gerimis berkepanjangan
Yogyakarta, l997
banjir air mata menemani hari-hariku. beban studi, rasa bersalah dan rindu menjadi sahabat hidupku
SAJAK KERINDUAN
Puisi labibah
(kepada Suamiku, Aly D Musyrifa)
Ditengah serpihan salju yang masih melekat
di sudut-sudut kota
aku mencari jejak langkahmu
Lambaian tanganmu di stasiun itu
telah menjadi hembusan angin yang menyeret musim-musimku
Di sudut-sudut apartemen
aku mencari senyummu
Pita yang kau sematkan dirambutku
telah menjelma menjadi mawar yang senatiasa
kugenggam sepanjang waktu
Di tumpukan katalog itu
aku mencari puisimu
untaian kata itu telah melunakkan batu purbaku
menjadi jejak-jejak matahari
Di bangku metro itu
aku tersedu
menghitung hari-hari tanpa desah nafasmu.
Montreal, 1998.
SONG FOR YASA (Labibah)
Di awal musim semi ini, Yasa
cahaya mentari mulai membasuh kota
memunculkan bunga-bunga tulip
seperti di istana raja-raja
Sayup-sayup kudengar tawamu
membangunkan tidur bumi
yang kemudian mengajakmu menari
Diawal musim semi ini, Yasa
aku ingin menggandeng tangan kecilmu
menyusuri ranting-ranting alam
dan bersenandung bersama burung-burung
Di awal musim semi ini, Yasa
aku rajutkan jalinan doa
yang akan aku kalungkan di lehermu yang jenjang
Montreal, 1998
Perpisahan ini sungguh berat. dan gelar S2 ku yang kudapat harus kubayar berat.
aku tidak bisa hadir memeluk ibuku yang menetesi aku dengan kasih sayang embunnya sebelum mengahdapNYA.
Suamiku harus merelakan kepergian ayahndanya ke hadiratNYA tanpa kehadiranku disisinya.
tapi hidup adalah hidup yang harus berjalan dimakan sang waktu.
begitu juga hari-hariku kembali bersinar di tengah keluargaku. Danial lahir pada tanggal 12 Juli 2000 mencoretkan pelangi didalam kehidupanku.
tapi takdir kembali mebawaku kenegeri seberang. Setahun kembali aku harus meninggalkan keluargaku untuk meraih impian akademis ibuku. Kali ini aku tidak mau jarak yang membentang diantara keluragaku terlalu lama. Suamiku yang berdada seluas samudera itu rela meninggalkan dunia Yogya nya untuk berkumpul di Montreal menjadi matahariku bersama anak-anakku penyejuk jiwaku.
BERSAMA DANIAL DI WESTMOUNT PARK
(Puisi Aly D Musyrifa)
Bersama Danial kuhisap dunia
Berlari-lari memanjat tangga usia
Meluncur ringan seolah jalan hidup begitu terang
Menunggang kuda kayu mendepak jerit dan pilu
Berputar-putar dalam gelimang cinta dan kemesraan
Melayang dalam ayunan waktu
Menyiram bunga menyiram jiwa
Terus bermainlah anakku
Biarkan senyummu berpendar dalam sajakku
Montreal, 2002
Seorang tamu di beranda rumah kita, Nanang Suryadi menuliskan sajaknya. Membacakan puisinya di Ruang Hati Ruang Sunyi . Bacalah sajak indahnya ini
Di Beranda Engkau Membaca Puisi
(Puisi nanang Suryadi)
: labibah zein
Di beranda engkau membaca puisi dari mata kanak-kanak atau cahaya matahari yang tersangkut di rambut penyair. Di negeri jauh yang menanggungkan rindu dan mulai menulis tentang waktu yang berangkat ke arah senja. Mungkin tak ada yang sempat menanyakan tentang alamat ke mana akan kembali. Karena di mana pun adalah perjalalan untuk pulang. Sebagai seringkali ditelusuri jejak peta dengan airmata. Di mata kanak-kanak ingin kau temukan negeri itu. Di beranda engkau membaca puisi. Sebagai cahaya matahari senja tersangkut di rambutnya.
Ps : Doktor pertama telah lahir di Komunitas blogger family
Selamat kepada Bapak DR Imam A Sadisun , ayah dari Dhafin, suami ibu Widi yang telah sukses mempertahankan desertasinya pada tgl 26 Desember 2003 di Department of Earth Resources Engineering, Graduate School of Engineering, Kyushu University, Jepang.
Semoga dunia akademis di Indonesia akan semakin maju dengan lahirnya DOKTOR baru ini. Dan terus bagi-bagi ilmu lewat "the beauty of Rock" nya ya pak.
Salam dari kami sekeluarga
Aly, labibah, Yasa dan Danial
Winter in MontreaL: No Words Can Describe It!
Friday, December 12, 2003
test
Tuesday, December 09, 2003
kalau kau melihatnya
beri tahu saya
PS: happy birthday to Brandy aka Echa. langit akan kembali emas untukmu.
happy birthday juga buat Papap Dino Antonio. Dengan cinta SyL dan kasih Cemara,
embun kebahagiaan akan selalu menyapa hari-harimu.
Salam
Keluarga Beranda
Montreal Updated
Tanggal 8 - 11 Desember 2003, ada acara "Spotlight on Indonesia" di Montreal dengan memutar tiga buah film Indonesia pilihan. Acara ini juga diselenggarakan di lima kota di Kanada, yaitu Toronto, Montreal, Ottawa, Vancouver, dan Winnipeg.
Informasi selengkapnya adalah sebagai berikut:
Spotlight on Indonesia (Regard sur le cinéma indonésien)
WHISPERING SANDS (Pasir Berbisik)
LEAF ON A PILLOW (Daun di Atas Bantal)
ELIANA, ELIANA
(in Indonesian with English subtitles / en indonésien, avec sous-titres anglais)
T O R O N T O : N O V . 2 6 - 3 0
Reel Asian International Film Festival www.reelasian.com
ELIANA, ELIANA: Thurs. / jeudi. Nov. 27 nov., 21:00
LEAF ON A PILLOW: Sat./sam. Nov. 30 nov., 21:00
Innis Town Hall, 2 Sussex ave.
All tickets are $8 and can be purchased at the door on the day of screening. / Les billets sont vendus 8 $ au guichet le jour de la projection.
OT T A W A : D É C . 6 - 7
Canadian Film Institute / Institut canadien du film www.cfi-icf.ca
LEAF ON A PILLOW: Sat./sam. Dec. 6 déc., 19:00
ELIANA, ELIANA: Sun./dim. Dec. 7 déc., 19:00
WHISPERING SANDS: Sun./dim. Dec. 7 déc., 21:00
395, rue Wellington Street, National Archives Auditorium, Archives nationales du canada
All tickets can only be purchased at box-office on day of screening. / On peut se procurer des billets au guichet le jour de la projection.
$ 9.00 Non-member / Grand public / $ 6.00 Members, seniors, children 15 and under / Membres, aînés et enfants de moins de 15 ans
M O N T R É A L : D ÉC . 9 - 1 1
Cinémathèque québécoise www.cinematheque.qc.ca
LEAF ON A PILLOW: Tues./ mardi. Dec. 9 déc., 18:30
WHISPERING SANDS: Wed. / merc. Dec. 10 déc, 20:30
ELIANA, ELIANA: Thurs. / jeudi. Dec. 11 déc, 20:30
Cinémathèque québécoise, 335, boul. De Maisonneuve est
Adultes 6 $ / Étudiants et aînés 5 $ / 6 à15 ans 3 $ / Gratuit pour les moins de 5 ans accompagnés d'un adulte
Adults $6 / Students and Seniors $5 / 6 -15 years $3 / Free for children under 5 years accompanied by an adult
V A N C O U V E R : J A N. 2 0 0 4
Pacific Cinémathèque Pacifique www.cinematheque.bc.ca
W I N N I P E G : J A N. 2 0 0 4
Winnipeg Film Group Cinémathèque www.winnipegfilmgroup.mb.ca
PS:
picture "wajah2 para ibu Montreal " was taken by Endang in Ottawa when Celebrating Indonesia Independence Day, August 17 2003
The Virtual Village
Monday, December 08, 2003
Aku datang
di perkampungan bertabur bintang
beratap peradaban
beralaskan keramahan
kuulurkan tali perkenalan di
beranda rumah ku
tangan-tangan bersambutan
menanam pengetahuan
memetik persaudaraan
Ada rumah berdinding kasih sayang
bercerita dari Myanmar
dari dapur kue hingga kendaraan
terkenal dengan ramuan SyL yang menawan
Ada rumah berhias cinta
mengangkat para tamunya
ke negeri pingky
merombak rumah para tetangga
agar menjadi istana para raja
Ada rumah berjendela keramahan
menyapa para musafir
dengan gemricik sapa ala ikaray
dan laporan perjalanannya
Ada rumah yang mengalunkan suara anak-anak
bermelodi kemesraan dengan ketipung bersautan
menarilah ara di negeri impian
ada rumah berpenghuni kelinci
menjadi tempat berdiskusi
Ada rumah penuh senyuman
menyambut tamu Dhafin dengan penuh cinta
Ada rumah berkalungkan musik Richy di pintunya
menyapa kita dengan syair-syairnya
ada rumah tempat mom berkeluh kesah
penuh doa dan kebahagiaan
perkampungan itu ada
merekalah pendirinya
perkampungan itu ada
bukan impian
apalagi dongeng belaka
perkampungan itu ada
meski dipisahkan oleh ribuan jarak
perkampungan itu ada
mengajak anda berbagi cerita
perkampungan itu ada
disini
di "Blogger family"
menyuarakan "we are a virtual family!"
******
come and join the virtual village
Ps: Selamat Ulang tahun Ipone
Semoga Hidupmu selalu bertabur bintang
Salam dari kami semua
Beranda Rumah kita
Ketika Kita Tidak Cocok lagi
Friday, December 05, 2003
ketika mata kita tidak bisa saling tidak menatap
pelabuhan bisa tak terlabuh
kapal bisa karam
terhempas kebekuan yang membatu
Wahai musim semi
kemana larinya kelopak bunga kami
yang saling merundukkan
untuk bisa berpelukan?
Wahai Musim salju
jawab musim semi pilu
kelopak bunga tidak tidak akan pernah sirna
jika engkau menjaganya dengan lazuardi cinta
jangan biarkan hilang ditelan zaman
telusuri dengan kaca mata nurani (By Labibah)
Membaca postingan Ratna di negeri Senja tentang "Di mana kalian bertemu?" memang sangat menarik. Pembaca dipancing untuk bernostalgia tentang masa lalu sebuah hubungan yang bisa jadi sudah menjadi hambar di telan zaman karena ketidak cocokan yang ditemui dalam mengayuh kehidupan bersama.
Berbicara tentang ketidak cocokan (baca: kejenuhan) dalam suatu hubungan, saya jadi teringat Rubrik Resonansi yang memuat tulisan tentang "Ketika Kita Merasa Tidak Cocok" yang dipajang di Suara Merdeka Online. Saya suka dengan rubrik Resonansi ini karena materi-materi tulisannya dekat dengan kehidupan nyata dan di kemas dengan bahasa yang menarik. Coba anda simak dan bisikkan kepada saya bagaimana pendapat anda.
Ketika kita tidak cocok lagi
SUAMI saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu.
Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?" dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini," jawab saya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit, dan itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan mengubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan:
"Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali...
"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Lalu saya harus memberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya.
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.
"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi: saya harus memberikan mata untuk mengarahkanmu.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'tamu' kamu datang setiap bulannya: saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.
"Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi 'aneh'. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu.
"Kamu selalu menatap komputer dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu....
"Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati...."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali...
"Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu...."
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Saya tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah dibahunya yang bidang sambil menangis.... (CN02)
Sajak Para Blogers
Wednesday, December 03, 2003
Ketika doneeh dot com down
silaturahmiku habis dimakan jarak
buroqku kehilangan jejak
Mikrajku tertunda
tak ada tamu menyapa
beranda rumah kita jadi tempat bertapa
Ketika villagephotos dot com down
rumahku luluh lantak
tak ada senyum anak-anak
tak ada pelangi menguak
yang ada hanya kotak-kotak kosong belaka
Ketika bandwidth melebihi batas
separoh hidup kita terlepas
tak mampu bergerak
apalagi berkata-kata
Ketika para hacker bertandang
tubuh serasa diperkosa
jiwa menangis darah
keteduhan berubah menjadi air mata
Hidup memang tak selamanya berbinar
matahari kadang tak harus bersinar
dan kita hanya bisa bercermin
menatap diri kita
* Sajak ini dibuat sambil menatap blog
Ketika doneeh down dan villagephotos sedang eror
* Sajak ini dibuat untuk menunjukkan betapa berharganya service-service gratisan bagi orang-orang seperti saya. Tanpa kebaikan Doneeh, villagephotos, blogger, sitemeter, miz_graphic Saya hanya bisa menatap dunia tanpa berbuat apa-apa.
The Grey World
Tuesday, December 02, 2003
Salju itu datang lagi
menyelimuti tanah impianku
membekukan kebun bungaku
yang kurawat dengan cinta dan air mata
Salju itu datang lagi
memeluk pepohonan berdaun imajinasi
mengkilat laksana kristal
menggumpal laksana kapas
berbuah khuldi
yang menghempaskan Adam dan Hawa dari tanah surgawi
Salju itu datang lagi
menyapaku di balkoni
menyuruhku memakai boot
agar kakiku selamat menuju ke negeri kalam
menyuruhku memasang syal
agar suaraku senantiasa jernih
melantunkan ayat- ayat Daud
menyuruhku memasang jaket
agar tubuhku terhindar dari angin yang ditiupkan
para penyihir dengan buhul-buhul nya
menyuruhku memakai penutup kepala
agar otakku senantiasa fajar
menyuruhku menutup muka
agar wajahku seantiasa memancarkan cahaya Mariam
menyuruhku memakai sarung tangan
agar jari-jariku senantiasa lincah
mencatatkan peradaban Sulaiman
Salju itu datang lagi
bumiku semakin renta
dan beruban!
----------------------------------------
PS: Selamat ulang tahun Seline.
Semoga hari-harimu senantiasa pagi
-- Keluarga Beranda Rumah Kita ---










