Beranda Rumah Kita : Kenangan Dalam Puisi

Friday, December 26, 2003




Aku mengenal namanya di majalah HAI dengan serentetan puisinya tentang ibu dan kerinduan yang menjadi lumut. Kemudian tanpa sengaja aku mengenalnya secara nyata di kampus, di dunia teater. Tidak ada apa-apa diantara kita. hanya sebatas teman biasa yang kadang-kadang berbeda pendapat. Aku sudah mempunyai kekasih pilihan orang tua sedang dia masih berkubang dalam kenangan cinta masa lalunya. Hingga suatu saat, dia mulai menyelipkan puisi di balik skripsiku yang yang tak lelah-lelahnya dia bantu meberikan referensi buku-buku mewujudkan gelar sarjanaku.

Romance (Puisi Aly D Musyrifa)

Siapakah diam-diam mengirim bunga padamu
berkali-kali menjengukmu lewat angin yang hinggap
di jendela. Lalu bergegas pergi meninggalkan beribu
kata pada embun yang membasah di telapak tanganmu
dan kau usap pada lembut wajahmu berkali-kali

Siapakah diam-diam menyematkan pita pada rambutmu
berkali-kali memelukmu lewat parfummu yang melekat
di gaunmu. Berpijar-pijar sepeerti fajar. Menetaskan pagi
di bening matamu
di indah hatimu.

Siapakah diam-diam menjadi ketukan di pintu
yang mengubah duniamu, menjadi detak-detak
sepatu yang kauikuti sepanjang waktu. Siapakah ?


Yogyakarta 1992.


Akupun tersenyum dan memberikan masukan tentang puisi itu, mendengarkan ulasan dia tentang puisi- puisi yang harus menyentuh segi tematis dan estetis tanpa berani menafsirkan lebih lanjut. Dia seorang penyair dan biasa menulis kata-kata indah tentang cinta yanglahir baik dari masa lalunya ataupun imajinasinya. tapi dia tetap mengirimiku puisi-puisinya sejalan dengan retaknya hubunganku dengan kekasihku itu.

SAJAK KEMATIAN
(Puisi labibah)

Ketika kau senandungkan lagu kematian
Langit sukma menghening
Wangi cendana telah mengarakku ke negeri kabut
Bersama taburan bunga aku menengadah
meraih doa-doa yang kurenda dimasa silam
Dan diam-diam auranya kusematkan di dadaku

Yogya, 1992

Puisi-puisinya terus mengalir dan akupun mulai berani menghubungkannya dengan kejadian yang menimpa hari-hariku. Pada hari ulang tahunku, 3 November 1992, dia memintaku menjadi kekasihnya

KETIKA LANGIT KEMBALI EMAS
(Aly D Musyrifa)

Geraikan rambutmu geraikan duka citamu
Langit telah kembali emas di ufuk jauh

Sebab cinta adalah cakrawala
Kualir seribu sungai buat menyapamu
Dikaulah pelabuhan
kuraih tanganmu sebab aku kehilangan sebelah tangan
Buat melukis hidup dengan fajar dan bintang-bintang

Seperti alam merangkai musim menjadi puisi
Hamparan bukit dan ladang hijau
Betapa ingin kugubah menjadi lagu di hati


Duka adalah jurang
Luka adalah tombak
Sedang lelaki selalu tersenyum
Menyelam seribu jurang dengan tombak patah di jantung


Kebahagiaan adalah embun
Tetapi jalan menuju danau begitu sunyi dan rahasia

Yogyakarta, 1992

Tidaklah mudah menjadi kekasihnya. Cemburuku ada dimana-dimana. badai dan salju yang menentang hubungan kita terbentang dimana-mana. Aku ketakutan. Puisi-puisinya memberiku kekuatan

LAGU MALAM I
(Puisi Aly D Musyrifa)


Melukis gelisah bulan dan matahari, seribu dermaga
Kubangun dan kuruntuhkan kembali dengan cinta
Kata-kata yang menetes dari bibir
Telah menjelma bercak-bercak darah di lembar syair


Di beranda itu kini
Aku mendengar riuh badai di kejauhan
Dan kabut yang tengah turun perlahan-lahan


Bila awan mengarakku ke negeri angin
Kekasih, kubawa dukamu menempuh ajal yang dingin

LAGU MALAM II
(Puisi Aly D Musyrifa)

Telah kupotong tangan dan lidahku yang panjang
Agar lebih mengerti air matamu yang sunyi dan tenang
Telah kubakar bibirku yang basah oleh dusta
Agar lebih mengerti bahasamu yang sandi dan rahasia
Kumasuki kabut, berjalan menempuh malam
Agar mataku senantiasa pagi
Menyaksikan lampu berpendar
Dari balik hatimu yang tegar


Seperti bunga, batinku senantiasa mekar dalam keteduhan
Menempuh musim-musimmu dengan sabar dan ketulusan
Kini aku menjulang dan melambai
Memanggil seribu topan dan badai
Mengembang kembali layar, sebab laut tiada berpantai.

Yogyakarta 1992

Bersama ribuan doa para malaikat, 1 Nopember 1995, resmilah aku menjadi isterinya.
Januari 1996, aku positif menjadi seorang calon ibu. Yasa ada di dalam rahimku dan lahir menyinari hidupku pada tanggal 17 September 1996.


SARINADE MUSIM SEMI
(Puisi Aly D Musyrifa)
*Puisi ini telah di gubah menjadi sebuah lagu oleh Asep Hilman Yahya.


Bersimbah harum bunga
Kupeluk hatimu dengan hatiku
bermandikan kehangatan sungai
yang mengalir dari surga

Pagi ini fajar terbit dijiwaku
Salami aku
agar sempurna kebahagiaan kukalungkan
bintang-bintang bersinar dimataku

O, Isteriku
dikaulah ibu kandung harapan dan impian
bila sampai dermaga akan kita dirikan
rumah sepanjang pantai
agar anak kita bermain
bersama gelombang dan ombak-ombak
menantang matahari


Yogyakarta, 1996

Kebahagiaan tak selamanya berpihak kepadaku. Aku harus meninggalkan suami dan anakku untuk berlayar kenegeri ilmu.

UNTITLED
(Aly D Musyrifa)

dengan tangan anakku, kulambaikan tanganku
pergilah. biarkan kelopak di hatiku
tanggal memanggilmu
langit telah mendung
namun kereta harus diberangkatkan
dan di stasiun itu peluit melengking dari dalam jiwaku
aku termangu berpayung awan
menuai gerimis berkepanjangan


Yogyakarta, l997

banjir air mata menemani hari-hariku. beban studi, rasa bersalah dan rindu menjadi sahabat hidupku

SAJAK KERINDUAN
Puisi labibah
(kepada Suamiku, Aly D Musyrifa)

Ditengah serpihan salju yang masih melekat
di sudut-sudut kota
aku mencari jejak langkahmu
Lambaian tanganmu di stasiun itu
telah menjadi hembusan angin yang menyeret musim-musimku

Di sudut-sudut apartemen
aku mencari senyummu
Pita yang kau sematkan dirambutku
telah menjelma menjadi mawar yang senatiasa
kugenggam sepanjang waktu

Di tumpukan katalog itu
aku mencari puisimu
untaian kata itu telah melunakkan batu purbaku
menjadi jejak-jejak matahari

Di bangku metro itu
aku tersedu
menghitung hari-hari tanpa desah nafasmu.

Montreal, 1998.

SONG FOR YASA (Labibah)

Di awal musim semi ini, Yasa
cahaya mentari mulai membasuh kota
memunculkan bunga-bunga tulip
seperti di istana raja-raja
Sayup-sayup kudengar tawamu
membangunkan tidur bumi
yang kemudian mengajakmu menari

Diawal musim semi ini, Yasa
aku ingin menggandeng tangan kecilmu
menyusuri ranting-ranting alam
dan bersenandung bersama burung-burung

Di awal musim semi ini, Yasa
aku rajutkan jalinan doa
yang akan aku kalungkan di lehermu yang jenjang

Montreal, 1998

Perpisahan ini sungguh berat. dan gelar S2 ku yang kudapat harus kubayar berat.
aku tidak bisa hadir memeluk ibuku yang menetesi aku dengan kasih sayang embunnya sebelum mengahdapNYA.
Suamiku harus merelakan kepergian ayahndanya ke hadiratNYA tanpa kehadiranku disisinya.
tapi hidup adalah hidup yang harus berjalan dimakan sang waktu.
begitu juga hari-hariku kembali bersinar di tengah keluargaku. Danial lahir pada tanggal 12 Juli 2000 mencoretkan pelangi didalam kehidupanku.


tapi takdir kembali mebawaku kenegeri seberang. Setahun kembali aku harus meninggalkan keluargaku untuk meraih impian akademis ibuku. Kali ini aku tidak mau jarak yang membentang diantara keluragaku terlalu lama. Suamiku yang berdada seluas samudera itu rela meninggalkan dunia Yogya nya untuk berkumpul di Montreal menjadi matahariku bersama anak-anakku penyejuk jiwaku.





BERSAMA DANIAL DI WESTMOUNT PARK
(Puisi Aly D Musyrifa)


Bersama Danial kuhisap dunia
Berlari-lari memanjat tangga usia
Meluncur ringan seolah jalan hidup begitu terang
Menunggang kuda kayu mendepak jerit dan pilu
Berputar-putar dalam gelimang cinta dan kemesraan
Melayang dalam ayunan waktu
Menyiram bunga menyiram jiwa
Terus bermainlah anakku
Biarkan senyummu berpendar dalam sajakku

Montreal, 2002

Seorang tamu di beranda rumah kita, Nanang Suryadi menuliskan sajaknya. Membacakan puisinya di Ruang Hati Ruang Sunyi . Bacalah sajak indahnya ini

Di Beranda Engkau Membaca Puisi
(Puisi nanang Suryadi)
: labibah zein

Di beranda engkau membaca puisi dari mata kanak-kanak atau cahaya matahari yang tersangkut di rambut penyair. Di negeri jauh yang menanggungkan rindu dan mulai menulis tentang waktu yang berangkat ke arah senja. Mungkin tak ada yang sempat menanyakan tentang alamat ke mana akan kembali. Karena di mana pun adalah perjalalan untuk pulang. Sebagai seringkali ditelusuri jejak peta dengan airmata. Di mata kanak-kanak ingin kau temukan negeri itu. Di beranda engkau membaca puisi. Sebagai cahaya matahari senja tersangkut di rambutnya.



Ps : Doktor pertama telah lahir di Komunitas blogger family
Selamat kepada Bapak DR Imam A Sadisun , ayah dari Dhafin, suami ibu Widi yang telah sukses mempertahankan desertasinya pada tgl 26 Desember 2003 di Department of Earth Resources Engineering, Graduate School of Engineering, Kyushu University, Jepang.

Semoga dunia akademis di Indonesia akan semakin maju dengan lahirnya DOKTOR baru ini. Dan terus bagi-bagi ilmu lewat "the beauty of Rock" nya ya pak.

Salam dari kami sekeluarga
Aly, labibah, Yasa dan Danial

© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.