"Papa, baca yang keras ya..."

Friday, November 28, 2003

Sebagai seorang ibu, saya merasa tersindir membaca tulisan yang ada di rubrik Resonansi milik Suara Merdeka online ini . Jujur saja, ketika saya sedang disibukkan oleh kegiatan yang berhubungan kuliah dan asyik dengan dengan komputer, saya kadang-kadang mengabaikan anak-anak saya. Memang benar, saya berusaha mengerjakan tugas-tugas saya selagi anak-anak berada di sekolah masing-masing dan ketika suami sedang bekerja. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, ketika dikejar "deadline", saya sering membawa pekerjaan-pekerjaan kampus ke rumah dan agak abai terhadap urusan rumah tangga. Tulisan di bawah ini, saya rasa bisa dijadikan bahan renungan dan bahan introspeksi bagi kita semua.

"Papa, baca yang keras ya..."
Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dia bawa pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekati, berdiri tepat di sampingnya, sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, "Pa, liat!" Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi "Wah, buku baru ya, Jes?"

"Ya, Papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong, Pa," pinta Jessica lembut.

"Wah Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh," sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan di depannya.

Jessica bengong. Tapi ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu "Pa, Mama bilang, Papa mau baca untuk Jessi."

Budi mulai agak kesal, "Jes, Papa sibuk, sekarang Jessi suruh Mama baca ya?"

"Pa, Mama cibuk terus. Nih, Papa liat gambarnya, lucu-lucu."

"Lain kali Jessica. Sana! Papa lagi banyak kerjaan!" Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu, Jessica menarik napas panjang dan tetap di situ, berdiri di tempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi.

"Pa..., gambarnya bagus. Papa pasti suka..."

"Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Iya, Pa. Lain kali ya, Pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya, ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "Pa, kalau Papa ada waktu, Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger...."

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita Peri imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk..!!"

Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terentak beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya,. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih "Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang Papa-Mama." Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan Budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, "...Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar..." Kata-kata Jessi itu mengiang kembali.

Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras. Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. "Jessi, dengar Papa baca ya..."

Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi "Jessi, Papa mohon ampun, Nak. Papa sayang Jessi.." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya. Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menagis..., memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai. (CN02)

Selamat Ulang tahun, Lah

Thursday, November 27, 2003

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah engkau masih seperti yang dulu
berambut sebahu
senang membaca buku
dan sangat memperhatikan bu yah, abah dan ibu

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah senyummu masih seperti yang dulu
menghapus segala dukaku
yang terkadang mampir dalam kehidupanku

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah engkau masih setia seperti yang dulu
mendengarkan segala celotehku
tentang apa saja yang terjadi pada musim-musimku
tanpa menyela barang sedetikpun

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah engkau masih mau memperhatikanku
membawakan oleh-oleh sepulang sekolahmu
menuliskan catatan-catatan sekolahku
mengikat rambutku
memilihkan bajuku
bahkan memandikanku

Lah,
aku mungkin tidak tahu
semua yang menerpa hari-harimu
tapi yang aku tahu
ulang tahunmu kali ini datang bersama hari yang fitri itu
aku tak tau baju apa yang kau pakai saat itu
tapi harapanku
semoga bahagia selalu menyelimutimu

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah pelukanku akan kau sambut seperti yang dulu
yang jelas aku akan tetap mencintaimu
walau engkau belum membuka pintu maafmu

Lah,
aku mungkin tidak tahu
apakah kau akan tersenyum dengan kelucuan keponakan2 mu
atau malah tambah berat bebanmu
yang aku tahu kita semua mencintaimu
sebagaimana cinta kami terhadap emah, bu yah, abah dan ibu.

Salam dari kami yang jauh
Labibah, Aly, Yasa, dan Danial



Laporan Peristiwa Lebaran

Tanggal 24 Nopember 2003, jam 10 malam waktu Montreal. Danial, saya dan suami saya belum tidur juga. Saya sibuk mempersiapkan bumbu-bumbu untuk membuat nasi kebuli dan sambal goreng. Suami saya sibuk membersihkan dan menghias apartemen dengan bahan-bahan seadanya. Sementara Danial sibuk dengan dunianya sendiri; menggunting -gunting kertas, membanting-banting lego, dan sesekali ikut membantu ayahnya memasang lampu-lampu hiasan.

Saya mengupas bawang merah dan bawang putih, menguliti kapulaga dan memasukkan bumbu2 itu ke blender bersama merica, ketumbar, kayumanis, kemiri. Suara belneder yang menderu-deru tidak mampu membangunkan Yasa tidur. Sementara di bagian kompor terdapat rebusan daging kambing yang kaldunya akan digunakan untuk menanak nasi kebuli. dan daging kambingnya akan digunakan untuk membuat sambal goreng daging.

Ayah sibuk memasang lampu-lampu emeral menjadi bentuk "Alloh" dalam tulisan Arab. bintang-bintang kecilpun dipasang bertaburan di tembok. Danialpun ikut senyum-senyum melihat hiasan-hiasan yang lebih mirip hiasan natal daripada hiasan lebaran. Tidak apalah, yang penting kita sudah berusaha membuat rumah tampil beda dari hari-hari biasa.

Tapat tengah malam, kami berangkat ke peraduan. Jam 5 pagi, 25 Nopember 2003, saya bangun dan sibuk menanak nasi kebuli. Ayah mempersiapkan baju-baju istimewa bagi yasa dan danial. Yasa terbangun dan sempat kaget dengan situasi rumah yang penuh hiasan dan sibuk membangunkan adeknya yang serta merta bilang :'I did it' ketika Yasa menunjukkan hiasan-hiasan itu.

Jam 7 pagi, ayah pergi ke kampus Mcgill untuk melaksanakan sholat Ied. Sedangkan saya terpaksa ditinggal di rumah karena saya sedang kedatangan "rembulan" di samping nasi kebuli saya belum matang.

Jam 10 pagi, Ratna dan anak-anaknya, Moulvi dan Chika menempatkan diri sebagai tamu pertama dengan membawa kue "otak-otak". 5 menit kemudian, ayah datang dari sholat Ied sambil membawa Chips dan air mineral, saya dan anak-anakpun sunkem dan salaman. Alunan suara "Magda Rummi" pun mengalun dengan merdunya.

Selang berapa menit, Endang datang bersama lontong, opor ayam dan sayur lodeh. Ibu-ibupun sibuk mengiris lontong dan mempersiapkan penyajian makanan. tamu-tamu lainnya pun berdatangan. Ada tante Dori, tante marwi, tante hani yang membawa kue mendut dan tahu telurnya, yang pada saat itu juga langsung habis di serbu para tamu, ada dek Izza bersama tante Nining dan om Zuhdi yang membawa Salad panut sauce, emping dan es buah. Tante yaya sekeluarga membawa sate ayam, Kak ani dan Giovanny membawa daging ala makassar, Tante Julia membawa Rendang Padang, Tante Yenni dan Om Mizan membawa bihun dan peyek Sukabumi, Om Atho dan mas Wisang membawa Bownies, Om Risun, tante Alvida dan Om Yudi membawa Risoles ala Plamondon, Om Agus membawa Desert dan juice, Om ratno dengan ayam mexiconya, Om Budi membawa sambal goreng kentang plus ampela, Keluarga Om Hendro mebawa minuman seabrek abrek dan ada beberapa tamu lainnya yang tidak bisa di sebut satu persatu. Yang pasti tante melly datang membawa bayi barunya yang cantik banget yang di beri nama "Gabriella indira Cinta". Semakin lengkaplah situasi lebaran kali ini. Foto-fotopun dilaksanakan. masing-masing mejeng sesuai dengan Dress code yang ada, yaitu: pakain resmi ala lebaran".

Setelah bermaaf-maafan, acara makan makanpun dimulai. Makanan tampak berlimpah dan lebih berlimpah dari orangnya. sayang sekali beberapa orang harus pamit lebih awal karena ada kuliah. Sedangkan tamu-tamu melakukan aktivitas sesuai dengan selera masing-masing. Anak-anak ada yang tidur siang di kamar ada yang nonton film kartun, para ibu saling tukar menukar resep sambil melihat film "Nine months" , dibintangi Robin Wiliam yang berperan sebagai Dokter kandungan cukup mengundang gelak dan tawa dan para bapak sibuk ngopi sambil berdiskusi memikirkan masa depan bangsa sambil rasan-rasan mau membuat semacam forum diskusi bagi masyarakat indonesia yang ada di Montreal.

Jam 5sore, para tamu berpamitan. Karena makanan sangat berlimpah ruah, ayah menyediakan plastik bagi siapa saja yang ingin membawa pulang makanan yang ada. Alhamdulilah, makanannya berkah dan semua orang ikut berbahagia. Sekali lagi Selamat Lebaran. minal aidin wa faizin. kullu ammin wa antum bikhoir. taqqoballohu minna wa minkum. taqoballohu ya karim.

Pantun Undangan Idul Fitri

Sunday, November 23, 2003

Metro dan Bus di Montreal sudah tidak mogok lagi
tuntutan mereka terhadap perbaikan pension plan sudah dipenuhi
kitapun bisa merayakan lebaran dengan lega hati
sebab sudah bisa mengakses metro dan Bus lagi.

Buat warga Indonesia di Montreal yang kami cintai
Silahkan berkumpul dalam rangka idul fitri
di gedung 3415 girroard apt 301 tempat yasa dan danial menyanyi
setelah sholat Ied attawa jam 10 pagi
dengan menu potlackan lagi

Labibah & Aly: sambal goreng daging dan nasi kebuli
Endang & Didin : lontong dan opor ayam
Nining & Zuhdi: Sayuran, es buah dan emping
yayah & Alimun hanif : Sate
Ratno : ayam Mexico
Ratna & Abas : sayur lodeh dan sambal
Hendro : minuman
Yeni & Mizan : bihun goreng dan peyek sukabumi
Julianis : Rendang
Dori, hani & Marwi : kue mendut dan tahu telur

Silahkan datang temans semua
yang punya kaset video Islami silakan dibawa
Yang tidak sempat masak karena kuliah atau kesibukan lain
tidak usah bawa apa-apa
yang penting hati senang dan menyambung tali silaturahmi kita.
dan akan kita sambut ibu Melly dengan baby cantiknya

Maafkan kami Pak dan bu Dubes di Ottawa
kami tidak sempat beranjangsana
karena lebaran datang di hari hari kuliah
sehingga kami merayakannya di Montreal saja
dan sorenya kita bisa kuliah di kampus tercinta.

Salam
penghuni Le Tour Girouard
Aly, Labibah, Yasa dan Danial (301)
Didin, Endang, Linggar dan Rizki (501)

Ifthar, Miscommunication dan idul Fitri

Saturday, November 22, 2003

Jam 4.20 sore eastern time. kegelapan mulai menyelimuti Montreal.
dengan suhu udara sekitar 5 celcius derajat, Montreal nampak segar dipeluk malam.
Bersama dengan ibu Endang dengan kedua putranya, Linggar dan Rizki, saya menggandeng tangan Yasa dan Danial menerobos metro dan bus menuju Cote Vertu. kebetulan jam 03.00 - 06.00 pm adalah jam "available service" bagi metro dan bus yang lagi pada demo, menuntut dinaikkannya pension plan bagi maintance staff nya. Jadi, jam- jam tersebut adalh jam-jam para penumpang berebutan mendapatkan tumpangan bus seolah mereka takut mencapai batas jam 06.00, yang merupakan batas akhir pelayanan metro dan bus tiap harinya. Dengan berdesak-desakkan, akhirnya sampai juga di Cote vertu, dimana keluarga bapak dan ibu Endro tinggal.

Begitu sampai di rumah keluarga Pak Endro, segala kepenatan langsung hilang. Keramahan keluraga ini dalam menyambut tamu-tamunya yang akan berbuka puasa di apartemen mereka membuat kita lupa akan susahnya perjalanan menuju Cote vertu.

Beberapa tamu lain ada yang sudah datang. Ada ustadz Ratno Lukito, yang barusan mengajar mengaji anak-anak Indonesia di Montreal, Ada Ibu Nurlena Rifa'i bersama kedua anaknya yang sudah mulai remaja, dan ada beberapa anak-anak Indonesia lainnya yang sedang berjamaah menjalankan sholat Maghrib di imami oleh Danan, putra bapak dan ibu Endro. Sementara para orang tua ternyata sudah pada menjalankan sholat maghrib sebelum saya datang.

Makanan berbuka puasa sudah menunggu. Ada tauto pekalongan lengkap dengan lontongnya dan martabak buatan mbak menuk, isteri pak Endro. Ada kue Pangsit ayam buatan ibu Endang, ada Ikan pepes buatan ibu Lena, Ada pula pecel serta ayam kentucky. Suasana menjadi tambah meriah ketika rombongan Mizan & Yeni, Pak Husni Rahim dan Istri yang baru datang dari Indonesia untuk menengok puteri-puterinya, Ella dan Nia, keluarga bapak Alimun Hanif, om Agus, om Budi dan bapak Hendro Prasetyo ikut bergabung dalam acara buka bersama ini. Makan-makan, sholat berjamaah dilanjutkan dengan obrolan santai.

sayangnya saya harus cepat-cepat meninggalkan forum itu ketika saya sadar bahwa suami saya tidak membawa kunci apartemen, sehingga sepulang kerja dia tidak akan bisa masuk apartemen karena kunci apartemen ada di kantong saya. dengan terburu-buru, saya mohon pamit dan meluncurlah, saya, Yasa dan Danial ke Girroard, tempat kami tinggal dengan menggunakan taxi, dan mendapati suami saya yang kelaparan karena belum buka puasa sedang duduk manis di lobby sambil membaca "under the naked sky" dengan tas penuh belanjaan persiapan lebaran.

Inilah yang disebut miscommunication. saya mengira dia akan datang ke rumah mbak menuk sedang dia mengira saya tidak datang dalam acara buka bersama itu.
karena dia mengatakan bahwa dia tidak nyaman bertamu ke rumah orang dalam keadaan letih. Nah lho? piye to ki? lha mboh. hehehe.

walaupun berakhir dengan miscommunication, walaupun berakhir dengan ke terburu-buruan meninggalkan forum buka bersama itu, saya menikmati acara buka bersama ini. karena buka bersama kali ini adalah buka bersama saya dengan rekan-rekan di Montreal untuk yang pertama dan dan terakhir kalinya di tahun 1423 h ini. Entahlah ramadhan kali ini, rasanya ada saja yang membuat saya tidak bisa menghadiri acara buka bersama. Anak-anak saya pas tidak enak badanlah, kepergian saya ke Alaska lah sehingga sayapun tidak sempat mengundang buka puasa di apartemen saya.

tapi Insya Alloh, lebaran tahun ini rencananya teman-teman akan berkumpul di rumah saya setelah menjalankan sholat Ied.

Idul fitri sebentar lagi datang menyapa.
maafkan kami bila ada salah dan kata.

---- Aly, Labibah, Yasa dan Danial----

Words from Danial

Friday, November 21, 2003

I smell something, mommy
Its mie*
wow its yummy
I am so hungry, mommy
Could you please give me mie?

*mie disini, maksudnya noodle.

Trip to Anchorage, Alaska ( 4 - 9 Nopember 2003)

Thursday, November 20, 2003

Ketika saya ditawari untuk menjadi salah seorang pembicara di Middle East Librarians Association (MELA), perasaan saya waktu itu adalah antara senang dan bingung.

Yang membuat saya senang adalah, MELA annual meeting yang diadakan dalam rangka Middle East Studies Association (MESA) adalah salah satu forum international yang mempertemukan para librarian di seluruh dunia yang berkecimpung dalam urusan timur tengah. sedangkan MESA sendiri adalah forum international yang mempertemukan para scholar yang ahli di bidang kajian timur tengah. Bagaimana saya tidak merasa terhormat kalau saya di suruh menjadi pembicara di forum itu.
Yang membuat saya bingung adalah, konferensi ini adalah konfrensi tingkat internasional pertama yang menempatkan saya sebagai pembicara ( seharusnya konfrensi internasional kedua bagi saya kalau saja konfrensi SEC/AAS-- yang berlangsung di Chattanoga, Tenesse tahun 2002 yang lalu, saya bisa mendapatkan VISA Unites States. Tapi kenyataannnya saya tidak bisa mendapatkan Visa tersebut sehingga saya cuman bisa mengirimkan paper saya "Library Education in Indonesia: Problems and Alternative Solutions", untuk di bacakan oleh moderator). Nah, karena akan menjadi pengalaman saya yang pertama dalam mempresentasikan makalah di forum ilmiah internasional segede MELA dan MESA dan status saya adalah sebagai guest speaker, terus terang saya nervous. Akhirnya karena didorong oleh semua pihak, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Anchorage, Alaska, menghadiri forum itu.

Makalah sudah saya buat, Visa Us sudah di tangan, tiket pesawat dengan rute penerbangan yang berbelit belit sudah dipesan dan mental anak-anak dan suami sudah disiapkan untuk ditinggal selama 6 hari, berangkatlah saya dengan gaya ala 'pengelana'. dua tas ransel berisi pakaian dan makanan rendang, roti tawar dan kurma, incase makanan di luar sono tidak cocok), jaket item dan sepatu boat. Ketika saya take off dari Montreal, salju sudah turun.

Montreal - Philadelphia berjalan dengan lancar. Begitu di Philadelphia, saya langsung ke terminal C dan menyadari kalau penerbangan saya ke Denver di delayed *gleg* dan diganti ke Washington -- Seatle -- Anchorage. saya pasrah diterbangkan dengan rute yang panjang itu. saya usahakan tidur di pesawat dan berusaha untuk tetap puasa. di dalam pesawat Washington -- Seatlle, saya berbuka puasa dengan menu pasta.

Seattle - Anchorage, memakan waktu kurang dari 3 jam dan akhirnya sampailah saya di Anchorage -- the gate of Alaska--, langsung mendatangi tourist information, mencari tempat2 yang menarik untuk di kunjungi sebelum chek in di Hilton Hotel yang disediakan panitia.

Anchorage waktu itu tidak sedingin yang saya bayangkan. suhu udaranya hanya 8 derajat celcius, lebih hangat dua derajat dibanding Montreal dan belum berselimut salju. Sistem transportasi di Anchorage ternyata cukup rapi. Ada bus umum (people mover namanya) yang harus membayar $1.30 per boarding atau $2.30 unlimited boarding perday. ( kalau di montreal $ 2.30 per boarding atau $14 weekly atau $ 54 monthly sedangkan untuk pelajar berumur dibawah 25 taun dan senior, berumur 65 tahun ketas, tiket tranportasi bus dan metronya separo dari harga tiket tersebut). nah saya langsung membeli tiket yang untuk unlimited boarding. Pergilah saya ke Downtown. Pada tiap pemberhentian bis, rekaman suara yang menjelaskan dimana kita berada selalu terdengar. dan setiap kali ada penumpang yang menarik bel tanda berhenti, rekaman suara selalu bilang:" stop requested" menjadikan suasana ramah dalam bis ditambah dengan keramahan sopir dan adanya brosur2 tentang Alaska yang disediakan di bis baik gratisan maupun sedolaran.

Akhirnya sampelah saya di fourth avenue, di mana saya bermaksud menyewa Trolly untuk keliling Anchorage. Bersama seorang ibu yang datang dari Chicago dan supir troly yang juga berperan sebagai guide, saya naik trolly keliling kota Anchorage. Sopir trolly tak henti hentinya menerangkan tempat2 yang kita kunjungi. ada tourist center yang mempunyai bangunan berbasis "wood", ada musium2, ada tempat reservasi moose, ada perkampungan helikopter yang disewakan untuk turis2 yang tertarik terbang ke pedalaman Alaska, ada perkampungan "gigitan nyamuk" dan reservasi orang2 indian.

setelah keliling-keliling kota, saya mampir ke penyewaan komputer untuk mengedit paper saya. wah mbayarnya mahal semenit $ 0.85 sen sudah plus Internet acceess. Tetapi tetap saya sewa juga demi keberhasilan presentasi saya. kalau tahu mahal begini, saya kan bisa bawa laptop. setelah beres kerjaan edit mengedit, saya chek in ke hotel dan telpon2 ke Montreal dan tertidur dengan pulasnya.

Besoknya (6 Nopember 2003) saya bangun, terus ke ruang pendaftaran, mengambil paket konfrensi serta mencari ruangan tempat MELA mengadakan meeting. Ketemu ibu Leysle yang suka email2 an dengan saya dan Christina, seorang PhD student dari Arizona yang ditugaskan sebagai guide saya selama di Anchorage. Pertemuan MELA sendiri sangat menarik, ada presentasi tentang laporan utusan MELA yang Di IRAK yang menggambarkan betapa banyak perpustakaan yang hancur akibat perang, ada presentasi OASIS tentang sharing Middle East Collection online, penghargaan kepada penulis paper tentang "Middle East Library" yang jatuh kepada Anna, seorang mahasiswi graduate school of library science di University of British Columbia, Canada dan juga alih jabatan dari ketua lama DR. David Hirsch (UCLA) ke LeysLie Wilkins (Harvard), sebagai ketua baru.

Lunch time saya meoloskan diri ke kamar. soalnya takut ngiler dengan makanan yang ada. Rupanya ibu Lesly menyadari kalau saya puasa sehingga dia menugaskan petugas hotel untuk membungkus dan mengirim jatah makanan saya pada saat berbuka puasa.

Jam 02.00 siang waktu Anchorage panel yang bertema The View from the East : Middle East Library Collections in East, South, and Australasia dimulai. Mahboubeh Kamalpour dari University of Melbourne, Australia mempresentasikan kondisi koleksi timur tengah perpustakaan di Australia dan New Zealand. DR. Cheng Hong dari Chinese Academy of Social Sciences mempresentasikan tentang pusat2 kajian dan koleksi timur tengah di negri China, DR. Omar Khalidi dari Massachusetts Institute of Technology menceritakan tentang situasi dan koleksi Middle east yang ada di India. kemudian saya sendiri menceritakan tentang sejarah hubungan bangsa Indonesia dengan negara2 timur tengah serta Koleksi klasik timur tengah yang ada di Indonesia, dengan referensi khusus perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, DR. Toro Miura dari Ochanomizu University menceritakan sejarah kajian timur tengah di jepang, dan DR. Byoung Joo Hah dari Pusan University of Foreign Studies bercerita tentang Middle east studies di Korea. Para peserta konferensi nampaknya sangat terkesan dengan presentasi kami terbukti dengan ucapan selamat dan pujian yang tak henti-hentinya mengalir setiap kali kami bertemu mereka. Tukar menukar kartu namapun dilakukan. urusan networking akademikpun mulai di rintis.

Presentasi sukses. malamnya saya mengikuti MECAP (Middle East Collection Acqusition Project) meeting yang mendatangkan pembicara dari Library of Congress.

Tanggal 7 Nopember 2003, saya pergi ke Pameran buku-buku timur tengah. Wah, banyak buku-buku bagus. pingin beli semuanya. tapi inget duit di kantong tidak cukup *sambil berharap mudah2an buku2 tersebut akan ada di Islamic studies Library of Mcgill university. Karena ingat suami, saya membeli buku "Under the naked Sky" anthology cerpen dari arabic World. kata mas Aly sih mau diterjemahkan. tapi entah kapan.hehe. *Nanti kapan2 antologi reviewnya di tarok blog ya mas *

Siangnya, saya mampir mau mampir ke counter festival film middle east, eh ternyata sore itu di cancel filemnya karena akan ada Presindential address oleh Lisa Anderson yang sangat menarik untuk di simak juga di lanjutkan dengan pemberian award kepada Para Doktor yang desertasi tentang Middle eastnya dianggap excellence. *wow menakjubkan*

Setelah itu seluruh peserta konfrensi di undang untuk mengikuti "ramah tamah" di Alaska Heritage Center" lengkap dengan makanan khas dan pertunjukan2 oleh orang-orang indian. di Toko souvenirnya, saya membeli dua buah doll bertuliskan Alaska buat Yasa dan Danial serta sebuah sebuah Mug buat mas ALy.

Pas resepsi itu, saya ketemu ibu Dr Sri Mulyati dari UIN Jakarta yang besoknya akan mempresentasikan tentang Sufi nahsyabandiyah di Montreal ( dari daftar peserta MESA annual meeting 2003, saya tahu ada 3 orang Indonesia yang presentasi di Forum MESA ini yaitu, saya di forum MELA, ibu Sri di forum Sufism, dan Dr Yudian wahyudi, dosen IAIN Yogya yang sedang posdok di Harvard University di Forum Islamic Law -- sayang mas Yudian tidak bisa datang sehingga papernya saja yang bisa di simak lewat moderator forum itu *hallo mas yudian *waves* makasih atas rekomendasinya sehingga saya bisa ke Alaska ya?)
Tanggal 8 November 2003, saya mengikuti panel tentang perkembangan Internet di Iran, diskusi tentang E-book, Distance Learning, dan forumnya ibu Sri, yaitu suffism. wow what great presenters!

malamnya saya harus pulang ke Montreal. Kali ini penerbangan saya bareng DR muhammad al Faruqi sampai di Seattle. Di bandara Anchorage, saya sempat ke pemeriksaan random, suruh copot sepatu segala. tapi karena saya orang baik-baik, akhirnya lolos juga.

Seatle-Philadelphia-Montreal lancar-lancar saja. Alhamdulilah. sampai di Apartemen, disambut Danial dan Yasa yang baru saja diajak buka bersama di rumah om Zuhdi, Tante Nining, dan dek Izza. danial sempet sakit ketika saya berada di Alaska. duh, tapi mas Aly memang ayah teladan sehingga keadaan rumah tetap aman, kasih sayang tetap ada walaupun dia sendiri harus bekerja dan antar jemput Yasa dan Danial ke sekolah.

Thanks to
* DR. Yudian Wahyudi for the recommendation
*MELA for the accomodation
*IAIN Indonesia Social Equity Project for the flight tickets

.

*******************************
eh Ps: Selamat Ulang tahun buat uyet. 18 Nopember 2003. Semoga bahagia selalu memayungimu. kasih sayang selalu merangkulmu. dan segala keinginan selalu ada di tanganmu. *peluk cium dari Beranda Rumah Kita*

Selamat ulang tahun, Mah

Wednesday, November 19, 2003

Selamat ulang tahun, mah
delapan tahun sudah jarak itu ada
dan aku masih saja
tidak mampu menggabungkan dunia kita

Selamat ulang tahun, mah
aku tahu aku telah berdosa
memilih jalan berbeda
memotong tali silsilah kita

Selamat ulang tahun, mah
aku tidak bermaksud melukai semua
aku hanya memilih dia
yang pada suatu masa
engkau akan tau
betapa baiknya dia

Selamat ulang tahun, mah
aku tahu engkau bahagia di sana
bersama AbiQ dan Rahman
serta dua bunga penghias istana

Selamat ulang tahun, mah,
lihatlah betapa bodohnya aku
hingga aku tak hapal seluruh nama
anak-anak yg lahir dari rahimmu.

Selamat ulang tahun, mah
aku rindu canda kita
semasa kanak-kanak
berbaju bermotif broklat
berambut model kapal
bersepatu marmut
akupun cemberut
ketika kau menyematkan pita di rambut
menyemprotkan parfum
di daun telinga
telapak tangan
dan sekujur tubuhku
ah, kau kan tau aku tidak suka
dengan dandanan dandanan seperti itu.

Selamat ulang tahun, mah
aku tau engkau juga rindu padaku
sebagaimana kulihat air di kelopak matamu
ketika aku bertamu di sekolahmu


Selamat ulang tahun, mah
semoga engkau selalu bahagia
salam dari Mas Aly, Yasa dan danial buat Ammi dan Ammah
di Pontianak sana
aku bermimpi, suatu saat nanti anak2 kita akan bermain bersama
tanpa ada jarak.
mungkinkah?




Metro dan bis mogok

Tuesday, November 18, 2003

Sejak kemarin
Metro dan Bis umum di Montreal mogok
hingga kita harus menyesuaikan jadwal bepergian
dengan jadwal keberadaan metro dan bus kalau tidak mau jalan kaki atau naik taxi ke rumah.

Dimana-mana para penggemar bus dan metro line up
seolah takut tidak kebagian angkutan.
seorang ibu bercerita bahwa kemarin dia diturunkan ditengah jalan
hanya gara2 sudah jam 09.00 am, batas waktu antara "service available" dan "service unavailable" di pagi hari sudah habis.

Week end ini bakalan ngendon di rumah
karena bus dan metro sama sekali tidak akan beroperasi.
padahal akan ada acara buka bersama di Rumah mbak menuk
yang katanya akan membuat tauto pekalongan.

Fyi, postingan ini bukan puisi bukan pula cerpen atawa artikel
tapi hanya semacam grenengan.

Thursday, November 13, 2003

Nightmare

Di ujung matamu kutemukan beribu algojo dengan pedang berceceran darah
kaki tangan mereka berdansa mendorongku ke neraka
pasrah dibakar tungku berapikan ilmu peradaban

Di ujung lidahmu kutemukan pisau lipat
siap merobek - robek jalinan kata -kata
yang kutata dengan tangisan darah
menggelepar dan meronta
tapi berakhir dengan tusukan yang menghunjam malam-malamku
dengan mimpi buruk tentang kebodohan.

Diujung senyummu kutemukan kemunafikan
berpijar dengan keangkuhan
bertahta dengan kepedihan
bermuara kebisuan
kecemasan dan ketidakberdayaan

Wednesday, November 12, 2003

Ramadhan di Musim Gugur

Ramadhan datang di musim gugur
Bermahkotakan kasih sayang
Bersayapkan ampunan
Bermandikan hujan air mata taubat
Membisikkan tasbih lewat angin yang menjatuhkan dedauan
Membentuk sketsa malaikat yang yang sedang bermunajat
Mengeja ayat-ayat Tuhan yang makrifat

Ramadhan datang di musim gugur
Melantunkan kasidah diantara pepohonan berwarna pelangi
Menggelar tarawih bersajadahkan daun-daun maple
Membungkus tubuh dengan jacket berbulu doa
Pasrah menyambut musim-musim MU

Ramadhan datang di musim gugur
Menghidangkan setangkup bagel
dan segelas cappuccino sebagai melodi sahur
menyongsong subuh dengan dengan tafakur


Ramadhan datang di musim gugur
Disini, aku melahap sandwich ifthaarku
Bearoma syukur
Disana, di negeri katulistiwaku
Tak ada ada musim gugur itu
Tapi selalu saja ada yang gugur


Montreal, 2003

Tulalit

Cintaku adalah ketidakbutuhanmu
Air mataku adalah tebaran pesonamu
Hadirku adalah ketiadaanmu
Perhatianku adalah ketidakpedulianmu

Ketidakbutuhanmu adalah lukaku
Tebaran pesonamu adalah muakku
Ketidakadaanmu adalah cemburuku
Ketidakpedulianmu adalah gugatanku

Lukaku adalah keberadaanmu
Muakku adalah bahagiamu
Cemburuku adalah benih kemarahanmu
Gugatanku adalah mabukmu

Keberadaanmu adalah diamku
kebahagiaanmu adalah tangisku
Benih kemarahanmu adalah kata-kataku
Mabukmu adalah teriakku

Diamku adalah pesta poramu
Tangisku adalah kebencianmu
Kata-kataku adalah genderang perangmu
Teriakku adalah kiamatmu

Pesta poramu adalah sesakku
Kebencianmu adalah sakitku
Genderang perangmu adalah langkah surutku
Kiamatmu adalah matinya jiwaku

Sesakku adalah nikmatmu
Sakitku adalah adalah birahimu
Langkah surutku adalah senggamamu
matinya jiwaku adalah orgasmemu

Montreal, 2003

Potret Musim Gugur

Hatiku semerah saga
Ketika kukumpulkan daun- daun maple berwarna jingga
Kutata dengan airmata
Kilaunya menerobos apartemen empat kosong dua

Hatiku semerah saga
Ketika seekor tupai bertandang di ambang jendela
Menangkap basah mukaku yang penuh dengan jelaga
Menghidangkan barbeque dan pumpkin pie berhiaskan doa

Hatiku semerah saga
Ketika sepasang merpati memadu asmara
Berpagutan ditengah dedauan yang berguguran
Berencana membangun sarang atas nama cinta

Hatiku semerah saga
Ketika terhempas deru angin yang merontokkan pepohonan
Topeng halloweenkupun terlepas
Tersingkap sketsa di wajahku
Tua dan sia-sia
Tanpa cinta !

Montreal, 2003


Belenggu

Aku tahu
Aku mencintaimu
Karena itu aku rela dibelenggu
Oleh adat yang belagu

Aku tahu
engkau mencintaiku
Tapi aku tahu engkau tidak pernah bangga memilikiku
Apalagi memperhatikanku

Aku tahu
Cintaku adalah belenggu
Kalau itu membuatmu terganggu
Tolong tinggalkan aku !

Montreal, 2003



*ps: yg punya cerita2 di dunia maya, mohon di share ke danial_yasa@yahoo.com yah.
Saya sedang mencari insiprasi untuk kumcer saya.

© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.