Potret Sebuah Negeri
Thursday, February 26, 2004
Ketika pakaian sudah menjadi raja
anak-anak jalanan yang telanjang menjadi tidak berharga
Ketika tanda tangan penguasa sudah menjadi Berhala
orang-orang jelata menjadi budak di neraka
Inilah negeriku
negeri surga bagi para raja diraja
negeri nereka bagi para jelata
Entah kenapa setiap kali pesawat hendak mendarat di Bandara Soekarno- Hatta Jakrta hatiku berdebar-debar tidak karu2an. Melebihi debaran-debaran ketika sedang jatuh cinta. Bayangan kejahatan, Pungutan liar, perbedaan perlakuan karena status sosial selalu ada di benakku. Dan nyatanya memang banyak hal yang membuatku miris pernah menghampiriku di bandara Soekarno Hatta ini.
Suatu saat aku pernah pernah berhadapan dengan petugas bandara yang tiba-tiba saja hendak memaksaku untuk membuka seluruh isi koperku. Tetapi ketika melihat paspor biruku, si bapak setengah baya yang tadi memaksaku bermuka masam tiba-tiba berubah menjadi manusia ramah. Paspor biru memang kadang-kadang sakti. Tetapi bukankah sudah seharusnya seorang petugas bandara ramah kepada siapa saja tanpa pandang bulu? apalagi kondisi orang bepergian sangatlah rentan.
Pada saat yang lain, aku mengantri untuk check in di sebuah Counter penerbangan Indonesia. Di belakang saya ada beberapa TKW yang akan kembali ke kampung asalnya setelah memeras keringat di negeri orang. Petugas Counter mengatakan bahwa aku tidak bisa melanjutkan terbang ke Yogyakarta karena tiketku belum OK. Dengan kondisi badan yang capek, saya segera mengontak Project yang memberiku beasiswa serta sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk urusan tiketku. Staff project mengatakan mungkin telah terjadi kesalah pahaman. Samar-samar kulihat seseorang berdasi rapi langsung membeli tiket disitu dan bisa berangkat saat itu juga. Tetapi aku sudah penat. Aku Ingin merebahkan tubuh setelah 26 jam terbang tanpa harus mengeluarkan barang-barang bawaanku yg terdiri dari 2 kardus perangkat komputer dan 2 koper besar pakaian, buku2 dan oleh-oleh. Project akhirnya memberiku sebuah kamar di sebuah hotel yang ada di bandara soekarno Hatta. Aku teridur nyenyak disitu. Besoknya Aku kembali chek in di Counter yang sama. Para TKW ternyata mengalami nasib serupa denganku. Bedanya mereka harus tidur di ruang tunggu bandara. Ketika antri, petugas meminta para TKW itu membayar uang cancelation sebanyak 25% harga Ticket karena mereka tidak terbang kemaren sore. Aku yang sudah capek dan muak dengan semua ini menjadi naik darah serta merta aku bilang:" 25 % apalagi pak?" mereka sudah disini sejak kemarin sore dan petugas mengatakan tiketnya belum OK" sekarang mereka datang setelah Tiket di OKE kan, kenapa harus membayar lagi?". Mau saya tulis Di Koran pak?"
Serta merta Petugas itu menjadi lunak dan para TKW itu terbebas dari bayaran 25 %. Dan mereka berterimakasih kepadaku dan rame2 membantu mendorong tas bawaanku. Aku sangat senang sekali bisa membantu TKW itu, pahlawan yang banyak mendatangkan devisa bagi negara ini tapi selalu saja menjadi bulan-bulanan birokrasi. Ternyata lumayan di Negeri ini Koran masih ditakuti.
Peristiwa lain yang menimpaku dibandara Soekarno Hatta adalah ketika aku harus pulang ke Yogya dengan menggunakan pesawat kelas Bussiness. Kebetulan hari itu tiket pesawat kelas ekonomi dari Jakarta ke Yogya sdah habis. Karena saya harus berada di Yogyakarta saat itu juga karena Ibu saya meninggal, Project terpaksa memberiku Bussiness Ticket.
Dengan wajah yang lusuh karena menangis kehilangan ibu. Dengan Pakaian jeans IKEDA Overall yang sudah tidak karuan bentuknya. Kerudung hitam di tali kebelakang, aku menenteng ransel tuaku ke LOUNGE untuk kelas bussiness. Petugasnya dengan tidak memandang wajahku langsung berkata ;
" mbak, kalo mau menunggu pesawat silahkan duduk di tempat itu" katanya sambil menunjuk bangku kelas ekonomi.
" Tapi saya ingin masuk ke situ" kataku sambil menunjuk ruang tunggu ekskutif itu. " kayaknya tempat duduknya empuk dan ada makannya tuh"
"Tapi tempat ini khusus untuk kelas bussines mbak" katanya dengan nada tinggi " mbak harus mempunyai undangan khusus dan para TKW lainya juga biasanya duduk di bangku yang sana mbak bukan di ruangan ini"
" bagaimana kalau saya punya ini?" kataku sambil menunjukkan Tiket bussines dan undangannya. "apa boleh saya, TKW ini boleh masuk kesitu pak?" kata saya dengan gaya memelas.
"oh silakan bu" nada suaranya berubah. Dia langsung tergopoh2 membawakan ranselku. Dan dia jadi bercerita banyak denganku. Ternyata lembaran tiket eksekutif bisa mengubah sikap seseorang di negeri ini. Dan bandara soekarno hatta adalah potret kecil sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Didalam pesawatpun kita bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Seorang aktivis perempuan mengeluh ketika dia meminta majalah kepada seorang pramugari, pramugari dengan entengnya mengatakan bahwa koleksi yang ada dipesawat itu adalah koleksi yang menggunakan bahasa Inggris. Tentu saja hal itu merupakan pelecehan terhadap aktivis perempuan yang sudah malang melintang mengikuti konfrensi International ini. Dia dianggap tidak bisa berbahasa inggris karena dia hanya mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja.
Akhirnya suatu kali sebuah organisasi menemukan cara membooking tiket pesawat agar para anggotanya di hormati oleh petugas2 di pesawat. Organisasi itu mencantumkan gelar DR pada masing-masing tiket pesawat anggotanya yang akan keluar daerah dan mencantumkan gelar Amd pada seorang kawan saya. Hasilnya sangat mengagumkan!
Saya dengan jeans kesayangan dan ransel tua di hormati sepanjang perjalanan menuju Lombok. Dan para pramugari dan pramugara nya tersenyum terus kepada saya dan kawan saya. Ketika kita mau keluar dari pesawat seorang pramugara dengan senyumnya yang ramah dan tulus mengatakan: "Selamat jalan ibu DR Labibah". Saya terbahak-bahak menertawakan ketidaktulusan mereka. dengan gelar-gelaran sampai nama saya pun masih dia ingat. Sedangkan teman saya yang sebenernya sudah Master tetapi di tiket mencantumkan Amd tidak pernah di gubris keberadaannya di pesawat itu dan dia manyun di sepanjang perjalanan.
Cukup sekali saja menggunakan Doktor "pura2" tapi jelas terbukti bahwa Pencantuman gelar amat sangat penting untuk mendapatkan pelayanan yang bagus di negeri ini. Mudah-mudahan saya benar-benar bisa menjadi DR betulan ya bukan hanya doktor doktoran agar bisa mendapatkan pelayanan ramah di pesawat.
Ps: SElamat Ulang tahun Pernikahan ke empat Tira dan Oliver
Semoga senantiasa teduh dalam biduk keluarga yang sakinah.
SElamat Ulang tahun Daniel! Semoga hari harimu selalu indah dan bahagia bersama papa dan mama Ita
Beberapa hari yang lalu, saya masak Lasagna ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
anak-anak jalanan yang telanjang menjadi tidak berharga
Ketika tanda tangan penguasa sudah menjadi Berhala
orang-orang jelata menjadi budak di neraka
Inilah negeriku
negeri surga bagi para raja diraja
negeri nereka bagi para jelata
Entah kenapa setiap kali pesawat hendak mendarat di Bandara Soekarno- Hatta Jakrta hatiku berdebar-debar tidak karu2an. Melebihi debaran-debaran ketika sedang jatuh cinta. Bayangan kejahatan, Pungutan liar, perbedaan perlakuan karena status sosial selalu ada di benakku. Dan nyatanya memang banyak hal yang membuatku miris pernah menghampiriku di bandara Soekarno Hatta ini.
Suatu saat aku pernah pernah berhadapan dengan petugas bandara yang tiba-tiba saja hendak memaksaku untuk membuka seluruh isi koperku. Tetapi ketika melihat paspor biruku, si bapak setengah baya yang tadi memaksaku bermuka masam tiba-tiba berubah menjadi manusia ramah. Paspor biru memang kadang-kadang sakti. Tetapi bukankah sudah seharusnya seorang petugas bandara ramah kepada siapa saja tanpa pandang bulu? apalagi kondisi orang bepergian sangatlah rentan.
Pada saat yang lain, aku mengantri untuk check in di sebuah Counter penerbangan Indonesia. Di belakang saya ada beberapa TKW yang akan kembali ke kampung asalnya setelah memeras keringat di negeri orang. Petugas Counter mengatakan bahwa aku tidak bisa melanjutkan terbang ke Yogyakarta karena tiketku belum OK. Dengan kondisi badan yang capek, saya segera mengontak Project yang memberiku beasiswa serta sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk urusan tiketku. Staff project mengatakan mungkin telah terjadi kesalah pahaman. Samar-samar kulihat seseorang berdasi rapi langsung membeli tiket disitu dan bisa berangkat saat itu juga. Tetapi aku sudah penat. Aku Ingin merebahkan tubuh setelah 26 jam terbang tanpa harus mengeluarkan barang-barang bawaanku yg terdiri dari 2 kardus perangkat komputer dan 2 koper besar pakaian, buku2 dan oleh-oleh. Project akhirnya memberiku sebuah kamar di sebuah hotel yang ada di bandara soekarno Hatta. Aku teridur nyenyak disitu. Besoknya Aku kembali chek in di Counter yang sama. Para TKW ternyata mengalami nasib serupa denganku. Bedanya mereka harus tidur di ruang tunggu bandara. Ketika antri, petugas meminta para TKW itu membayar uang cancelation sebanyak 25% harga Ticket karena mereka tidak terbang kemaren sore. Aku yang sudah capek dan muak dengan semua ini menjadi naik darah serta merta aku bilang:" 25 % apalagi pak?" mereka sudah disini sejak kemarin sore dan petugas mengatakan tiketnya belum OK" sekarang mereka datang setelah Tiket di OKE kan, kenapa harus membayar lagi?". Mau saya tulis Di Koran pak?"
Serta merta Petugas itu menjadi lunak dan para TKW itu terbebas dari bayaran 25 %. Dan mereka berterimakasih kepadaku dan rame2 membantu mendorong tas bawaanku. Aku sangat senang sekali bisa membantu TKW itu, pahlawan yang banyak mendatangkan devisa bagi negara ini tapi selalu saja menjadi bulan-bulanan birokrasi. Ternyata lumayan di Negeri ini Koran masih ditakuti.
Peristiwa lain yang menimpaku dibandara Soekarno Hatta adalah ketika aku harus pulang ke Yogya dengan menggunakan pesawat kelas Bussiness. Kebetulan hari itu tiket pesawat kelas ekonomi dari Jakarta ke Yogya sdah habis. Karena saya harus berada di Yogyakarta saat itu juga karena Ibu saya meninggal, Project terpaksa memberiku Bussiness Ticket.
Dengan wajah yang lusuh karena menangis kehilangan ibu. Dengan Pakaian jeans IKEDA Overall yang sudah tidak karuan bentuknya. Kerudung hitam di tali kebelakang, aku menenteng ransel tuaku ke LOUNGE untuk kelas bussiness. Petugasnya dengan tidak memandang wajahku langsung berkata ;
" mbak, kalo mau menunggu pesawat silahkan duduk di tempat itu" katanya sambil menunjuk bangku kelas ekonomi.
" Tapi saya ingin masuk ke situ" kataku sambil menunjuk ruang tunggu ekskutif itu. " kayaknya tempat duduknya empuk dan ada makannya tuh"
"Tapi tempat ini khusus untuk kelas bussines mbak" katanya dengan nada tinggi " mbak harus mempunyai undangan khusus dan para TKW lainya juga biasanya duduk di bangku yang sana mbak bukan di ruangan ini"
" bagaimana kalau saya punya ini?" kataku sambil menunjukkan Tiket bussines dan undangannya. "apa boleh saya, TKW ini boleh masuk kesitu pak?" kata saya dengan gaya memelas.
"oh silakan bu" nada suaranya berubah. Dia langsung tergopoh2 membawakan ranselku. Dan dia jadi bercerita banyak denganku. Ternyata lembaran tiket eksekutif bisa mengubah sikap seseorang di negeri ini. Dan bandara soekarno hatta adalah potret kecil sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Didalam pesawatpun kita bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Seorang aktivis perempuan mengeluh ketika dia meminta majalah kepada seorang pramugari, pramugari dengan entengnya mengatakan bahwa koleksi yang ada dipesawat itu adalah koleksi yang menggunakan bahasa Inggris. Tentu saja hal itu merupakan pelecehan terhadap aktivis perempuan yang sudah malang melintang mengikuti konfrensi International ini. Dia dianggap tidak bisa berbahasa inggris karena dia hanya mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja.
Akhirnya suatu kali sebuah organisasi menemukan cara membooking tiket pesawat agar para anggotanya di hormati oleh petugas2 di pesawat. Organisasi itu mencantumkan gelar DR pada masing-masing tiket pesawat anggotanya yang akan keluar daerah dan mencantumkan gelar Amd pada seorang kawan saya. Hasilnya sangat mengagumkan!
Saya dengan jeans kesayangan dan ransel tua di hormati sepanjang perjalanan menuju Lombok. Dan para pramugari dan pramugara nya tersenyum terus kepada saya dan kawan saya. Ketika kita mau keluar dari pesawat seorang pramugara dengan senyumnya yang ramah dan tulus mengatakan: "Selamat jalan ibu DR Labibah". Saya terbahak-bahak menertawakan ketidaktulusan mereka. dengan gelar-gelaran sampai nama saya pun masih dia ingat. Sedangkan teman saya yang sebenernya sudah Master tetapi di tiket mencantumkan Amd tidak pernah di gubris keberadaannya di pesawat itu dan dia manyun di sepanjang perjalanan.
Cukup sekali saja menggunakan Doktor "pura2" tapi jelas terbukti bahwa Pencantuman gelar amat sangat penting untuk mendapatkan pelayanan yang bagus di negeri ini. Mudah-mudahan saya benar-benar bisa menjadi DR betulan ya bukan hanya doktor doktoran agar bisa mendapatkan pelayanan ramah di pesawat.
Ps: SElamat Ulang tahun Pernikahan ke empat Tira dan Oliver
Semoga senantiasa teduh dalam biduk keluarga yang sakinah.
SElamat Ulang tahun Daniel! Semoga hari harimu selalu indah dan bahagia bersama papa dan mama Ita
Beberapa hari yang lalu, saya masak Lasagna ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
Dering Telepon itu.....
Monday, February 23, 2004
Ada yang membiru di hatiku
Ketika engkau menyajikan sebongkah gelisah yang menjadi batu
lewat parau suaramu
Aku, anakmu selalu saja tak paham dengan kasih sayangmu
sehingga membiarkan kerinduanmu
menjadi dingin dan beku
Hari ini abah menelponku dari Pekalongan. hal yang rutin dilakukan kalau aku lama tidak menelponnya.
Dan seperti biasa aku selalu saja terkejut mendengar suara abahku itu. Aku selalu saja deg2an menerima telpon dari Indonesia. Maklumlah telpon dari Indonesia ke canada merupakan sesuatu yang mahal. Jadi aku selalu mengira pasti ada hal-hal yang penting terjadi. Jadi aku selalu saja tidak bisa menahan teriak kagetku ketika mendengar suara abah di telpon. dan aku selalu bilang; "Ha?" Ada apa abah?" dan dari sebrang abah selalu menjawab; "tidak ada apa2." dia diam sejenak " Lama kamu gak telepon" Katanya lirih. Dan aku seperti biasa dengan rasa bersalah yang tinggi aku meminta abah untuk menutup telpon dan aku kemudian menelpon beliau dari Montreal.
Telpon dari Montreal ke Indonesia terkadang susah dan kalau sudah empat kali mendial telpon, biasanya aku malas melanjutkan lagi. Dan itulah yang kujadikan alasan kenapa aku jarang menelpon ke Indonesia. Sebuah alasan yang sebenernya bisa gugur kalau saja aku mau sedikit bersabar. Dan kalau abah sudah menelpon begini, aku sangat merasa bersalah dan aku merasa sebagai anak yang tidak tahu diri karena menelpon orang tuapun aku sudah abai.
Abahku sebenarnya tidak pernah menuntut banyak. Dia hanya ingin kepastian bahwa aku benar2 baik-baik saja di negeri orang. Sehingga telpon dengannya juga tidak pernah berlangsung lama. Paling lama 10 menit dan dia dengan khawatir akan berkata; "sudah dulu ya ibah?" abah baik-baik saja dan kamu disitu baik2 saja. Itu yang penting. dan jangan sampai rekening telponmu membengkak hanya gara2 ini". Aku mencoba meyakinkannya bahwa telpon dari Montreal ke Indonesia hanya $5 dollar untuk 60 menit. Tetapi, itulah abah, tetap tidak mau merepotkan anak-anaknya. dan kalau abah sudah menelpon begini aku jadi berfikir betapa tidak tahu dirinya aku sehingga menelpon yang maksimal hanya mengahbiskan $5 saja aku sudah tidak sempat.
Abahku ini sosok keras dan ditakuti dilingkungannya. Mungkin itulah sebabnya, aku dan kakak2ku kurang begitu dekat dengan abahku. Dan anak-anak dikampungku juga merasa segan dengan abahku karena abah tidak akan segan-segan memberitahu siapapun dengan nadanya yang keras kalao dirasa apa yang dilakukan orang-orang itu tidak benar.
Tetapi abahku orang yang konsekwen dengan apa yang dikatakan. dia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak lakukan. Dan abahku seorang yang jujur saking jujurnya pernah suatu kali dia tidak bisa tidur karena salah mengembalikan "uang kembalian" kepada seorang pembeli di Toko minyak wanginya. Untungnya dua minggu kemudian pembeli itu datang kembali ke toko minyak abahku dan abahku bisa mengembalikan uang panas itu. dan kamipun lega karena abah bisa tidur sesuai dengan jadwal tidurnya. Tahukan anda berapa uang yang harus dikembalikan? 50 rupiah! dan si pembeli juga tidak merasa kalau abahku itu salah dalam menghitung kembalian.
Abahku sosok yang disiplin. Hidupnya sangat teratur. Jam 4 pagi dia bangun, mengaji, memukul kentongan musholla di kampungku, mengimami sholat subuh, kembali kerumah untuk merebus air dan menyiapkan kopi untuk ibu dan bu yah, masing-masing segelas susu untuk aku, dan kakak2 ku. Setelah semua tersaji, dia dengan tanpa alas kaki akan berjalan-jalan pagi menyusuri persawahan di Setono. Jam 7 pagi sudah sampai di rumah kemudian Sarapan,mandi, sholat dhuha dan berangkat ke pasar untuk menjaga sebuah toko minyak wangi. jam 2 siang dia pulang dari tokonya. Makan siang, Tidur siang, Sholat asar, mendengarkan berita radio atau menyetel musik gambus. Ketika maghrib tiba, dia akan pergi ke Musholla untuk mengimami sholat. Selepas Maghrib, dia pulang kerumah untuk mengaji serta menyuruh anak-anaknya mengaji dan menepukkan tangan tiga kali sebagai tanda bahwa kami anak2nya harus menghentikan ngaji individualnya dan berkumpul untuk membaca ratib hadad setiap harinya ditambah mengaji Yasin dan tahlilan pada setiap malam jum'at. Ketika waktu isya datang abah akan ke musholla lagi untuk memimpin sholat isya dan pulang kerumah untuk makan malam, mebaca buku. dan tepat pukul sembilan malam. kita semua harus sudah mematikan lampu untuk tidur.
Dulu aku sempat merasa menjadi anak paling malang sedunia karena aku selalu tidak bisa keluar malam untuk sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-teman ABgku. dan merasa sedih sekali ketika teman-teman kampung menjulukiku sebagai "anak pingit". Tetapi lambat laun aku mulai mngerti bahwa hal itu dilakukan abahku untuk menjaga puteri2nya agar tidak terpengaruh terhadap pergaulan-pergaulan yang menyesatkan. Toh aku masih bisa bermain disiang hari dan aku bebas bermain-main menghabiskan masa remajaku di sekolahan lengkap dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya seperti Pramuka, pencinta alam dan seabrek kegiatan lainnya.
Aku dulu tidak pernah mengerti kenapa abah selalu memperingatkanku dengan keras dan tidak pernah bergurau dengan anak-anaknya. sehingga aku suka iri kepada teman2 yang mempunyai ayah yang sangat mesra kepada ayahnya. Tetapi lambat laun aku mengerti, kasih sayang abah bukan dalam wujud bahasa tetapi dalam wujud kasih sayang dan perbuatan.
Misalnya ketika aku pulang dari Yogya dan sampai di pekalongan jam sepuluh malam, keesokan harinya, sehabis sholat subuh abahku menyuruhku tidur kembali dan ketika aku bangun, sudah ada segelas susu coklat "wool" kesukaanku dan sepiring nasi goreng buatan abahku di meja kamarku. Aku sering terharu dengan perlakuannya ini.
Ketika aku mau kembali ke Yogya, abah selalu memesankanku tiket travel "Rahayu" langganannya. Padahal aku sudah cukup gede untuk bisa memesan tiket sendiri. Dan abahku akan sibuk mengepack "barang bawaanku". Dan tepat jam 7 dia sudah siap di ujung gang menanti kedatangan travel yang akan menjemputku. Jika travel itu datang terlambat 5 menit saja dari waktu yang ditentukan abahku akan gelisah karena abahku tidak terbiasa dengan jam karet. Dan ketika travel datang, aku akan mencium tanganya, dia akan mencium keningku, membawakan barang2ku ke bagasi, menitipkanku ke sopir travel dan tidak akan beranjak dari ujung gang sebelum travel yang membawaku hilang dari pandangan. Sungguh bentuk kasih sayang yang menurutku sangat mendalam dibandingkan dengan ribuan kata.
Abahku orang yang menerima sesuatu apa adanya. dia tidak pernah meminta apapun dari orang lain. sampai aku sebesar ini dan sudah mempunyai penghasilan sendiri, tidak pernah satu kalipun terucap di mulutnya untuk dibelikan sesuatu. bahkan ketika abahku harus operasi saluran kencingnya yang tersumbat, dia bersikeras tidak mau meminta bantuan anak-anaknya karena dia merasa masih mampu. Kutelpon berkali kali untuk menanyakan berapa biaya yang harus dikeluarkan siapa tahu aku bisa membantu. Tetapi abahku tetap abahku dia tetap bilang "tidak usah". Sampai akhirnya aku menelpon pamanku dan memberikan bantuan sekedarnya untuk kelangsungan operasi itu lewat tangan pamanku.Ah, abah nampaknya aku masih perlu waktu untuk bisa berbakti kepadamu. dan bagaimana aku bisa berbakti kepadamu kalau lewat telpon saja aku tidak tidak bisa?
abah, maafkan aku. Aku berjanji akan menyapamu lewat telpon secara teratur dan akan melantunkan doa buatmu sehabis sholatku.
Abah, apa yang abah lakukan pada malam tahun baru hijriyah tahun? Apakah masih seperti dahulu? Orang-orang kampung berdatangan dengan membawa makanan kecil kerumah dan abah melantunkan doa yang ditirukan orang-orang tsb?
Selamat tahun baru hijriyah abah. Selamat tahun baru Hijriyah 1425 dunia. Semoga Ketulusan abahku bisa mewarnai dunia di tahun yang baru ini.
Ps: Selamat Menempuh hidup baru Renha dan Ricky! Semoga bahtera rumah tangga kalian adalah keluarga yang sakinah. Mawaddah wa rohmah.
Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 19 bagi mbak Rieke dan Pak Hendro Purnomo. Semoga Cinta membawa kebahagian abadi bersama Nara dan Dipta.
Ketika engkau menyajikan sebongkah gelisah yang menjadi batu
lewat parau suaramu
Aku, anakmu selalu saja tak paham dengan kasih sayangmu
sehingga membiarkan kerinduanmu
menjadi dingin dan beku
Hari ini abah menelponku dari Pekalongan. hal yang rutin dilakukan kalau aku lama tidak menelponnya.
Dan seperti biasa aku selalu saja terkejut mendengar suara abahku itu. Aku selalu saja deg2an menerima telpon dari Indonesia. Maklumlah telpon dari Indonesia ke canada merupakan sesuatu yang mahal. Jadi aku selalu mengira pasti ada hal-hal yang penting terjadi. Jadi aku selalu saja tidak bisa menahan teriak kagetku ketika mendengar suara abah di telpon. dan aku selalu bilang; "Ha?" Ada apa abah?" dan dari sebrang abah selalu menjawab; "tidak ada apa2." dia diam sejenak " Lama kamu gak telepon" Katanya lirih. Dan aku seperti biasa dengan rasa bersalah yang tinggi aku meminta abah untuk menutup telpon dan aku kemudian menelpon beliau dari Montreal.
Telpon dari Montreal ke Indonesia terkadang susah dan kalau sudah empat kali mendial telpon, biasanya aku malas melanjutkan lagi. Dan itulah yang kujadikan alasan kenapa aku jarang menelpon ke Indonesia. Sebuah alasan yang sebenernya bisa gugur kalau saja aku mau sedikit bersabar. Dan kalau abah sudah menelpon begini, aku sangat merasa bersalah dan aku merasa sebagai anak yang tidak tahu diri karena menelpon orang tuapun aku sudah abai.
Abahku sebenarnya tidak pernah menuntut banyak. Dia hanya ingin kepastian bahwa aku benar2 baik-baik saja di negeri orang. Sehingga telpon dengannya juga tidak pernah berlangsung lama. Paling lama 10 menit dan dia dengan khawatir akan berkata; "sudah dulu ya ibah?" abah baik-baik saja dan kamu disitu baik2 saja. Itu yang penting. dan jangan sampai rekening telponmu membengkak hanya gara2 ini". Aku mencoba meyakinkannya bahwa telpon dari Montreal ke Indonesia hanya $5 dollar untuk 60 menit. Tetapi, itulah abah, tetap tidak mau merepotkan anak-anaknya. dan kalau abah sudah menelpon begini aku jadi berfikir betapa tidak tahu dirinya aku sehingga menelpon yang maksimal hanya mengahbiskan $5 saja aku sudah tidak sempat.
Abahku ini sosok keras dan ditakuti dilingkungannya. Mungkin itulah sebabnya, aku dan kakak2ku kurang begitu dekat dengan abahku. Dan anak-anak dikampungku juga merasa segan dengan abahku karena abah tidak akan segan-segan memberitahu siapapun dengan nadanya yang keras kalao dirasa apa yang dilakukan orang-orang itu tidak benar.
Tetapi abahku orang yang konsekwen dengan apa yang dikatakan. dia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak lakukan. Dan abahku seorang yang jujur saking jujurnya pernah suatu kali dia tidak bisa tidur karena salah mengembalikan "uang kembalian" kepada seorang pembeli di Toko minyak wanginya. Untungnya dua minggu kemudian pembeli itu datang kembali ke toko minyak abahku dan abahku bisa mengembalikan uang panas itu. dan kamipun lega karena abah bisa tidur sesuai dengan jadwal tidurnya. Tahukan anda berapa uang yang harus dikembalikan? 50 rupiah! dan si pembeli juga tidak merasa kalau abahku itu salah dalam menghitung kembalian.
Abahku sosok yang disiplin. Hidupnya sangat teratur. Jam 4 pagi dia bangun, mengaji, memukul kentongan musholla di kampungku, mengimami sholat subuh, kembali kerumah untuk merebus air dan menyiapkan kopi untuk ibu dan bu yah, masing-masing segelas susu untuk aku, dan kakak2 ku. Setelah semua tersaji, dia dengan tanpa alas kaki akan berjalan-jalan pagi menyusuri persawahan di Setono. Jam 7 pagi sudah sampai di rumah kemudian Sarapan,mandi, sholat dhuha dan berangkat ke pasar untuk menjaga sebuah toko minyak wangi. jam 2 siang dia pulang dari tokonya. Makan siang, Tidur siang, Sholat asar, mendengarkan berita radio atau menyetel musik gambus. Ketika maghrib tiba, dia akan pergi ke Musholla untuk mengimami sholat. Selepas Maghrib, dia pulang kerumah untuk mengaji serta menyuruh anak-anaknya mengaji dan menepukkan tangan tiga kali sebagai tanda bahwa kami anak2nya harus menghentikan ngaji individualnya dan berkumpul untuk membaca ratib hadad setiap harinya ditambah mengaji Yasin dan tahlilan pada setiap malam jum'at. Ketika waktu isya datang abah akan ke musholla lagi untuk memimpin sholat isya dan pulang kerumah untuk makan malam, mebaca buku. dan tepat pukul sembilan malam. kita semua harus sudah mematikan lampu untuk tidur.
Dulu aku sempat merasa menjadi anak paling malang sedunia karena aku selalu tidak bisa keluar malam untuk sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-teman ABgku. dan merasa sedih sekali ketika teman-teman kampung menjulukiku sebagai "anak pingit". Tetapi lambat laun aku mulai mngerti bahwa hal itu dilakukan abahku untuk menjaga puteri2nya agar tidak terpengaruh terhadap pergaulan-pergaulan yang menyesatkan. Toh aku masih bisa bermain disiang hari dan aku bebas bermain-main menghabiskan masa remajaku di sekolahan lengkap dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya seperti Pramuka, pencinta alam dan seabrek kegiatan lainnya.
Aku dulu tidak pernah mengerti kenapa abah selalu memperingatkanku dengan keras dan tidak pernah bergurau dengan anak-anaknya. sehingga aku suka iri kepada teman2 yang mempunyai ayah yang sangat mesra kepada ayahnya. Tetapi lambat laun aku mengerti, kasih sayang abah bukan dalam wujud bahasa tetapi dalam wujud kasih sayang dan perbuatan.
Misalnya ketika aku pulang dari Yogya dan sampai di pekalongan jam sepuluh malam, keesokan harinya, sehabis sholat subuh abahku menyuruhku tidur kembali dan ketika aku bangun, sudah ada segelas susu coklat "wool" kesukaanku dan sepiring nasi goreng buatan abahku di meja kamarku. Aku sering terharu dengan perlakuannya ini.
Ketika aku mau kembali ke Yogya, abah selalu memesankanku tiket travel "Rahayu" langganannya. Padahal aku sudah cukup gede untuk bisa memesan tiket sendiri. Dan abahku akan sibuk mengepack "barang bawaanku". Dan tepat jam 7 dia sudah siap di ujung gang menanti kedatangan travel yang akan menjemputku. Jika travel itu datang terlambat 5 menit saja dari waktu yang ditentukan abahku akan gelisah karena abahku tidak terbiasa dengan jam karet. Dan ketika travel datang, aku akan mencium tanganya, dia akan mencium keningku, membawakan barang2ku ke bagasi, menitipkanku ke sopir travel dan tidak akan beranjak dari ujung gang sebelum travel yang membawaku hilang dari pandangan. Sungguh bentuk kasih sayang yang menurutku sangat mendalam dibandingkan dengan ribuan kata.
Abahku orang yang menerima sesuatu apa adanya. dia tidak pernah meminta apapun dari orang lain. sampai aku sebesar ini dan sudah mempunyai penghasilan sendiri, tidak pernah satu kalipun terucap di mulutnya untuk dibelikan sesuatu. bahkan ketika abahku harus operasi saluran kencingnya yang tersumbat, dia bersikeras tidak mau meminta bantuan anak-anaknya karena dia merasa masih mampu. Kutelpon berkali kali untuk menanyakan berapa biaya yang harus dikeluarkan siapa tahu aku bisa membantu. Tetapi abahku tetap abahku dia tetap bilang "tidak usah". Sampai akhirnya aku menelpon pamanku dan memberikan bantuan sekedarnya untuk kelangsungan operasi itu lewat tangan pamanku.Ah, abah nampaknya aku masih perlu waktu untuk bisa berbakti kepadamu. dan bagaimana aku bisa berbakti kepadamu kalau lewat telpon saja aku tidak tidak bisa?
abah, maafkan aku. Aku berjanji akan menyapamu lewat telpon secara teratur dan akan melantunkan doa buatmu sehabis sholatku.
Abah, apa yang abah lakukan pada malam tahun baru hijriyah tahun? Apakah masih seperti dahulu? Orang-orang kampung berdatangan dengan membawa makanan kecil kerumah dan abah melantunkan doa yang ditirukan orang-orang tsb?
Selamat tahun baru hijriyah abah. Selamat tahun baru Hijriyah 1425 dunia. Semoga Ketulusan abahku bisa mewarnai dunia di tahun yang baru ini.
Ps: Selamat Menempuh hidup baru Renha dan Ricky! Semoga bahtera rumah tangga kalian adalah keluarga yang sakinah. Mawaddah wa rohmah.
Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 19 bagi mbak Rieke dan Pak Hendro Purnomo. Semoga Cinta membawa kebahagian abadi bersama Nara dan Dipta.
Once upon a Time...
Wednesday, February 18, 2004
Seragam hijau kuning membalut tubuh kecilku. Rambut hitamku di kucir ibuku dengan pita hijau. Mataku berbinar ketika Bu nani melintasi perempatan gang rumahku. Kucium tangan bu yah, nenekku sebagai tanda bahwa aku akan ikut bu nani pergi Ke sekolahku, Taman Kanak Kanak Aisyiyah Sorogenen yang treletak kira-kira 500m dari Rumahku.
Itulah sekelumit rutinitas pagi hariku dimasa kecil. Ibu Nani, biasa dipanggil GURU oleh teman-temanku. Sosok ibu guru TK yang sabar. Mengajari kami menyanyi, menggambar, berhitung, berolah raga bahkan bercocok tanam kecil2 an. Ibu Nani yang mendorongku untuk selalu tampil tanpa malu-malu dan selalu memilihku untuk mewakili sekolahku dalam ajang deklamasi dan menyanyi di Arena Bintang Kecil THR Pekalongan. Ibu nani yang selalu mendorongku untuk tampil percaya diri dengan coretan coretan gambarku.
Ibu Nani yang sekarang entah berada dimana. Aku tak tahu.
Taman yang paling indah hanya taman kami
Taman yang paling indah hanya taman kami
Tempat bermain
berteman banyak
itulah taman kami TK Aisiyah.
Ketika SD, aku sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah III Sugih Waras Pekalongan. Aku berseragam putih dan Hijau waktu itu. Ada Ustadz Taufik, sosok sederhana berwajah ihlas yang mengajarkanku berdoa dan sholat. Ada ibu Nadhifah, yang mengajarkanku berbahasa arab. Ada ibu Fadhlun Musawwa, yang dipanggil BU Lun, kepala sekolah yang jujur dan tegas. Ada Ustadz Chamim, yang mengajar dengan gayanya yang keras di bidang Matematika, ustadz Darmo yang mengajarkan IPA dan ada ustadz Fadzli yang mengajarkanku Pramuka.
Al Ilmu Nurun
Al jiddu Muhimmun
dua kali tiga sama dengan enam
enam kali 3 samadengan delapan belas
Hadza maktabun
Hadzihi Thobasyiir
Hal hadza Kursiyyun? La' hadzihi mindzodatun.
Gunung merapi terbesar di pulau jawa adalah Gunung Slamet.
Penemu listrik adalah Thomas alva edison.
ini budi
ini budi
i-ni bu- di
i-n-i b-u-d-i
i-ni bu- di
ini budi
ini budi
Apa guna keluh kesah?
apa guna keluh kesah?
begitulah celoteh-celoteh yang memenuhi ruang SDku yang hanya terdiri dari 3 ruangan, sehingga kegiatan sekolah dibagi menjadi Sekolah pagi untuk kelas 1, 5 dan 6. Sedangkan Kelas Sore adalah kelas 2, 3, dan 4.
Beberapa tahun yang lalu saya mampir ke sekolah itu. Belum banyak berubah. Masih dengan 3 ruangan. Masih ada ustadz Taufik dengan segala kesederhanaannya, masih ada bu Dzifah dengan senyum khasnya dikantor yang sempit itu, Masih ada bel berbentuk lonceng yang di goyangkan sekali sebagai tanda peragntian pelajaran, dua kali sebagai tanda istirahat dan tiga kali sebagai tanda bahwa waktu pulang sudah tiba. Guru-guruku masih sederhana. Sekolahku yang memadukan kurrikulum pesantren dan Umum inipun tidak berganti rupa. Sementara aku disini tidak bisa berbuat apa-apa.
**Foto- foto disini adalah foto2 Danial, Yasa, Adam, Ulya, Arum, Sultan dan Mikael sedang Summercamp bersama tante Ella di Oka Beach Quebec.
Ps: Selamat Ulang Tahun Ilalang Liar. Semoga hidupmu diselimuti kebahagiaan.
Selamat Wisuda buat Nazla. Semoga Ilmunya membawa manfaat bagi agama, negara dan ayah ibu tercinta.
Selamat Ulang tahun Iman. semoga bisa menjadi suami sekaligus pustakawan yang baik serta cepat dikaruniai momongan.
PINDAHAN ALA PENDUDUK INDONESIA DI MONTREAL
Monday, February 16, 2004
*Tulisan ini sudah di tayangkan di tempat pengungsian http://www.serambirumahkita.blogspot.com.
Urusan pindahan memang tidak hanya merepotkan tetapi juga bisa membikin stres.Bagaimana tidak setres? Barang-barang harus kita pack sesuai dengan tempatnya agar setelah sampai di tempat tinggal baru bisa kita tata sesuai dengan klasifikasinya. Dalam hal ini, benar yang dikatakan Iman bahwa semua orang mempunya DNA sebagai pustakawan. Karena orang cenderung menata barang-barang miliknya sesuai dengan sistem yang ada dipikiran mereka agar memudahkan mereka dalam menemukan kembali barang yang di butuhkan.
Pindahan tidak bisa lepas dari urusan angkat mengangkat furniture dari apartemen lama kita ke apartmen baru. Mungkin tidak akan mejadi masalah kalau uang kita banyak dan kita tinggal menyewa sebuah jasa yang memang bertugas untuk urusan pindah memindah barang.
Tetapi masalahnya, sebagian dari penduduk Indonesia di Montreal ini adalah pelajar yang menerima beasiswa pas-pas an. Jadilah penduduk Indonesia ini bersatu padu dalam urusan pindahan ini.
Apa saja yang kita lakukan ketika musim pindahan?
Pertama; mengatur jadwal pindahan agar tidak terjadi dua keluarga atau dua invidu yang pindah dengan lokasi yg berjauhan pada hari yang sama. Jika tidak memungkinkan, maka akan dibuat jadwal, siapa membantu siapa agar para movers itu tetap mendapatkan bantuan dengan pasukan yang seimbang.
Kedua; mengontak "Max" sopir pick up asal jerman langganan penduduk Indonesia Montreal ketika pindahan. Max terkenal fleksibel dalam memberikan bantuan mengangkut barang-barang kami. Tidak banyak cek cok dan biasanya dia sering meberikan discount. Ide-idenya dalam hal teknis mengakut barang sangat cemerlang dan tidak pernah mengeluh meskipun harus mengangkut barang dengan kesulitan tinggi sekalipun.
Dulu, ketika hampir semua pelajar Indonesia masih kuat untuk menyewa apartemen di downtown (1997-1999), pindahan dari satu apartemen ke apartemen lain tidak menggunakan mobil sama sekali. Jadi segala macam alat perlengkapan rumah tangga dari sofa, tempat tidur, komputer sampai piring, diangkat dengan menggunakan tenaga manusia. Tidak laki-laki, tidak perempuan menyeret2 kursi, menggotong-nggotong furniture dari satu building ke building lainnya.
Adalah Mas Arif, guru SMA Muhamadiah Yogya, suami mbak atun yang sekarang di Australia lah yang membuat gerobak dari sebuah papan yg berukuran kira2 50 cm X 100 berodakan roda sepeda anak-anak. Dengan adanya alat ini proses pemindahan tersa lebih mudah. Tetapi ketika saya kembali ke Montreal pada tahun 2001, gerobak itu sudah tidak ada dan tidak seorangpun tahu kemana perginya roda bersejarah itu. maklumlah penduduk Indonesia di Montreal datang danpergi sesuai dengan jatah masa studi mereka. Dan tradisi pindahanpun sudah berubah dari alat angkut gerobak menjadi mobil pick up si Max.
Ketiga; para ibu-ibu merancang menu konsumsi agar para pasukan pelaksan pindahan tidak kelaparan dan kehausan selama menjalankan tugasnya. Acara makan-makan biasa dibagi menjadi dua waktu: makan-makan di apartemen lama sebelum pengangkutan barang dan makan-makan di rumah baru sesudah barang-barang di pindahkan.
Keempat; pelaksanaan pindahan. hampir semua penduduk Indonesia berkumpul bersatu padu mengangkut barang-barang itu tanpa diminta oleh si tuan rumah. Tidak perduli jabatan. Tidak perduli usia, tidak perduli jenis kelamin, semuanya turun tangan membantu proses pindahan rumah itu. Suasana sangat akrab dan meriah. Anak-anakpun ikut bergembira. Semoga suasana seperti ini akan tetap ada walaupun generasi sudah berganti.
Lihatlah
biji mataku mungkin bisa berubah warna
rambutku mungkin bisa berganti gaya
bajuku mungkin bisa berganti masa
tubuhku mungkin bisa berganti rasa
otakku mungkin bisa melampaui berjuta peradaban
cara makanku mungkin berganti selera
tapi ada budaya yang tersimpan di denyut nadi
yang asli akan tetap lestari
dan kita akan kembali ke nurani
Montreal, 2004.
Ps: Beberapa hari yang lalu, saya masak schotel ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
Urusan pindahan memang tidak hanya merepotkan tetapi juga bisa membikin stres.Bagaimana tidak setres? Barang-barang harus kita pack sesuai dengan tempatnya agar setelah sampai di tempat tinggal baru bisa kita tata sesuai dengan klasifikasinya. Dalam hal ini, benar yang dikatakan Iman bahwa semua orang mempunya DNA sebagai pustakawan. Karena orang cenderung menata barang-barang miliknya sesuai dengan sistem yang ada dipikiran mereka agar memudahkan mereka dalam menemukan kembali barang yang di butuhkan.
Pindahan tidak bisa lepas dari urusan angkat mengangkat furniture dari apartemen lama kita ke apartmen baru. Mungkin tidak akan mejadi masalah kalau uang kita banyak dan kita tinggal menyewa sebuah jasa yang memang bertugas untuk urusan pindah memindah barang.
Tetapi masalahnya, sebagian dari penduduk Indonesia di Montreal ini adalah pelajar yang menerima beasiswa pas-pas an. Jadilah penduduk Indonesia ini bersatu padu dalam urusan pindahan ini.
Apa saja yang kita lakukan ketika musim pindahan?
Pertama; mengatur jadwal pindahan agar tidak terjadi dua keluarga atau dua invidu yang pindah dengan lokasi yg berjauhan pada hari yang sama. Jika tidak memungkinkan, maka akan dibuat jadwal, siapa membantu siapa agar para movers itu tetap mendapatkan bantuan dengan pasukan yang seimbang.
Kedua; mengontak "Max" sopir pick up asal jerman langganan penduduk Indonesia Montreal ketika pindahan. Max terkenal fleksibel dalam memberikan bantuan mengangkut barang-barang kami. Tidak banyak cek cok dan biasanya dia sering meberikan discount. Ide-idenya dalam hal teknis mengakut barang sangat cemerlang dan tidak pernah mengeluh meskipun harus mengangkut barang dengan kesulitan tinggi sekalipun.
Dulu, ketika hampir semua pelajar Indonesia masih kuat untuk menyewa apartemen di downtown (1997-1999), pindahan dari satu apartemen ke apartemen lain tidak menggunakan mobil sama sekali. Jadi segala macam alat perlengkapan rumah tangga dari sofa, tempat tidur, komputer sampai piring, diangkat dengan menggunakan tenaga manusia. Tidak laki-laki, tidak perempuan menyeret2 kursi, menggotong-nggotong furniture dari satu building ke building lainnya.
Adalah Mas Arif, guru SMA Muhamadiah Yogya, suami mbak atun yang sekarang di Australia lah yang membuat gerobak dari sebuah papan yg berukuran kira2 50 cm X 100 berodakan roda sepeda anak-anak. Dengan adanya alat ini proses pemindahan tersa lebih mudah. Tetapi ketika saya kembali ke Montreal pada tahun 2001, gerobak itu sudah tidak ada dan tidak seorangpun tahu kemana perginya roda bersejarah itu. maklumlah penduduk Indonesia di Montreal datang danpergi sesuai dengan jatah masa studi mereka. Dan tradisi pindahanpun sudah berubah dari alat angkut gerobak menjadi mobil pick up si Max.
Ketiga; para ibu-ibu merancang menu konsumsi agar para pasukan pelaksan pindahan tidak kelaparan dan kehausan selama menjalankan tugasnya. Acara makan-makan biasa dibagi menjadi dua waktu: makan-makan di apartemen lama sebelum pengangkutan barang dan makan-makan di rumah baru sesudah barang-barang di pindahkan.
Keempat; pelaksanaan pindahan. hampir semua penduduk Indonesia berkumpul bersatu padu mengangkut barang-barang itu tanpa diminta oleh si tuan rumah. Tidak perduli jabatan. Tidak perduli usia, tidak perduli jenis kelamin, semuanya turun tangan membantu proses pindahan rumah itu. Suasana sangat akrab dan meriah. Anak-anakpun ikut bergembira. Semoga suasana seperti ini akan tetap ada walaupun generasi sudah berganti.
Lihatlah
biji mataku mungkin bisa berubah warna
rambutku mungkin bisa berganti gaya
bajuku mungkin bisa berganti masa
tubuhku mungkin bisa berganti rasa
otakku mungkin bisa melampaui berjuta peradaban
cara makanku mungkin berganti selera
tapi ada budaya yang tersimpan di denyut nadi
yang asli akan tetap lestari
dan kita akan kembali ke nurani
Montreal, 2004.
Ps: Beberapa hari yang lalu, saya masak schotel ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
tes
Sunday, February 08, 2004
lemme know if you can see these words :)
Dulu mereka membuatku..
Friday, February 06, 2004
Dulu mereka membuatku tidak doyan nasi selama sembilan bulan. Dulu mereka membuatku hanya menghabiskan sebutir biskuit setiap hari.
Dulu mereka membuatku menutup semua lubang ventilasi agar angin2 itu tidak hinggap di tubuhku.
Dulu mereka membuatku memuntahkan apa saja yang mampir diperutku. Dulu mereka membuatku untuk memenuhi setiap kantong baju dan tasku dengan plastik sebagai perisai mualku.
Dulu mereka membuatku mengajar bersandal jepit, bercelana jeans dengan seplastik permen penyegar mulut dan sekelupas kulit jeruk untuk penangkal segala bau-bauan yang mampir ke lubang hidupku.
Dulu mereka membuatku pergi ke kelas bahasa asing dengan dua batang es krim. Dan meminta ijin pulang ketika es- es itu sudah habis.
Dulu mereka membuatku geram terhadap bunyi mangkok yang di dentingkan oleh tukang bakso.
Dulu mereka membuatku mengunyah es batu sepanjang waktu.
Dulu mereka membuatku di infus karena ketakutan kurangnya cairan di tubuhku.
Kehamilan memang ajaib!
Atas restu Tuhan, mereka lahir dengan selamat dan sehat-sehat saja. Alhamdulilah. Tidak ada peristiwa yang lebih membahagiakan dari saat-saat setelah melahirkan.
Model: Izza waktu bayi *terimakasih mama ninink
Ada suami yang tidak henti2nya tersenyum setelah mengumandangkan azan di telinga anaknya.
Ada wajah-wajah gembira memandangi bayiku
Akupun kembali merasakan rasa lapar yang selama 9 bulan tidak pernah kurasakan. Aku langsung menghabiskan 5 potong pisang goreng angkringan buah tangan anak-anak teater yang menunggui saat-saat kelahiran anakku.
Kemualan yang maha mual pada saat kehamilan dan
Kesakitan yang maha sakit ketika melahirkan, lenyap bersama tangisan pertama bayiku.
Benarkah peristiwa kehamilan saya hanya merupakan bentuk kemanjaan seorang ibu? bagaimana dengan kehamilan anda, isteri atau teman anda? Apakah ada keunikan disitu?
Ps: Selamat Ulang tahun buat Najla. Semoga Pelangi cinta dan Iman selalu ada di hidupmu dan menjadi permata sholikhah bagi abhy dan umi.
Dulu mereka membuatku menutup semua lubang ventilasi agar angin2 itu tidak hinggap di tubuhku.
Dulu mereka membuatku memuntahkan apa saja yang mampir diperutku. Dulu mereka membuatku untuk memenuhi setiap kantong baju dan tasku dengan plastik sebagai perisai mualku.
Dulu mereka membuatku mengajar bersandal jepit, bercelana jeans dengan seplastik permen penyegar mulut dan sekelupas kulit jeruk untuk penangkal segala bau-bauan yang mampir ke lubang hidupku.
Dulu mereka membuatku pergi ke kelas bahasa asing dengan dua batang es krim. Dan meminta ijin pulang ketika es- es itu sudah habis.
Dulu mereka membuatku geram terhadap bunyi mangkok yang di dentingkan oleh tukang bakso.
Dulu mereka membuatku mengunyah es batu sepanjang waktu.
Dulu mereka membuatku di infus karena ketakutan kurangnya cairan di tubuhku.
Kehamilan memang ajaib!
Atas restu Tuhan, mereka lahir dengan selamat dan sehat-sehat saja. Alhamdulilah. Tidak ada peristiwa yang lebih membahagiakan dari saat-saat setelah melahirkan.
Model: Izza waktu bayi *terimakasih mama ninink
Ada suami yang tidak henti2nya tersenyum setelah mengumandangkan azan di telinga anaknya.
Ada wajah-wajah gembira memandangi bayiku
Akupun kembali merasakan rasa lapar yang selama 9 bulan tidak pernah kurasakan. Aku langsung menghabiskan 5 potong pisang goreng angkringan buah tangan anak-anak teater yang menunggui saat-saat kelahiran anakku.
Kemualan yang maha mual pada saat kehamilan dan
Kesakitan yang maha sakit ketika melahirkan, lenyap bersama tangisan pertama bayiku.
Benarkah peristiwa kehamilan saya hanya merupakan bentuk kemanjaan seorang ibu? bagaimana dengan kehamilan anda, isteri atau teman anda? Apakah ada keunikan disitu?
Ps: Selamat Ulang tahun buat Najla. Semoga Pelangi cinta dan Iman selalu ada di hidupmu dan menjadi permata sholikhah bagi abhy dan umi.
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










