in memoriam ibu Ni'mah Yahya

Wednesday, January 14, 2004




Man jadda wajad!

Setiap orang harus bisa berdiri di kaki sendiri

Do'a berada diatas ikhtiar.

Jadilah orang seikhlas Ustadz Abdulloh Hinduan.

Hati adalah putih. Keburukan dan kesombonganlah yang membuat hati menjadi hitam.


Itulah penggalan kata2 yang sering di ucapkan ibuku untuk anak-anaknya
bagiku, kata yang paling indah di dunia adalah ibu.
ibuku selalu menyediakan dadanya untuk menampung air mata
yang mengalir dari mata ketiga anaknya
ibuku selalu meyediakan tangannya untuk mengusap duka
yang menimpa kehidupan buah hatinya
dan memeluk kami ketika kami takut kegelapan
ibuku selalu menyediakan telinganya untuk mendengar keluh kesah
ibuku selalu menyediakan lidahnya untuk berbagi ilmu pengetahuan
ibuku selalu menyediakan matanya untuk menangis, memohon kepada Tuhan agar menerangi jalan anak-anaknya
ibuku selalu menyediakan kakinya untuk mencari rezeki agar kami semua berkecukupan.

ibuku adalah seorang guru yang hidup pada sebuah zaman ketika seorang perempuan belum ada yang menjadi guru di kota kami. Foto2 ibuku ketika mengajar dahulu menunjukkan hanya ibukulah satu satunya perempuan yang menjadi guru pada zamannya.
Adalah ustadz Abdulloh Hinduan yang mendorongnya untuk menjadi guru dan jadilah ibuku menjadi seorang guru yang mengajar di Ma'had Islam, SMP Salafiyah, SMA Hasyim Asy'ary dan PGAN Pekalongan.

Sungguh aku kagum dengan kekuatan ibuku yang bisa mengajar di banyak tempat. Ketika aku sudah lulus S1 dan mengajar di MAN Lab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan jumlah jam mengajar 26 jam perminggu, aku merasa kecapekan dan aku tidak bisa membayangkan betapa capeknya ibuku yg harus mengajar 40 jam perminggu di tambah masyarakat sekitar yang masih saja selalu memintanya untuk memberikan ceramah-ceramah keagamaan. Aku benar-benar kagum dengan ibuku, sosok wanita tangguh yang ujung bajunya selalu aku pegangin ketika dia berceramah diatas podium.

Pekalongan adalah kota kecil dan pada waktu itu hampir semua orang mengenal ibuku. Tidak enak ternyata menjadi anak seorang ustadzah Ni'mah karena guru-guruku ternyata adalah mantan murid2 ibuku dan selalu saja mengira bahwa aku sepintar ibuku. Aku selalu mengeluh kepada ibuku tentang hal ini dan ibuku selalu saja mempunyai segudang kata untuk menentramkanku.

Ibuku selalu mengajarkan kepadaku untuk mandiri. Dia selalu berkata bahwa perempuanpun harus bisa menghidupi dirinya sendiri dan membawa manfaat bagi agama dan masyarakat sekitarnya. Untuk itu ibuku menyekolahkanku di sekolah-sekolah agama yang ada di Pekalongan. TK Aisyiyah Sorogenen, Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah III Sugih Waras, MTsN Buaran Pekalongan, dan PGAN Pekalongan. Ibu sangat keras dalam memilih sekolahan bagi anak-anaknya. Aku mengeluh dan menangis ketika keinginanku untuk masuk SMP Negeri II dan SMA 1 Pekalongan di tolak ibuku. Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti penjelasan ibuku yang mengatakan bahwa beliau hanyalah pegawai negeri golongan IIB dan tidak yakin apakah bisa mengirim anak-anaknya ke bangku kuliah atau tidak. "jika ibu tidak mempunyai uang untuk mengirimmu ke bangku kuliah, ijazah PGA kalian bisa kalian gunakan untuk mengajar, minimal bekal ilmu yang kalian dapat dari PGA bisa digunakan untuk mengajar anak-anak kalian."

Kini aku mengerti bahwa sekolah-sekolah yang dipilih oleh ibuku ternyata sangat menunjang karir anak-anaknya. Kakak pertamaku Chazimah tidak pernah menyesal karena tidak bisa mengenyam bangku kuliah karena dia sekarang sibuk mengajar di SD Pertiwi Pontianak.
Kaka keduaku Nabilah, juga bahagia mengajar di salah satu SD favorit di Pekalongan, SD Ma'had Islam IV. Dan aku, sebagai anak terakhir berkeesempatan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga dan melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 atas beasiswa dari CIDA.

Ibuku seorang yang berpendirian tegas dan akan mengatakan "TIDAK" terhadap apa saja yang dianggap tidak benar. Meskipun kami dari keluarga sederhana, tetapi ibuku selalu mengajarkan untuk mempunyai harga diri. Suatu kali, aku ingin sekali ikut study tour ke Yogyakarta. Sebagai pengurus OSIS, aku bisa mengikuti study tour dengan gratis. Tapi entah kenapa ada suara2 yang agak miring dengan kelompok gratisan seperti aku sehingga ibuku melarangku untuk ikut study tour itu. Aku menangis di dadanya sehari semalam memohon izin kepadanya dan ibuku tetep bersikeras tidak mengijinkanku pergi ke Yogya.
Berangkatlah rombongan itu dan aku hanya bisa menangis. 7 jam kemudian, kami mendengar kabar bahwa rombongan study tour sekolahku mengalami kecelakaan di Ambarawa. Dan Bus yang paling parah adalah bus yang ditumpangi oleh rombongan OSIS.
satu dari teman OSIS meninggal dunia. Satu lagi tulang rusuknya patah dan harus dirawat di Rumah Sakit berbulan-bulan lamanya. Sang ketua OSIS terkena pecahan kaca dimatanya sehingga harus dirawat di Rumah Sakit juga. Aku cuman bisa termenung dan menghikmati peristiwa ini dan berfikir betapa dahsyatnya mukjizat seorang ibu. Apa jadinya kaalu saya ikut rombongan itu? Wallahu A'lam.

Ibuku adalah seorang teman, ibu, dan kakak yang baik. kami bisa berbicara memakai bahasa apapun. Ibuku tidak begitu perduli dengan bahasa sopan santun yang harus dipake anara anak dan orang tua. sehingga bahasa kami sama dan tidak ada rasa pakewuh ketika harus membicarakan apapun. Teman-teman kuliahku terkejut dan iri ketika mereka berkunjung ke rumahku melihat aku sedang bergelayutan di lengan ibuku.

Ibuku sangat mencintai buku. selalu saja ada dana buat membeli buku-buku dan majalah. Kuncung, Bobo, kawanku, H.C Anderson, Cerita nabi dari Adam sampai nabi Muhammad menhiasi rak bukuku. Biografi Thomas Alva Edison, James Watt sampe Mother theresia juga bertebaran di meja belajarku. Ibuku mendorongku untuk menulis di majalah-majalah itu. Memberikan semangat ketika tidak di muat dan ikut melonjak kegirangan ketika puisiku dimuat pada saat aku kelas 2 SD.

Ibuku adalah pendengar yang baik. Setiap malam, aku selalu saja tidak sabar untuk menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa hari-hariku dan tidak pernah sekalipun melecehkanku sehingga aku bisa menceritakan kebanggan kebanggaanku tanpa ada rasa takut kalo di kira Pamer. karena didepan ibukulah aku bisa memamerkan diriku dengan leluasa. Ketika aku harus kuliah dan Kost di Yogya, hal yang paling berat bagiku adalah tumpukan-tumpukan cerita hari2ku karena aku berjauhan dengan ibuku. Oleh karenanya liburan kuliah dan pulang ke rumah untuk menceritakan hari2ku kepada ibuku sambil merebahkan kepala dipangkuannya adalah saat saat yang paling menggebirakan. karena tanggul didadaku terasa ringan karena aku sudah menumpahkan kepada ibuku.

Ibuku orang yang sangat baik yang menghabiskan waktunya untuk mengajar, berumah tangga dan beribadah. Di tempat tidur, aku selalu melihatnya membawa tasbih untuk berdzikir dan alunan ayat-ayat suci yang mengalir dari mulutnya. Ibuku memberikan sebuah Al Qur'an bagi anak-anaknya dan mencatat di Al Qu'an tersebut nama dan tanggal pembelian Kitab Suci itu, serta mneyelipkan kertas untuk mencatat tanggal berapa saja kami khatam Al Qur'an. Tidak ada upacara besar ketika salah seorang anggota keluarga mengkhatamkan Al Qur'an. Akan tetapi kami akan berkumpul di ruang tamu dengan tiga gelas air dan yang khatam Qur'an di beri kesempatan untuk membaca do'a2 panjang khatam Qur'an sedangkan anggota keluarga lainnya akan meng AMIN i. dengan demikian kami semua merasa sanagt dihargai ketika khatam Qur'an karena kita bisa memimpin doa keluarga yg biasanya di pimpin abah kami.

Ibuku Insya Alloh seorang yang ahli jannah ( al fatihah) karena di akhir hidupnya dia mempersembahkan sebuah senyum yang lebar ditengah sakit rapuh tulang yang menggerogoti hidupnya selama 12 tahun. Aku tidak bisa memeluknya karena aku sedang berada dinegeri seberang tapi aku pulang ke Pekalongan untuk bersimpuh di makamnya yang tenang berada di lingkungan keluarga Masjid NUR Pekalongan berdampingan dengan kakak kandung dan ammahnya.

Ibuku seorang wanita yang luar biasa tetapi kenapa aku selalu menyakiti hatinya?


Bu, percayalah! aku tidak bermaksud begitu.
jalan yang kutempuh memang berbeda, tapi tetap bermuara disungai itu, bu.
Semoga ibu mengerti bahasaku yg sandi dan rahasia.

*Ustadzah Ni'mah Yahya yang sejak berumur 7 hari sudah ditinggal ibundanya menghadap Alloh swt tapi berbahagia dalam asuhan Bu yah, sang ammah, Jid Husain, sang Abah;Simak, sang nenek dan Si de, sang Bu de (13 Januari 1934 - 29 September 1998)

© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.