Ketika Menikah ...

Sunday, January 25, 2004

Selamat menempuh hidup baru Puji dan Andy
Selamat menempuh hidup baru Iman dan Nur
Selamat menempuh hidup baru Adhit dan Ninit
Selamat menempuh hidup baru Ami di perumahan setetes warna


Cermati puisi-puisi ini agar cinta menjadi seharum melati.
Dan perkawinan menjadi tungku api cinta abadi


Bride’s Poem for Her Beloved Man 1
Puisi Aly D Musyrifa

It’s great loving you my man
Even when my heart’s been blistered and poisoned of you since then
Look! The stars are staring at me
The yellow moon is smiling at me
And the sun is shining for me
Look! What a princess I am
Dressed in a wedding gown
Kept waiting for you until dawn
Come! Say a word about the fragrance of flower
Or be quiet so that I am getting crazier

With all my longing for you
With all my hope of you
I call you from far away
Will keep calling you the whole day
I like to give birth of your children
As I am happy to be a garden
Cultivate me with your devotion!

Montreal, 2003

Groom’s Poem for His Beloved Woman
Aly D Musyrifa

With the smooth of wind waving the leaves
With the season’s fingers that blossom the flowers
With the beauty of the stars shining in the darkness
With the fertility of soil that grows the plants
With the birds’ singing and freshness of morning air
With the strains of music that bring you to the island of your dream
With the morning sunlight that came into your room as you opened the window
With the nobility of saints who always bathe their hearts with the moonlight
I love you more than you think

Montreal, 2003



Nampaknya bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan. Terbukti beberapa orang yang aku kenal baik di dunia nyata maupun dunia maya melangsungkan pernikahan dibulan ini. Iman, seorang pustakawan dengan tulisan-tulisan di blognya, yang menggugah tentang dunia perpustakaan melangsungkan pernikahan pada tanggal 25 Januari 2004, mempersunting Nur, pujaan hatinya. Sempat terlintas dibenakku wajah Iman versi bayanganku memakai baju kebesaran seorang pengantin dan pudarlah segala kejailan seorang Iman ditengah tengah bau kembang melati yang kudus.

Pasangan blog lain yang juga akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 7 Februari 2004 adalah Ninit dan Adhitya ‘Jomblo” Mulya. Ninit, mojang Bandung yang geulis ini akan resmi menjadi isteri penulis novel Jomblo, Adhit yang namanya sedang meroket karena novelnya menjadi salah satu novel terlaris di Indonesia tahun ini. Aku belum membaca novelnya tapi konon kabarnya novel ini benar-benar mewakili nurani para jomblo di Indonesia. Aku juga tidak tahu apakah akan ada kejailan-kejailan khas adhit yang akan merwarnai resepsi pernikahan mereka. Dan aku tidak tahu apakah ketegangan Adhit dalam menikah nanti akan sama dengan ketegangan yang dia hadapi ketika dia harus launcing novel Jomblo nya.

Puji memilih mengakhiri masa gadisnya pada bulan 27 desember 2003. Foto2 di album pernikahan menyemburatkan kegembiraan mawar. Walaupun jarak masih tetap memisahkan sepasang suami isteri ini, kebahagiaan dan cinta tetap menyatukan mereka.

Ami juga memutuskan untuk menikah pada tanggal 24 januari 2004, menambatkan hidup pada buah hatinya kepada seseorang yang disebutnya sebagai anak gunung yang baru dikenalnya 4 bulan yang lalu. Cinta telah menghantarkan mereka ke mahligai pernikahan, sebuah gerbang menuju kesempurnaan hidup.

Upacara pernikahan memang merupakan saat-saat yang sangat istimewa. Orang-orang mempersiapkannya dengan sangat seksama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dari baju, riasan, makanan, undangan dekorasi sampai upcara ceremonialnya sangatlah menguras tenaga dan pikiran. Ibarat akan mementaskan sebuah pertunjukan drama, naskah, artis, make up, kostum, sutradara, property, panggung, produksi harus menjadi sebuah teamwork yang kompak agar pertunjukan bisa berjalan dengan sukses. Akan tetapi pernikahan lebih dari sebuah pertunjukan teater. Pernikahan diharapkan akan terjadi sekali dalam seumur hidup dan setres menjelang saat2 pernikahan bisa sepuluh kali lipat dari pertunjukan teater.

Saat-saat pernikahan merupakan saat-saat dimana perasaan tegang, terharu, sedih, tegang bercampur aduk dihati kedua mempelai, orang tua, kakak, adik, nenek dan sanak kerabat lainnya. Tegang karena mempelai akan memulai hidup baru. Tegang karena takut salah mengucapkan akad nikah yang biasanya suka lenyap dari pikiran padahal sudah dihapalkan berkali kali. Di kampungku, orang lebih merasa afdhol kalau bisa menikah dengan menggunakan bahasa arab. Terbayang saat-saat abahkumenikahkan kakak perempuanku:

“ Ya Ahmad bin Aly bin Yahya! Zawadztuka, ankahtuka ila Chazimah binti Zain bin yahya bi mahril madzkur?”

kakak Ipar sayapun menjawab dengan tegas

“Qobiltu tazwijaha, nikakhaha bi mahril madzkur”

dan para hadirinpun berteriak dengan lega ‘alhamdulilah kabuul”

Aku melihat ketegangan diwajah ibu mencair seiring lancarnya ucapan tersebut. Dan air matapun mengembang dipipinya seraya mengucapkan tahmid berkali kali. Aku memahami ketegangan ibu karena beliau menanggung minimal dua kekhawatiran. Sebagai seorang ustadzah, tentu akan memalukan mempunyai menantu yang tidak fasih dalam mengucapkan huruf-huruf arab dalam konteks ijab qobul ini. Dan dilain pihak juga dia khawatir kalau abahku, karena tegang, jadi tidak lancar dalam mengijabkan anak pertamanya. Untunglah baik memantu maupun suami sama-sama lancar dalam melafadzkan ijab Kabul itu.

Banjir airmatapun terjadi. Dan akupun ikut-ikutan menagis karena aku merasa setelah itu aku akan kehilangan perhatian seorang kakak. Dan yang lebih sedih lagi kakakku itu harus mengikuti suaminya di Pontianak. Perasaanku bercampur aduk. Emah begitu dia kupanggil, bukan milikku lagi. Kakakku, Emahpun, aku lihat ,berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencucurkan air mata tapi akhirnya tumpah juga. Sungguh keharuan yang sangat susah dilukiskan dengan kata-kata.

Resepsi pernikahan kakaku itu berlangsung di gedung Al Irsyad Pekalongan dengan menu nasi Kebuli itu berlangsung dengan lancar meskipun sempat dibikin bingung dengan jumlah tamu yang dua kali lipat dari undangan dan mobil pengantin yang ditunggu-tunggu datang bukan berisi pengantin tetapi malah berisi alat-alat masak. Entah siapa yang mnegalih fungsikan mobil pengantin yang sudah di hias dengan indah itu menjadi pengangkut alat2 masak untuk menyuplai makanan bagi tamu2 yang melebihi quota itu. Aku masih ingat bagaimana para hadirin sudah bersiap-siap menyambut pengantin di mobil itu. Tetapi ketika berhenti ternyata malah berisi alat-alat masak.

Untuk menampung tamu-tamu yang membludak itu,para tetangga yang sudah berbaju rapi itu dengan ikhlas dan riang gembira memasang tenda-tenda tambahan untuk menampung para tamu itu. Walaupun demikian resepsi berjalan dengan lancar Makanan cukup untuk para tamu bahkan para anak yatim piatu ikut merasakan kebuli pernikahan kakakku. Resepsi menjadi bernuansa air mata ketika ibuku mulai memberikan ular2 penikahan bagi anaknya sendiri. Selamat menempuh hidup baru mah!

Tidak seperti pernikahan kakakku yang meriah, pernikahanku hampir-hampir tanpa persiapan. Aku menikah dua kali. Iya! Aku dua kali menikah! Tetapi dengan lelaki yang sama. Karena ada beberapa urusan adminstrasi yang belum terpenuhi, aku terpaksa melakukan pernikahan Sirri. Aku masih ingat pakaianku saat itu . Berbaju putih batik sutera pemberian mas ali dengan kerudung hitam diikat kebelakang yang menjadi trade mark ku saat itu, aku menikah. Sedang mas Aly datang ke penghulu dengan pakaian stute batik berwarna hitam berlapis perada.

Disaksikan beberapa teman kantor, Dudung dan Qizam, dan teman teater, adnan, Asmanah dan Sogle kami menikah. Aku masih ingat ketika suamiku kebingungan ketika ditanya mahar apa yang akan di berikan kepadaku. Dan dia dengan enteng menjawab : “lima ribu rupiah tunai!” dan bapak penghulu meminta persetujuanku. Dan akupun menawar: “bagaimana kalau lima puluh ribu rupiah, mas?” Suamiku meraba-raba kantongnya dan dia mengangguk cepat : “ah untung ada duit lima puluh ribuan dikantong” katanya sambil nyengir yang disambut ketawa geli para hadirin. Pernikahan dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan secara agama resmilah, pada tanggal 5 maret 1995, aku menjadi Isterinya. Walaupun kami sudah sah menjadi suami isteri dalam Islam tetapi kami masih pisah rumah. Aku masih tetap di Kos-kos an MELATI SUCI Sapen Yogyakarta yang hanya boleh menrima tamu pria di ruang tamu itu. Sedang Mas Ali masih setia menjadi penunggu di Teater ESKA , auditorium kampusnya.

Pernikahan keduaku terjadi di KUA umbul harjo Yogyakarta pada tanggal 1 Nopember 1995 dengan menggunakan ijab qobul berbahasa arab. Sehari sebelumnya aku baru menerima kabar bahwa kami boleh menikah secara resmi di KUA. Maka aku menjadi single fighter yang mengurus segala sesuatunya: dari mulai katering di warung mbak Dar, tehbotol di warung Pojok samapi pakaian yang harus kupakai. Mas Ali sibuk mencari mobil untuk mengangkut kami ke KUA.

Teman-teman se Kost dan teman-teman teater ikut heboh mempersiapkan segala sesuatu yang serba mendadak itu. Teman-teman kostku, Oyink, Muslimah, ningrum, Iim, Main, Muslimah, Patty, Ida, Umi sibuk mendadaniku dengan dandanan alakadarnya: baju bATIK sutera oranye, kerudung hitam kebangsaanku, dan sebuah bros pinjaman dari seorang teman. Sedangkan wajahku hanya dilapisi bedak dengan lipstik merah di bibir. Sedang teman-teman Teater sibuk membungkus mahar yang berupa batik sutera hijau buatan keluarga suamiku, dibungkus oleh Fauzan Sogle dengan menggunakan kardus hitam. hmm. kesannya teateral sekali.

Jam delapan pagi, Wachid, puetra Kyai Pondok pesantren wachid Hasyim yang juga anggota teater Eska datang dengan mobil kijangnya. Berangkatlah kami semua ke KUA. Hari itu, dengan saksi Ahmad Mukhlis alias Mucle, lurah teater Eska pada waktu itu, dan Agus Muhammad, sahabat dekat mas Aly, dahlan, taufik toples, Brojol, resmilah saya secara agama dan negara menjadi isteri seorang ALI. Karena bingung mau bermalam pertama dimana, akhirnya kami menghabiskan malam pertama di Hotel gedung wanita tama Yogyakarta dengan ongkos 37 ribu semalam sudah lengkap dengan AC dan breakfast. Pagi-pagi sekali, mas ali yang tidak terbiasa dengan WC asing terpaksa balik ke teater ESKA untuk menyelesaikan urusan perutnya. Jam 9 pagi kita meluncur ke Pekalongan yang sudah menyipakan sebuah upacara selamatan bagi kita. Tidak ada gaun pengantin yang indah, tidak ada pelaminan yang ada hanya ribuan doa dari para hadirin untuk kehidupan kami.

Resepsi pernikahan memang beragam dalam menyambutnya. Seorang teman aktifis demonstran pada zaman Orba, melangsungkan pernikahan dengan menunggang becak sebagai pelengkap nazarnya ketika Suharto turun tahta. Seorang aktifis perempuan menikah di rumah seorang penyair Yogyakarta dengan mewajibkan hadirin untuk memakai Tshirt. Bagaimana dengan pernikahan anda atau rencana pernikahan anda atau pernikahan yang kalian kenal? adakah yang menarik di situ?


*Updated*
Ternyata banyak teman-teman lain yang menikah di bulan- bulan dekat ini.

Selamat menempuh hidup baru tyaz
Selamat menempuh hidup baru pipiet

© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.