Dering Telepon itu.....
Monday, February 23, 2004
Ada yang membiru di hatiku
Ketika engkau menyajikan sebongkah gelisah yang menjadi batu
lewat parau suaramu
Aku, anakmu selalu saja tak paham dengan kasih sayangmu
sehingga membiarkan kerinduanmu
menjadi dingin dan beku
Hari ini abah menelponku dari Pekalongan. hal yang rutin dilakukan kalau aku lama tidak menelponnya.
Dan seperti biasa aku selalu saja terkejut mendengar suara abahku itu. Aku selalu saja deg2an menerima telpon dari Indonesia. Maklumlah telpon dari Indonesia ke canada merupakan sesuatu yang mahal. Jadi aku selalu mengira pasti ada hal-hal yang penting terjadi. Jadi aku selalu saja tidak bisa menahan teriak kagetku ketika mendengar suara abah di telpon. dan aku selalu bilang; "Ha?" Ada apa abah?" dan dari sebrang abah selalu menjawab; "tidak ada apa2." dia diam sejenak " Lama kamu gak telepon" Katanya lirih. Dan aku seperti biasa dengan rasa bersalah yang tinggi aku meminta abah untuk menutup telpon dan aku kemudian menelpon beliau dari Montreal.
Telpon dari Montreal ke Indonesia terkadang susah dan kalau sudah empat kali mendial telpon, biasanya aku malas melanjutkan lagi. Dan itulah yang kujadikan alasan kenapa aku jarang menelpon ke Indonesia. Sebuah alasan yang sebenernya bisa gugur kalau saja aku mau sedikit bersabar. Dan kalau abah sudah menelpon begini, aku sangat merasa bersalah dan aku merasa sebagai anak yang tidak tahu diri karena menelpon orang tuapun aku sudah abai.
Abahku sebenarnya tidak pernah menuntut banyak. Dia hanya ingin kepastian bahwa aku benar2 baik-baik saja di negeri orang. Sehingga telpon dengannya juga tidak pernah berlangsung lama. Paling lama 10 menit dan dia dengan khawatir akan berkata; "sudah dulu ya ibah?" abah baik-baik saja dan kamu disitu baik2 saja. Itu yang penting. dan jangan sampai rekening telponmu membengkak hanya gara2 ini". Aku mencoba meyakinkannya bahwa telpon dari Montreal ke Indonesia hanya $5 dollar untuk 60 menit. Tetapi, itulah abah, tetap tidak mau merepotkan anak-anaknya. dan kalau abah sudah menelpon begini aku jadi berfikir betapa tidak tahu dirinya aku sehingga menelpon yang maksimal hanya mengahbiskan $5 saja aku sudah tidak sempat.
Abahku ini sosok keras dan ditakuti dilingkungannya. Mungkin itulah sebabnya, aku dan kakak2ku kurang begitu dekat dengan abahku. Dan anak-anak dikampungku juga merasa segan dengan abahku karena abah tidak akan segan-segan memberitahu siapapun dengan nadanya yang keras kalao dirasa apa yang dilakukan orang-orang itu tidak benar.
Tetapi abahku orang yang konsekwen dengan apa yang dikatakan. dia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak lakukan. Dan abahku seorang yang jujur saking jujurnya pernah suatu kali dia tidak bisa tidur karena salah mengembalikan "uang kembalian" kepada seorang pembeli di Toko minyak wanginya. Untungnya dua minggu kemudian pembeli itu datang kembali ke toko minyak abahku dan abahku bisa mengembalikan uang panas itu. dan kamipun lega karena abah bisa tidur sesuai dengan jadwal tidurnya. Tahukan anda berapa uang yang harus dikembalikan? 50 rupiah! dan si pembeli juga tidak merasa kalau abahku itu salah dalam menghitung kembalian.
Abahku sosok yang disiplin. Hidupnya sangat teratur. Jam 4 pagi dia bangun, mengaji, memukul kentongan musholla di kampungku, mengimami sholat subuh, kembali kerumah untuk merebus air dan menyiapkan kopi untuk ibu dan bu yah, masing-masing segelas susu untuk aku, dan kakak2 ku. Setelah semua tersaji, dia dengan tanpa alas kaki akan berjalan-jalan pagi menyusuri persawahan di Setono. Jam 7 pagi sudah sampai di rumah kemudian Sarapan,mandi, sholat dhuha dan berangkat ke pasar untuk menjaga sebuah toko minyak wangi. jam 2 siang dia pulang dari tokonya. Makan siang, Tidur siang, Sholat asar, mendengarkan berita radio atau menyetel musik gambus. Ketika maghrib tiba, dia akan pergi ke Musholla untuk mengimami sholat. Selepas Maghrib, dia pulang kerumah untuk mengaji serta menyuruh anak-anaknya mengaji dan menepukkan tangan tiga kali sebagai tanda bahwa kami anak2nya harus menghentikan ngaji individualnya dan berkumpul untuk membaca ratib hadad setiap harinya ditambah mengaji Yasin dan tahlilan pada setiap malam jum'at. Ketika waktu isya datang abah akan ke musholla lagi untuk memimpin sholat isya dan pulang kerumah untuk makan malam, mebaca buku. dan tepat pukul sembilan malam. kita semua harus sudah mematikan lampu untuk tidur.
Dulu aku sempat merasa menjadi anak paling malang sedunia karena aku selalu tidak bisa keluar malam untuk sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-teman ABgku. dan merasa sedih sekali ketika teman-teman kampung menjulukiku sebagai "anak pingit". Tetapi lambat laun aku mulai mngerti bahwa hal itu dilakukan abahku untuk menjaga puteri2nya agar tidak terpengaruh terhadap pergaulan-pergaulan yang menyesatkan. Toh aku masih bisa bermain disiang hari dan aku bebas bermain-main menghabiskan masa remajaku di sekolahan lengkap dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya seperti Pramuka, pencinta alam dan seabrek kegiatan lainnya.
Aku dulu tidak pernah mengerti kenapa abah selalu memperingatkanku dengan keras dan tidak pernah bergurau dengan anak-anaknya. sehingga aku suka iri kepada teman2 yang mempunyai ayah yang sangat mesra kepada ayahnya. Tetapi lambat laun aku mengerti, kasih sayang abah bukan dalam wujud bahasa tetapi dalam wujud kasih sayang dan perbuatan.
Misalnya ketika aku pulang dari Yogya dan sampai di pekalongan jam sepuluh malam, keesokan harinya, sehabis sholat subuh abahku menyuruhku tidur kembali dan ketika aku bangun, sudah ada segelas susu coklat "wool" kesukaanku dan sepiring nasi goreng buatan abahku di meja kamarku. Aku sering terharu dengan perlakuannya ini.
Ketika aku mau kembali ke Yogya, abah selalu memesankanku tiket travel "Rahayu" langganannya. Padahal aku sudah cukup gede untuk bisa memesan tiket sendiri. Dan abahku akan sibuk mengepack "barang bawaanku". Dan tepat jam 7 dia sudah siap di ujung gang menanti kedatangan travel yang akan menjemputku. Jika travel itu datang terlambat 5 menit saja dari waktu yang ditentukan abahku akan gelisah karena abahku tidak terbiasa dengan jam karet. Dan ketika travel datang, aku akan mencium tanganya, dia akan mencium keningku, membawakan barang2ku ke bagasi, menitipkanku ke sopir travel dan tidak akan beranjak dari ujung gang sebelum travel yang membawaku hilang dari pandangan. Sungguh bentuk kasih sayang yang menurutku sangat mendalam dibandingkan dengan ribuan kata.
Abahku orang yang menerima sesuatu apa adanya. dia tidak pernah meminta apapun dari orang lain. sampai aku sebesar ini dan sudah mempunyai penghasilan sendiri, tidak pernah satu kalipun terucap di mulutnya untuk dibelikan sesuatu. bahkan ketika abahku harus operasi saluran kencingnya yang tersumbat, dia bersikeras tidak mau meminta bantuan anak-anaknya karena dia merasa masih mampu. Kutelpon berkali kali untuk menanyakan berapa biaya yang harus dikeluarkan siapa tahu aku bisa membantu. Tetapi abahku tetap abahku dia tetap bilang "tidak usah". Sampai akhirnya aku menelpon pamanku dan memberikan bantuan sekedarnya untuk kelangsungan operasi itu lewat tangan pamanku.Ah, abah nampaknya aku masih perlu waktu untuk bisa berbakti kepadamu. dan bagaimana aku bisa berbakti kepadamu kalau lewat telpon saja aku tidak tidak bisa?
abah, maafkan aku. Aku berjanji akan menyapamu lewat telpon secara teratur dan akan melantunkan doa buatmu sehabis sholatku.
Abah, apa yang abah lakukan pada malam tahun baru hijriyah tahun? Apakah masih seperti dahulu? Orang-orang kampung berdatangan dengan membawa makanan kecil kerumah dan abah melantunkan doa yang ditirukan orang-orang tsb?
Selamat tahun baru hijriyah abah. Selamat tahun baru Hijriyah 1425 dunia. Semoga Ketulusan abahku bisa mewarnai dunia di tahun yang baru ini.
Ps: Selamat Menempuh hidup baru Renha dan Ricky! Semoga bahtera rumah tangga kalian adalah keluarga yang sakinah. Mawaddah wa rohmah.
Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 19 bagi mbak Rieke dan Pak Hendro Purnomo. Semoga Cinta membawa kebahagian abadi bersama Nara dan Dipta.
Ketika engkau menyajikan sebongkah gelisah yang menjadi batu
lewat parau suaramu
Aku, anakmu selalu saja tak paham dengan kasih sayangmu
sehingga membiarkan kerinduanmu
menjadi dingin dan beku
Hari ini abah menelponku dari Pekalongan. hal yang rutin dilakukan kalau aku lama tidak menelponnya.
Dan seperti biasa aku selalu saja terkejut mendengar suara abahku itu. Aku selalu saja deg2an menerima telpon dari Indonesia. Maklumlah telpon dari Indonesia ke canada merupakan sesuatu yang mahal. Jadi aku selalu mengira pasti ada hal-hal yang penting terjadi. Jadi aku selalu saja tidak bisa menahan teriak kagetku ketika mendengar suara abah di telpon. dan aku selalu bilang; "Ha?" Ada apa abah?" dan dari sebrang abah selalu menjawab; "tidak ada apa2." dia diam sejenak " Lama kamu gak telepon" Katanya lirih. Dan aku seperti biasa dengan rasa bersalah yang tinggi aku meminta abah untuk menutup telpon dan aku kemudian menelpon beliau dari Montreal.
Telpon dari Montreal ke Indonesia terkadang susah dan kalau sudah empat kali mendial telpon, biasanya aku malas melanjutkan lagi. Dan itulah yang kujadikan alasan kenapa aku jarang menelpon ke Indonesia. Sebuah alasan yang sebenernya bisa gugur kalau saja aku mau sedikit bersabar. Dan kalau abah sudah menelpon begini, aku sangat merasa bersalah dan aku merasa sebagai anak yang tidak tahu diri karena menelpon orang tuapun aku sudah abai.
Abahku sebenarnya tidak pernah menuntut banyak. Dia hanya ingin kepastian bahwa aku benar2 baik-baik saja di negeri orang. Sehingga telpon dengannya juga tidak pernah berlangsung lama. Paling lama 10 menit dan dia dengan khawatir akan berkata; "sudah dulu ya ibah?" abah baik-baik saja dan kamu disitu baik2 saja. Itu yang penting. dan jangan sampai rekening telponmu membengkak hanya gara2 ini". Aku mencoba meyakinkannya bahwa telpon dari Montreal ke Indonesia hanya $5 dollar untuk 60 menit. Tetapi, itulah abah, tetap tidak mau merepotkan anak-anaknya. dan kalau abah sudah menelpon begini aku jadi berfikir betapa tidak tahu dirinya aku sehingga menelpon yang maksimal hanya mengahbiskan $5 saja aku sudah tidak sempat.
Abahku ini sosok keras dan ditakuti dilingkungannya. Mungkin itulah sebabnya, aku dan kakak2ku kurang begitu dekat dengan abahku. Dan anak-anak dikampungku juga merasa segan dengan abahku karena abah tidak akan segan-segan memberitahu siapapun dengan nadanya yang keras kalao dirasa apa yang dilakukan orang-orang itu tidak benar.
Tetapi abahku orang yang konsekwen dengan apa yang dikatakan. dia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak lakukan. Dan abahku seorang yang jujur saking jujurnya pernah suatu kali dia tidak bisa tidur karena salah mengembalikan "uang kembalian" kepada seorang pembeli di Toko minyak wanginya. Untungnya dua minggu kemudian pembeli itu datang kembali ke toko minyak abahku dan abahku bisa mengembalikan uang panas itu. dan kamipun lega karena abah bisa tidur sesuai dengan jadwal tidurnya. Tahukan anda berapa uang yang harus dikembalikan? 50 rupiah! dan si pembeli juga tidak merasa kalau abahku itu salah dalam menghitung kembalian.
Abahku sosok yang disiplin. Hidupnya sangat teratur. Jam 4 pagi dia bangun, mengaji, memukul kentongan musholla di kampungku, mengimami sholat subuh, kembali kerumah untuk merebus air dan menyiapkan kopi untuk ibu dan bu yah, masing-masing segelas susu untuk aku, dan kakak2 ku. Setelah semua tersaji, dia dengan tanpa alas kaki akan berjalan-jalan pagi menyusuri persawahan di Setono. Jam 7 pagi sudah sampai di rumah kemudian Sarapan,mandi, sholat dhuha dan berangkat ke pasar untuk menjaga sebuah toko minyak wangi. jam 2 siang dia pulang dari tokonya. Makan siang, Tidur siang, Sholat asar, mendengarkan berita radio atau menyetel musik gambus. Ketika maghrib tiba, dia akan pergi ke Musholla untuk mengimami sholat. Selepas Maghrib, dia pulang kerumah untuk mengaji serta menyuruh anak-anaknya mengaji dan menepukkan tangan tiga kali sebagai tanda bahwa kami anak2nya harus menghentikan ngaji individualnya dan berkumpul untuk membaca ratib hadad setiap harinya ditambah mengaji Yasin dan tahlilan pada setiap malam jum'at. Ketika waktu isya datang abah akan ke musholla lagi untuk memimpin sholat isya dan pulang kerumah untuk makan malam, mebaca buku. dan tepat pukul sembilan malam. kita semua harus sudah mematikan lampu untuk tidur.
Dulu aku sempat merasa menjadi anak paling malang sedunia karena aku selalu tidak bisa keluar malam untuk sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-teman ABgku. dan merasa sedih sekali ketika teman-teman kampung menjulukiku sebagai "anak pingit". Tetapi lambat laun aku mulai mngerti bahwa hal itu dilakukan abahku untuk menjaga puteri2nya agar tidak terpengaruh terhadap pergaulan-pergaulan yang menyesatkan. Toh aku masih bisa bermain disiang hari dan aku bebas bermain-main menghabiskan masa remajaku di sekolahan lengkap dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya seperti Pramuka, pencinta alam dan seabrek kegiatan lainnya.
Aku dulu tidak pernah mengerti kenapa abah selalu memperingatkanku dengan keras dan tidak pernah bergurau dengan anak-anaknya. sehingga aku suka iri kepada teman2 yang mempunyai ayah yang sangat mesra kepada ayahnya. Tetapi lambat laun aku mengerti, kasih sayang abah bukan dalam wujud bahasa tetapi dalam wujud kasih sayang dan perbuatan.
Misalnya ketika aku pulang dari Yogya dan sampai di pekalongan jam sepuluh malam, keesokan harinya, sehabis sholat subuh abahku menyuruhku tidur kembali dan ketika aku bangun, sudah ada segelas susu coklat "wool" kesukaanku dan sepiring nasi goreng buatan abahku di meja kamarku. Aku sering terharu dengan perlakuannya ini.
Ketika aku mau kembali ke Yogya, abah selalu memesankanku tiket travel "Rahayu" langganannya. Padahal aku sudah cukup gede untuk bisa memesan tiket sendiri. Dan abahku akan sibuk mengepack "barang bawaanku". Dan tepat jam 7 dia sudah siap di ujung gang menanti kedatangan travel yang akan menjemputku. Jika travel itu datang terlambat 5 menit saja dari waktu yang ditentukan abahku akan gelisah karena abahku tidak terbiasa dengan jam karet. Dan ketika travel datang, aku akan mencium tanganya, dia akan mencium keningku, membawakan barang2ku ke bagasi, menitipkanku ke sopir travel dan tidak akan beranjak dari ujung gang sebelum travel yang membawaku hilang dari pandangan. Sungguh bentuk kasih sayang yang menurutku sangat mendalam dibandingkan dengan ribuan kata.
Abahku orang yang menerima sesuatu apa adanya. dia tidak pernah meminta apapun dari orang lain. sampai aku sebesar ini dan sudah mempunyai penghasilan sendiri, tidak pernah satu kalipun terucap di mulutnya untuk dibelikan sesuatu. bahkan ketika abahku harus operasi saluran kencingnya yang tersumbat, dia bersikeras tidak mau meminta bantuan anak-anaknya karena dia merasa masih mampu. Kutelpon berkali kali untuk menanyakan berapa biaya yang harus dikeluarkan siapa tahu aku bisa membantu. Tetapi abahku tetap abahku dia tetap bilang "tidak usah". Sampai akhirnya aku menelpon pamanku dan memberikan bantuan sekedarnya untuk kelangsungan operasi itu lewat tangan pamanku.Ah, abah nampaknya aku masih perlu waktu untuk bisa berbakti kepadamu. dan bagaimana aku bisa berbakti kepadamu kalau lewat telpon saja aku tidak tidak bisa?
abah, maafkan aku. Aku berjanji akan menyapamu lewat telpon secara teratur dan akan melantunkan doa buatmu sehabis sholatku.
Abah, apa yang abah lakukan pada malam tahun baru hijriyah tahun? Apakah masih seperti dahulu? Orang-orang kampung berdatangan dengan membawa makanan kecil kerumah dan abah melantunkan doa yang ditirukan orang-orang tsb?
Selamat tahun baru hijriyah abah. Selamat tahun baru Hijriyah 1425 dunia. Semoga Ketulusan abahku bisa mewarnai dunia di tahun yang baru ini.
Ps: Selamat Menempuh hidup baru Renha dan Ricky! Semoga bahtera rumah tangga kalian adalah keluarga yang sakinah. Mawaddah wa rohmah.
Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 19 bagi mbak Rieke dan Pak Hendro Purnomo. Semoga Cinta membawa kebahagian abadi bersama Nara dan Dipta.
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










