Potret Sebuah Negeri
Thursday, February 26, 2004
Ketika pakaian sudah menjadi raja
anak-anak jalanan yang telanjang menjadi tidak berharga
Ketika tanda tangan penguasa sudah menjadi Berhala
orang-orang jelata menjadi budak di neraka
Inilah negeriku
negeri surga bagi para raja diraja
negeri nereka bagi para jelata
Entah kenapa setiap kali pesawat hendak mendarat di Bandara Soekarno- Hatta Jakrta hatiku berdebar-debar tidak karu2an. Melebihi debaran-debaran ketika sedang jatuh cinta. Bayangan kejahatan, Pungutan liar, perbedaan perlakuan karena status sosial selalu ada di benakku. Dan nyatanya memang banyak hal yang membuatku miris pernah menghampiriku di bandara Soekarno Hatta ini.
Suatu saat aku pernah pernah berhadapan dengan petugas bandara yang tiba-tiba saja hendak memaksaku untuk membuka seluruh isi koperku. Tetapi ketika melihat paspor biruku, si bapak setengah baya yang tadi memaksaku bermuka masam tiba-tiba berubah menjadi manusia ramah. Paspor biru memang kadang-kadang sakti. Tetapi bukankah sudah seharusnya seorang petugas bandara ramah kepada siapa saja tanpa pandang bulu? apalagi kondisi orang bepergian sangatlah rentan.
Pada saat yang lain, aku mengantri untuk check in di sebuah Counter penerbangan Indonesia. Di belakang saya ada beberapa TKW yang akan kembali ke kampung asalnya setelah memeras keringat di negeri orang. Petugas Counter mengatakan bahwa aku tidak bisa melanjutkan terbang ke Yogyakarta karena tiketku belum OK. Dengan kondisi badan yang capek, saya segera mengontak Project yang memberiku beasiswa serta sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk urusan tiketku. Staff project mengatakan mungkin telah terjadi kesalah pahaman. Samar-samar kulihat seseorang berdasi rapi langsung membeli tiket disitu dan bisa berangkat saat itu juga. Tetapi aku sudah penat. Aku Ingin merebahkan tubuh setelah 26 jam terbang tanpa harus mengeluarkan barang-barang bawaanku yg terdiri dari 2 kardus perangkat komputer dan 2 koper besar pakaian, buku2 dan oleh-oleh. Project akhirnya memberiku sebuah kamar di sebuah hotel yang ada di bandara soekarno Hatta. Aku teridur nyenyak disitu. Besoknya Aku kembali chek in di Counter yang sama. Para TKW ternyata mengalami nasib serupa denganku. Bedanya mereka harus tidur di ruang tunggu bandara. Ketika antri, petugas meminta para TKW itu membayar uang cancelation sebanyak 25% harga Ticket karena mereka tidak terbang kemaren sore. Aku yang sudah capek dan muak dengan semua ini menjadi naik darah serta merta aku bilang:" 25 % apalagi pak?" mereka sudah disini sejak kemarin sore dan petugas mengatakan tiketnya belum OK" sekarang mereka datang setelah Tiket di OKE kan, kenapa harus membayar lagi?". Mau saya tulis Di Koran pak?"
Serta merta Petugas itu menjadi lunak dan para TKW itu terbebas dari bayaran 25 %. Dan mereka berterimakasih kepadaku dan rame2 membantu mendorong tas bawaanku. Aku sangat senang sekali bisa membantu TKW itu, pahlawan yang banyak mendatangkan devisa bagi negara ini tapi selalu saja menjadi bulan-bulanan birokrasi. Ternyata lumayan di Negeri ini Koran masih ditakuti.
Peristiwa lain yang menimpaku dibandara Soekarno Hatta adalah ketika aku harus pulang ke Yogya dengan menggunakan pesawat kelas Bussiness. Kebetulan hari itu tiket pesawat kelas ekonomi dari Jakarta ke Yogya sdah habis. Karena saya harus berada di Yogyakarta saat itu juga karena Ibu saya meninggal, Project terpaksa memberiku Bussiness Ticket.
Dengan wajah yang lusuh karena menangis kehilangan ibu. Dengan Pakaian jeans IKEDA Overall yang sudah tidak karuan bentuknya. Kerudung hitam di tali kebelakang, aku menenteng ransel tuaku ke LOUNGE untuk kelas bussiness. Petugasnya dengan tidak memandang wajahku langsung berkata ;
" mbak, kalo mau menunggu pesawat silahkan duduk di tempat itu" katanya sambil menunjuk bangku kelas ekonomi.
" Tapi saya ingin masuk ke situ" kataku sambil menunjuk ruang tunggu ekskutif itu. " kayaknya tempat duduknya empuk dan ada makannya tuh"
"Tapi tempat ini khusus untuk kelas bussines mbak" katanya dengan nada tinggi " mbak harus mempunyai undangan khusus dan para TKW lainya juga biasanya duduk di bangku yang sana mbak bukan di ruangan ini"
" bagaimana kalau saya punya ini?" kataku sambil menunjukkan Tiket bussines dan undangannya. "apa boleh saya, TKW ini boleh masuk kesitu pak?" kata saya dengan gaya memelas.
"oh silakan bu" nada suaranya berubah. Dia langsung tergopoh2 membawakan ranselku. Dan dia jadi bercerita banyak denganku. Ternyata lembaran tiket eksekutif bisa mengubah sikap seseorang di negeri ini. Dan bandara soekarno hatta adalah potret kecil sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Didalam pesawatpun kita bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Seorang aktivis perempuan mengeluh ketika dia meminta majalah kepada seorang pramugari, pramugari dengan entengnya mengatakan bahwa koleksi yang ada dipesawat itu adalah koleksi yang menggunakan bahasa Inggris. Tentu saja hal itu merupakan pelecehan terhadap aktivis perempuan yang sudah malang melintang mengikuti konfrensi International ini. Dia dianggap tidak bisa berbahasa inggris karena dia hanya mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja.
Akhirnya suatu kali sebuah organisasi menemukan cara membooking tiket pesawat agar para anggotanya di hormati oleh petugas2 di pesawat. Organisasi itu mencantumkan gelar DR pada masing-masing tiket pesawat anggotanya yang akan keluar daerah dan mencantumkan gelar Amd pada seorang kawan saya. Hasilnya sangat mengagumkan!
Saya dengan jeans kesayangan dan ransel tua di hormati sepanjang perjalanan menuju Lombok. Dan para pramugari dan pramugara nya tersenyum terus kepada saya dan kawan saya. Ketika kita mau keluar dari pesawat seorang pramugara dengan senyumnya yang ramah dan tulus mengatakan: "Selamat jalan ibu DR Labibah". Saya terbahak-bahak menertawakan ketidaktulusan mereka. dengan gelar-gelaran sampai nama saya pun masih dia ingat. Sedangkan teman saya yang sebenernya sudah Master tetapi di tiket mencantumkan Amd tidak pernah di gubris keberadaannya di pesawat itu dan dia manyun di sepanjang perjalanan.
Cukup sekali saja menggunakan Doktor "pura2" tapi jelas terbukti bahwa Pencantuman gelar amat sangat penting untuk mendapatkan pelayanan yang bagus di negeri ini. Mudah-mudahan saya benar-benar bisa menjadi DR betulan ya bukan hanya doktor doktoran agar bisa mendapatkan pelayanan ramah di pesawat.
Ps: SElamat Ulang tahun Pernikahan ke empat Tira dan Oliver
Semoga senantiasa teduh dalam biduk keluarga yang sakinah.
SElamat Ulang tahun Daniel! Semoga hari harimu selalu indah dan bahagia bersama papa dan mama Ita
Beberapa hari yang lalu, saya masak Lasagna ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
anak-anak jalanan yang telanjang menjadi tidak berharga
Ketika tanda tangan penguasa sudah menjadi Berhala
orang-orang jelata menjadi budak di neraka
Inilah negeriku
negeri surga bagi para raja diraja
negeri nereka bagi para jelata
Entah kenapa setiap kali pesawat hendak mendarat di Bandara Soekarno- Hatta Jakrta hatiku berdebar-debar tidak karu2an. Melebihi debaran-debaran ketika sedang jatuh cinta. Bayangan kejahatan, Pungutan liar, perbedaan perlakuan karena status sosial selalu ada di benakku. Dan nyatanya memang banyak hal yang membuatku miris pernah menghampiriku di bandara Soekarno Hatta ini.
Suatu saat aku pernah pernah berhadapan dengan petugas bandara yang tiba-tiba saja hendak memaksaku untuk membuka seluruh isi koperku. Tetapi ketika melihat paspor biruku, si bapak setengah baya yang tadi memaksaku bermuka masam tiba-tiba berubah menjadi manusia ramah. Paspor biru memang kadang-kadang sakti. Tetapi bukankah sudah seharusnya seorang petugas bandara ramah kepada siapa saja tanpa pandang bulu? apalagi kondisi orang bepergian sangatlah rentan.
Pada saat yang lain, aku mengantri untuk check in di sebuah Counter penerbangan Indonesia. Di belakang saya ada beberapa TKW yang akan kembali ke kampung asalnya setelah memeras keringat di negeri orang. Petugas Counter mengatakan bahwa aku tidak bisa melanjutkan terbang ke Yogyakarta karena tiketku belum OK. Dengan kondisi badan yang capek, saya segera mengontak Project yang memberiku beasiswa serta sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk urusan tiketku. Staff project mengatakan mungkin telah terjadi kesalah pahaman. Samar-samar kulihat seseorang berdasi rapi langsung membeli tiket disitu dan bisa berangkat saat itu juga. Tetapi aku sudah penat. Aku Ingin merebahkan tubuh setelah 26 jam terbang tanpa harus mengeluarkan barang-barang bawaanku yg terdiri dari 2 kardus perangkat komputer dan 2 koper besar pakaian, buku2 dan oleh-oleh. Project akhirnya memberiku sebuah kamar di sebuah hotel yang ada di bandara soekarno Hatta. Aku teridur nyenyak disitu. Besoknya Aku kembali chek in di Counter yang sama. Para TKW ternyata mengalami nasib serupa denganku. Bedanya mereka harus tidur di ruang tunggu bandara. Ketika antri, petugas meminta para TKW itu membayar uang cancelation sebanyak 25% harga Ticket karena mereka tidak terbang kemaren sore. Aku yang sudah capek dan muak dengan semua ini menjadi naik darah serta merta aku bilang:" 25 % apalagi pak?" mereka sudah disini sejak kemarin sore dan petugas mengatakan tiketnya belum OK" sekarang mereka datang setelah Tiket di OKE kan, kenapa harus membayar lagi?". Mau saya tulis Di Koran pak?"
Serta merta Petugas itu menjadi lunak dan para TKW itu terbebas dari bayaran 25 %. Dan mereka berterimakasih kepadaku dan rame2 membantu mendorong tas bawaanku. Aku sangat senang sekali bisa membantu TKW itu, pahlawan yang banyak mendatangkan devisa bagi negara ini tapi selalu saja menjadi bulan-bulanan birokrasi. Ternyata lumayan di Negeri ini Koran masih ditakuti.
Peristiwa lain yang menimpaku dibandara Soekarno Hatta adalah ketika aku harus pulang ke Yogya dengan menggunakan pesawat kelas Bussiness. Kebetulan hari itu tiket pesawat kelas ekonomi dari Jakarta ke Yogya sdah habis. Karena saya harus berada di Yogyakarta saat itu juga karena Ibu saya meninggal, Project terpaksa memberiku Bussiness Ticket.
Dengan wajah yang lusuh karena menangis kehilangan ibu. Dengan Pakaian jeans IKEDA Overall yang sudah tidak karuan bentuknya. Kerudung hitam di tali kebelakang, aku menenteng ransel tuaku ke LOUNGE untuk kelas bussiness. Petugasnya dengan tidak memandang wajahku langsung berkata ;
" mbak, kalo mau menunggu pesawat silahkan duduk di tempat itu" katanya sambil menunjuk bangku kelas ekonomi.
" Tapi saya ingin masuk ke situ" kataku sambil menunjuk ruang tunggu ekskutif itu. " kayaknya tempat duduknya empuk dan ada makannya tuh"
"Tapi tempat ini khusus untuk kelas bussines mbak" katanya dengan nada tinggi " mbak harus mempunyai undangan khusus dan para TKW lainya juga biasanya duduk di bangku yang sana mbak bukan di ruangan ini"
" bagaimana kalau saya punya ini?" kataku sambil menunjukkan Tiket bussines dan undangannya. "apa boleh saya, TKW ini boleh masuk kesitu pak?" kata saya dengan gaya memelas.
"oh silakan bu" nada suaranya berubah. Dia langsung tergopoh2 membawakan ranselku. Dan dia jadi bercerita banyak denganku. Ternyata lembaran tiket eksekutif bisa mengubah sikap seseorang di negeri ini. Dan bandara soekarno hatta adalah potret kecil sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Didalam pesawatpun kita bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Seorang aktivis perempuan mengeluh ketika dia meminta majalah kepada seorang pramugari, pramugari dengan entengnya mengatakan bahwa koleksi yang ada dipesawat itu adalah koleksi yang menggunakan bahasa Inggris. Tentu saja hal itu merupakan pelecehan terhadap aktivis perempuan yang sudah malang melintang mengikuti konfrensi International ini. Dia dianggap tidak bisa berbahasa inggris karena dia hanya mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja.
Akhirnya suatu kali sebuah organisasi menemukan cara membooking tiket pesawat agar para anggotanya di hormati oleh petugas2 di pesawat. Organisasi itu mencantumkan gelar DR pada masing-masing tiket pesawat anggotanya yang akan keluar daerah dan mencantumkan gelar Amd pada seorang kawan saya. Hasilnya sangat mengagumkan!
Saya dengan jeans kesayangan dan ransel tua di hormati sepanjang perjalanan menuju Lombok. Dan para pramugari dan pramugara nya tersenyum terus kepada saya dan kawan saya. Ketika kita mau keluar dari pesawat seorang pramugara dengan senyumnya yang ramah dan tulus mengatakan: "Selamat jalan ibu DR Labibah". Saya terbahak-bahak menertawakan ketidaktulusan mereka. dengan gelar-gelaran sampai nama saya pun masih dia ingat. Sedangkan teman saya yang sebenernya sudah Master tetapi di tiket mencantumkan Amd tidak pernah di gubris keberadaannya di pesawat itu dan dia manyun di sepanjang perjalanan.
Cukup sekali saja menggunakan Doktor "pura2" tapi jelas terbukti bahwa Pencantuman gelar amat sangat penting untuk mendapatkan pelayanan yang bagus di negeri ini. Mudah-mudahan saya benar-benar bisa menjadi DR betulan ya bukan hanya doktor doktoran agar bisa mendapatkan pelayanan ramah di pesawat.
Ps: SElamat Ulang tahun Pernikahan ke empat Tira dan Oliver
Semoga senantiasa teduh dalam biduk keluarga yang sakinah.
SElamat Ulang tahun Daniel! Semoga hari harimu selalu indah dan bahagia bersama papa dan mama Ita
Beberapa hari yang lalu, saya masak Lasagna ala Syl yang juga dipaparkan di Forum Blogger family dan hasilnya adalah:
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










