Adakah yang lebih buruk dariku?
Monday, March 01, 2004
tik tok tik tok
enam puluh detik berlalu
tik tok tik tok
enam puluh menit berlalu
tik tok tik tok
dua puluh empat jam berlalu
tik tok tik tok
tujuh hari berlalu
tik tok tik tok
empat minggu berlalu
tik tok tik tok
dua belas bulan berlalu
tik tok tik tok
delapan tahun berlalu
menjadi sewindu
sementara aku masih berdiri di situ
enggan bersetubuh dengan sang waktu
Rumah kita masih saja begitu
kosong dan lugu
oh Suamiku dan anak-anakku
maafkan aku
tik tok tik tok
mampukah aku bertahan
sedang waktu adalah tuhan
Ketika orang menyebut kata “memasak”, yang muncul dibenakku adalah ribuan kerepotan dari pembelian bahan-bahannya, pengolahannya, rasanya yang kadang tidak sesuai dengan yang kita bayangkan sampai kerepotan mencuci perabotan masak memasak. Aku selalu trauma kalau orang menyebut kata “memasak”.
Sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara yang semuanya berjenis kelamin perempuan, aku sangatlah dimanja dalam urusan masak memasak ini. Kedua kakak perempuanku sanang dan pintar memasak, bu yah, nenekku juga ahli memasak, abahku juga tidak canggung memasak, yu tun juga sangat bisa memasak. Karena kesibukannya ibu jarang memasak dan memang tidak ada momen yang mengharuskan ibuku dan aku memasak. Karena seisi rumah sudah lebih ahli memasak.
Tetapi akhirnya saat itu datang juga, Bu yah, nenekku itu operasi mata dan tidak bisa memasak untuk kami. Yu tun, tidak bisa datang untuk memasak di rumah kami. Kedua kaka perempuanku harus sekolah. Ibuku harus mengajar dan abahkupun harus bekerja.
Tinggalah aku yang kebetulan masuk siang dan Bu yah yang harus berbaring di tempat tidur karena operasi kataraknya. Akhirnya aku memutuskan untuk menyiapkan masakan untuk keluargaku. Dan itulah pertama kali aku memasak untuk keluargaku.
Bu Yah memberikan wejangan apa saja yang harus aku beli. Aku catat semuanya di kertas. Akupun pergi belanja di warung tetangga dengan sukses. Menu yang aku buat adalah sayur asem, tempe goreng dan ceplok telur untuk abahku. Setiap kali aku hendak melakukan sesuatu aku selalu teriak2 meminta petunjuk Bu yah dan bu yahpun memebrikan petunjuk dgn sempurna. Sayur asem selesai. Buyah mencicipi dan sukses. Cukup enak. Begitu kata Bu yah. Tempe juga sukses digoreng. Giliran menceplok telur, aku gemetaran karena ada kulit telur yang ikut nyemplung di wajan. Dan putih telur jadi kuning kehitam hitaman. Tapi tak apalah kusajikan juga buat ayahku. Ketika menyantap telor mata sapi ku ayahku bilang telur itu lebih mirip kerupuk daripada sebuah telor. Tak apalah seluruh keluraga ku bangga terhadapku. Akupun bangga dengan diriku sendiri dengan sayur asem dan telor rasa krupuk itu.
Tapi setelah itu aku tidak pernah lagi memasak. Aku memang sering ikut berkemah karena aku anggota pramuka. Tetapi aku sering tidak mendapat tugas memasak mungkin orang tidak mau menanggung resiko hasil masakanku. Tapi saat itu datang juga ketika aku harus pulang ke Pekalongan di tengah2 perkemahan saka bhayangkara di Purwodadi untuk mengikuti lomba cerdas cermat P3K. Seluruh anggota pergi mencari jejak dan aku merasa bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan sebelum aku pergi ke Pekalongan. Tentu saja mereka akan senang sekali kalau ada sesuatu yang bisa dimakan setelah mereka berlelah-lelah menjelajah hutan.
Aku lihat ada stumpuk mie mentah. Akhirnya aku mencoba memasak mie ayam. Aku sudah lupa bumbu apa yang kukasih. Yang jelas bgitu selesai masak, aku pulang ke pekalongan. 3 hari kemudian, teman-temanku pulang dari Purwodadi dan rame2 menyerbu rumahku untuk menertawakanku sembari men "demo" diriku yang sudah memasak mie mengembang rasa cuka. Dari situ aku tau kalau mau memasak mie, mie nya harus di pisahkan dari kuahnya. Baru nanti kalau mau dimakan, mie dapat dicampur dengan kuahnya. Pantes saja teman-temanku kesel campur geli karena mienya jadi mengembang,tercampur air selama berjam-jam. Aku benar-benar trauma memasak.
Ketika kuliah aku tidak pernah memasak. Takut cara memasakku di kritik banyak orang. Bagaimana tidak trauma, ketika memasak indomie saja, temen-temen yang lebih senior sudah mengkritikku karena cara menyobek bumbu yang salah lah, memasukkan mie kedalam airnya yang tidak pas timingnya lah, cara mengaduk bumbu yang tidak ratalah. Atau ketika membantu temanku memasak, aku kalau menggoreng sesuatu sambil berlari2 kesana kemari karena menghindari percikan minyak dan semakin banyaklah kritikan itu. Akibatnya aku gugup kalau memasak karena apa yang aku lakukan selalu saja saja salah dan tidak sesuai dengan standar masak memasak.
Ketika menikah, rumah kontrakanku dikelilingi oleh warung makanan dari warung padang sampai warung jawa timuran. Warung- warung makan pagi hari bertebaran dan warung malampun ada dimana-mana. Jadilah saya hanya bisa memasak nasi putih saja. Pernah mencoba memasak sendiri dengan menu sayur asam dan sambal goreng daging. Hasilnya? Suamiku nampak berusaha sekuat tenaga untuk mengahabiskan masakanku dengan mukanya yang nyengir2 karena keasinan yang amat sangat. Aku menjadi trauma memasak dan memilih untuk membeli makanan yang sudah jadi. Dan suamikupun selalu melarangku untuk memasak. mungkin karena trauma juga, takut disuruh menghabiskan masakanku yg tidak karu2an itu.
Aku tetap bisa hidup tanpa memasak sendiri. Apalagi kemudian aku punya pembantu yang sangat pintar memasak samapi aku memercayakan pengaturan menu kepada dia. Di tambah lagi suamiku yang berhati samudra itu tidak pernah mempersoalkn masalah makanan. Sampai akhirnya aku harus berangkat ke Canada.
4 hari di di Montreal, aku dikejutkan dengan adanya acara bedah GBHN yang diadakan oleh organisasi mahasiswa Indonesia di Montreal yang akan di hadiri oleh Duta besar dan orang2 besar di Konsulat jendral. Dan seluruh mahasiswa Indonesia kebagian jatah memasak. Aku dan Rommate ku, Lia mau tidak mau harus bias memasak sup untuk 200 orang. Berbagai alasan kucari untuk menghindari tugas itu. Aku bukan pura2 tidak bisa memasak tetapi memang aku benar2 tidak bisa memasak. Tetapi tugas adalah tugas. Aku harus tetap harus memasak. Aku dan Lia, bersatu padu memasak sup itu. Dan hasilnya ibu konjen memuji sup itu. Entahlah, kalau disuruh mengulangi memasak sop lagi dengan rasa yg sama mungkin aku tidak bisa.
Hidup di negeri orang memang dituntut untuk bisa memasak kalau ingin merasakan masakan yang sesuai dengan lidah dan kantong tidak terkuras serta tidak ingin malu di ajang pot lack an di Montreal. Akhirnya aku sering memasak dengan menu berdasarkan "feeling". Sehingga aku sendiri tidak tau apa nama masakanku itu. Seorang kawan di Montreal pernah bilang bahwa masakanku serasa nano nano. Di bibir serasa lodeh, di lidah serasa tongseng, sampai tenggorokan serasa Sop. Aku tergelak-gelak mendengarnya. Tetapi memang begitulah rasa masakanku.
Sekarang ini di Montreal aku dikenal sebagai orang yang paling "pinter" masak nasi kebuli dan tauto Pekalongan. Tetapi aku tidak tahu apakah masakan-masakanku itu benar2 enak atau karena orang-orang itu tidak pernah merasakan nasi kebuli dan tauto pekalongan di daerah aslinya. Jadi percaya saja bahwa yang kumasak itu adalah kebuli dan tauto pekalongan karena aku sendiri sampai sekarang belum tau apa sebenernya bumbu nasi kebuli dan tauto pekalongan itu.
Akhir-akhir ini, aku gemar mencoba masakan yang ada di Forum Blogger family. Hasilnya tidak mengecewakan. Mungkin inilah salah satu hasil “ngeblogku”. Aku tidak begitu trauma lagi dengan kata ‘memasak”.
Ps: Hari sabtu yang lalu, Montreal Forum mengadakan diskusi bulanan di Cote vertu serta juga mengadakan syukuran atas lahirnya putra kedua sang koordinator, Agus Nuryatno. Diskusinya tentang Social Welfare sedangkan menu makannya adalah sbb:








dari kiri kekanan searah jarum jam: ikan, sate, nasi kuning, gethuk, acar, semur, ibu2 seksi sibuk para pemasak sejati (mbak menuk, kak yayah, julia dan Ratna), serta situasi diskusi yang hingar bingar rame juga dgn celoteh anak-anak serta mama nining si pembawa acar( eh ternyata ninink bawa minum--see Commens--- yg bikin acar mbak menuk ternyata) dan aku yg cuman bawa ice cream.
Ps lagi: Selamat atas pernikahan Noenky dan Wolfgang. Semoga hari2 menjadi lebih indah dan penuh kasih sayang.
enam puluh detik berlalu
tik tok tik tok
enam puluh menit berlalu
tik tok tik tok
dua puluh empat jam berlalu
tik tok tik tok
tujuh hari berlalu
tik tok tik tok
empat minggu berlalu
tik tok tik tok
dua belas bulan berlalu
tik tok tik tok
delapan tahun berlalu
menjadi sewindu
sementara aku masih berdiri di situ
enggan bersetubuh dengan sang waktu
Rumah kita masih saja begitu
kosong dan lugu
oh Suamiku dan anak-anakku
maafkan aku
tik tok tik tok
mampukah aku bertahan
sedang waktu adalah tuhan
Ketika orang menyebut kata “memasak”, yang muncul dibenakku adalah ribuan kerepotan dari pembelian bahan-bahannya, pengolahannya, rasanya yang kadang tidak sesuai dengan yang kita bayangkan sampai kerepotan mencuci perabotan masak memasak. Aku selalu trauma kalau orang menyebut kata “memasak”.
Sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara yang semuanya berjenis kelamin perempuan, aku sangatlah dimanja dalam urusan masak memasak ini. Kedua kakak perempuanku sanang dan pintar memasak, bu yah, nenekku juga ahli memasak, abahku juga tidak canggung memasak, yu tun juga sangat bisa memasak. Karena kesibukannya ibu jarang memasak dan memang tidak ada momen yang mengharuskan ibuku dan aku memasak. Karena seisi rumah sudah lebih ahli memasak.
Tetapi akhirnya saat itu datang juga, Bu yah, nenekku itu operasi mata dan tidak bisa memasak untuk kami. Yu tun, tidak bisa datang untuk memasak di rumah kami. Kedua kaka perempuanku harus sekolah. Ibuku harus mengajar dan abahkupun harus bekerja.
Tinggalah aku yang kebetulan masuk siang dan Bu yah yang harus berbaring di tempat tidur karena operasi kataraknya. Akhirnya aku memutuskan untuk menyiapkan masakan untuk keluargaku. Dan itulah pertama kali aku memasak untuk keluargaku.
Bu Yah memberikan wejangan apa saja yang harus aku beli. Aku catat semuanya di kertas. Akupun pergi belanja di warung tetangga dengan sukses. Menu yang aku buat adalah sayur asem, tempe goreng dan ceplok telur untuk abahku. Setiap kali aku hendak melakukan sesuatu aku selalu teriak2 meminta petunjuk Bu yah dan bu yahpun memebrikan petunjuk dgn sempurna. Sayur asem selesai. Buyah mencicipi dan sukses. Cukup enak. Begitu kata Bu yah. Tempe juga sukses digoreng. Giliran menceplok telur, aku gemetaran karena ada kulit telur yang ikut nyemplung di wajan. Dan putih telur jadi kuning kehitam hitaman. Tapi tak apalah kusajikan juga buat ayahku. Ketika menyantap telor mata sapi ku ayahku bilang telur itu lebih mirip kerupuk daripada sebuah telor. Tak apalah seluruh keluraga ku bangga terhadapku. Akupun bangga dengan diriku sendiri dengan sayur asem dan telor rasa krupuk itu.
Tapi setelah itu aku tidak pernah lagi memasak. Aku memang sering ikut berkemah karena aku anggota pramuka. Tetapi aku sering tidak mendapat tugas memasak mungkin orang tidak mau menanggung resiko hasil masakanku. Tapi saat itu datang juga ketika aku harus pulang ke Pekalongan di tengah2 perkemahan saka bhayangkara di Purwodadi untuk mengikuti lomba cerdas cermat P3K. Seluruh anggota pergi mencari jejak dan aku merasa bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan sebelum aku pergi ke Pekalongan. Tentu saja mereka akan senang sekali kalau ada sesuatu yang bisa dimakan setelah mereka berlelah-lelah menjelajah hutan.
Aku lihat ada stumpuk mie mentah. Akhirnya aku mencoba memasak mie ayam. Aku sudah lupa bumbu apa yang kukasih. Yang jelas bgitu selesai masak, aku pulang ke pekalongan. 3 hari kemudian, teman-temanku pulang dari Purwodadi dan rame2 menyerbu rumahku untuk menertawakanku sembari men "demo" diriku yang sudah memasak mie mengembang rasa cuka. Dari situ aku tau kalau mau memasak mie, mie nya harus di pisahkan dari kuahnya. Baru nanti kalau mau dimakan, mie dapat dicampur dengan kuahnya. Pantes saja teman-temanku kesel campur geli karena mienya jadi mengembang,tercampur air selama berjam-jam. Aku benar-benar trauma memasak.
Ketika kuliah aku tidak pernah memasak. Takut cara memasakku di kritik banyak orang. Bagaimana tidak trauma, ketika memasak indomie saja, temen-temen yang lebih senior sudah mengkritikku karena cara menyobek bumbu yang salah lah, memasukkan mie kedalam airnya yang tidak pas timingnya lah, cara mengaduk bumbu yang tidak ratalah. Atau ketika membantu temanku memasak, aku kalau menggoreng sesuatu sambil berlari2 kesana kemari karena menghindari percikan minyak dan semakin banyaklah kritikan itu. Akibatnya aku gugup kalau memasak karena apa yang aku lakukan selalu saja saja salah dan tidak sesuai dengan standar masak memasak.
Ketika menikah, rumah kontrakanku dikelilingi oleh warung makanan dari warung padang sampai warung jawa timuran. Warung- warung makan pagi hari bertebaran dan warung malampun ada dimana-mana. Jadilah saya hanya bisa memasak nasi putih saja. Pernah mencoba memasak sendiri dengan menu sayur asam dan sambal goreng daging. Hasilnya? Suamiku nampak berusaha sekuat tenaga untuk mengahabiskan masakanku dengan mukanya yang nyengir2 karena keasinan yang amat sangat. Aku menjadi trauma memasak dan memilih untuk membeli makanan yang sudah jadi. Dan suamikupun selalu melarangku untuk memasak. mungkin karena trauma juga, takut disuruh menghabiskan masakanku yg tidak karu2an itu.
Aku tetap bisa hidup tanpa memasak sendiri. Apalagi kemudian aku punya pembantu yang sangat pintar memasak samapi aku memercayakan pengaturan menu kepada dia. Di tambah lagi suamiku yang berhati samudra itu tidak pernah mempersoalkn masalah makanan. Sampai akhirnya aku harus berangkat ke Canada.
4 hari di di Montreal, aku dikejutkan dengan adanya acara bedah GBHN yang diadakan oleh organisasi mahasiswa Indonesia di Montreal yang akan di hadiri oleh Duta besar dan orang2 besar di Konsulat jendral. Dan seluruh mahasiswa Indonesia kebagian jatah memasak. Aku dan Rommate ku, Lia mau tidak mau harus bias memasak sup untuk 200 orang. Berbagai alasan kucari untuk menghindari tugas itu. Aku bukan pura2 tidak bisa memasak tetapi memang aku benar2 tidak bisa memasak. Tetapi tugas adalah tugas. Aku harus tetap harus memasak. Aku dan Lia, bersatu padu memasak sup itu. Dan hasilnya ibu konjen memuji sup itu. Entahlah, kalau disuruh mengulangi memasak sop lagi dengan rasa yg sama mungkin aku tidak bisa.
Hidup di negeri orang memang dituntut untuk bisa memasak kalau ingin merasakan masakan yang sesuai dengan lidah dan kantong tidak terkuras serta tidak ingin malu di ajang pot lack an di Montreal. Akhirnya aku sering memasak dengan menu berdasarkan "feeling". Sehingga aku sendiri tidak tau apa nama masakanku itu. Seorang kawan di Montreal pernah bilang bahwa masakanku serasa nano nano. Di bibir serasa lodeh, di lidah serasa tongseng, sampai tenggorokan serasa Sop. Aku tergelak-gelak mendengarnya. Tetapi memang begitulah rasa masakanku.
Sekarang ini di Montreal aku dikenal sebagai orang yang paling "pinter" masak nasi kebuli dan tauto Pekalongan. Tetapi aku tidak tahu apakah masakan-masakanku itu benar2 enak atau karena orang-orang itu tidak pernah merasakan nasi kebuli dan tauto pekalongan di daerah aslinya. Jadi percaya saja bahwa yang kumasak itu adalah kebuli dan tauto pekalongan karena aku sendiri sampai sekarang belum tau apa sebenernya bumbu nasi kebuli dan tauto pekalongan itu.
Akhir-akhir ini, aku gemar mencoba masakan yang ada di Forum Blogger family. Hasilnya tidak mengecewakan. Mungkin inilah salah satu hasil “ngeblogku”. Aku tidak begitu trauma lagi dengan kata ‘memasak”.
Ps: Hari sabtu yang lalu, Montreal Forum mengadakan diskusi bulanan di Cote vertu serta juga mengadakan syukuran atas lahirnya putra kedua sang koordinator, Agus Nuryatno. Diskusinya tentang Social Welfare sedangkan menu makannya adalah sbb:








dari kiri kekanan searah jarum jam: ikan, sate, nasi kuning, gethuk, acar, semur, ibu2 seksi sibuk para pemasak sejati (mbak menuk, kak yayah, julia dan Ratna), serta situasi diskusi yang hingar bingar rame juga dgn celoteh anak-anak serta mama nining si pembawa acar( eh ternyata ninink bawa minum--see Commens--- yg bikin acar mbak menuk ternyata) dan aku yg cuman bawa ice cream.
Ps lagi: Selamat atas pernikahan Noenky dan Wolfgang. Semoga hari2 menjadi lebih indah dan penuh kasih sayang.
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










