Di dalam sebuah Bis...

Thursday, March 25, 2004



Didalam sebuah bis yang mengangkut kita
ada sebuah dunia yang sarat warna
ada hitam yang menggenang dimata
ada juga yang seputih cinta

Ada yang semerah senyum di musim bunga
ada yang kelabu seperti sudut2 kota tua

didalam sebuah bis yang mengangkut kita
ada beribu persoalan di ketiak dunia!


Setelah 8 bulan menjadi langganan bis bernomor 63 jurusan Girouard- At Water untuk mengantar Yasa Ke Westmont Park School, dan bis jurusan 90 untuk mengantar Daniel di At Water, saya jadi familiar dengan wajah-wajah penumpang dan para supir pada jam berangkat sekolah dan pulang sekolah.

Ada ibu2 berumur sekitar 60 an yang selalu berusaha meberikan tempat duduknya untuk Daniel tetapi selalu saya tolak karena tidak enak rasanya saya duduk sedang dia yang sudah berumur harus berdiri demi saya dan Danial.

Ada ibu2 berumur 45 taunan dengan memakai tongkat yang dengan tegasnya meminta tempat duduk khusus untuk orang cacat yang biasanya telah diduduki oleh anak-anak SMA. dan sering menggerutu kurang lebih dengan mennggunakan bhs Indonesia begini: "emang gak pada liat apa klo kursi ini di tujukan buat orang-orang cacat seperti saya?" seharusnya mereka berdiri sebelum saya minta bukan?" nampaknya anak-anak muda di Montreal ini memang mengalami pergesearn moral dalam hal toleransi meberikan tempat duduk kepada yang lebih tua, cacat atau perempuan dengan anak kecil. tetapi tentu saja tidak semuanya begitu. Hanya mungkin kebetulan saja bis yang saya tumpangi tiap harinya menunjukkan gejala seperti itu.

Ada nenek tua asal rusia sebatangkara yang selalu memulai percakapan dengan orang-orang yang dianggapnya imigran serta selalu meberi hadiah kepada anak-anak yang ada di bis itu. Yasa menyebutnya sebagai "Mrs SaNta" tetapi dia lebih suka disebut "grand Ma" dan berkali-kali meminta saya untuk menelponnya kalau saya dan suami saya ada keperluan mendadak dan dia bersedia menjanjaga anak-anak saya tanpa dibayar.

Ada anak-anak Smp dan SmA yang sibuk mebawa bawa "projeknya" bercanda dengan teman-temannya. Ada Ibu muda yang selalu berhenti di pertigaan sherbrooke sehingga saya bisa berdiri dekat dia untuk mengambil tempat duduknya.

Ada seorang laki2 muda buta yang selalu naik bis nomor 90 duduk dan berjalan menyusuri jalan Atwater dengan tongkat putihnya tanpa bantuan siapapun dan membuat saya kagum akan kemandiriannya. Ada juga Seorang lelaki berusia 50 an yang selalu menggumam dan menjerit-menjerit tidak jelas karena keterbatasan IQ nya dan nampaknya selalu naik dari satu bis ke bis lainnya entah kemana.

Ada Endang beserta kedua anaknya Linggar dan Rizki, tetangga sebuilding yang satu sekolah dengan Yasa, yang selalu saya repotin dengan menitipkan Yasa apabila Daniel sedang sakit dan saya tidak bisa mengantar Yasa ke sekolah. Dan tentu saja ada saya yang sering kali berteriak-teriak kecil memperingatkan daniel yang suka usil menjahili penumpang-penumpang bis dengan tendangan sepatu atau omongan2 nakal ala danial.

Di sebuah bis, ada sebuah dunia. Tuhan memang maha pintar menciptakan manusia dengan segala keunikan, keindahan dan masalah sendiri-sendiri. Tetapi untungnya disini, kebanyakan sopirnya selalu menyapa "Bonjour" ketika kita naik dan mengucapkan "have a nice day" ketika kita turun dgn mengucapkan "thank you" serta menunggu kita benar naik atau turun sebelum menjalankan bisanya membuat kita merasa aman. dan dikota ini pengalaman Abhi Rhay dengan "jetcoaster di jalanan" tidak akan dijumpai di kota Montreal ini.

bagaimana dengan pengalaman pagi hari ini menuju tempat kerja anda?

Ps:Saya bikin Chocolate Chip Cake dan kroket Afrika pada Week end kemaren. Siapa mau?

© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.