Perempuan itu bernama Bu yah
Monday, March 29, 2004
Kepala ini terasa berat, bu yah,
aku ingin menyandarkan sejenak di atas pangkuanmu
dada ini terasa sesak bu yah,
aku ingin menumpahkannya di kudus pelukmu
Kaki-kakiku penat bu yah
aku ingin melepaskan kepenatan itu disudut kasihmu.
agar duka ini senantiasa terhapus fajar
di balik senyummu yang berpijar
agar hidupku menjadi tegar
dengan kasih sayang melatimu yg selalu berpendar .
Tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang mengingatku pada perempuan tua yang menjadi nenekku, yang ku panggil dengan sebutan "bu yah". Perempuan yang sangat pandai memasak acar-acaran didapur rumahku. Perempuan dengan sejuta senyuman dan cerita. Perempuan yang selalu mengulurkan tali silaturahmi. Perempuan yang mengenalkanku tentang sosok "joko kendil", "timun emas", "bawang merah dan bawang putih" serta cerita - cerita rakyat lainnya. Perempuan yang paling dekat denganku selain ibuku. Perempuan yang selalu menyediakan pelukannya ketika aku dimarahi abahku. Bu yah, perempuan yang memijitiku ketika aku kecapekan dan memberikan elusan di rambutku menjelang tidurku. Bu yah, perempuan yang selalu terjaga di tengah malam ketika aku menangis dan memenuhi keinginanku untuk keluar rumah di tengah malam itu, menggendongku sambil membaca sholawat sampai aklu tertidur lagi.
Bu yah sebenernya adek dari kakek dari pihak ibuku. Menurut saudara-saudaraku, bu yah adalah perempuan yang sangat cantik dimasa mudanya. Anak seorang "letnan" pada jaman belanda. Menikah pada saat usia yang masih muda.
Buyah memang sangat cantik bahkan ketika dia sudah berumurpun, sisa2 kecantikannya masih sangat kentara. Bu yah dengan kasih sayang yang seteduh awan mengajari kami cara merwat rambut dengan minyak kelapa asli dan memaksa aku dan kedua kakakku untuk memakai minyak kelapa itu sejak aku ingat bahwa aku hidup di dunia ini. Jadilah kami bertiga antri menuju pangkuan bu yah untuk meminyaki rambut kami sebelum berangkat sekolah. Tak heranlah orang-orang memandangi rambut kami dengan kagum karena kehitaman dan kelebatannya.
Bu yah, perempuan berhati seputih kapas yang mengajarkanku cara berbelanja. Aku selalu mengikutinya ketika dia belnja di pasar Sorogenen dan Pasar Poncol Pekalongan. Bu yah yang dicintai oleh seluruh penghuni pasar karena keramahannya.
Bu yah yang terpakasa tidak bisa melihat keindahan dunia ini melalui kedua matanya karena kegagalan operasi katarak. Bu yah yang mempunyai pendengaran tajam yang luar biasa. Bu yah yang selalu menangis setiap kali aku mau berangkat ke Yogya untuk kuliah. Bu yah yang selalu menyuruhku mengaji didekat dia karena dengan kondisi penglihatannya yang seperti itu, tidak memungkinkannya melihat huruf2 yang ada di Al Qur'an. Bu yah, yang ketika meninggal aku tidak bisa mendampinginya karena aku sedang berada di Yogya. Meninggalnya bu yah yang mebuat aku tidak malu menangis meraung-meraung di Teater Eska tanpa peduli sekitarku.
Bu yah bukan sekedar nenek bagiku. Bu yah adalah ibu kedua yang mempunyai kasih sayang sebening embun dan kesabaran seluas langit.Bu yah yang tetap menghujaniku dengan pelukan dan ciuman meskipun aku sudah lulus kuliah S1ku. Satu kata yang luput aku katakan pada beliau bahwa aku sangat mencintainya. Bu yah akan selalu ada dalam doa-doaku. Aku yakin lebih berbahagia di "sana". Al fatihah!
Ps : Kemarin aku memasak ayam bakar ala mamanya abang dan Chika serta bakwan jagung. Ah enak sekali saudara2.


aku ingin menyandarkan sejenak di atas pangkuanmu
dada ini terasa sesak bu yah,
aku ingin menumpahkannya di kudus pelukmu
Kaki-kakiku penat bu yah
aku ingin melepaskan kepenatan itu disudut kasihmu.
agar duka ini senantiasa terhapus fajar
di balik senyummu yang berpijar
agar hidupku menjadi tegar
dengan kasih sayang melatimu yg selalu berpendar .
Tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang mengingatku pada perempuan tua yang menjadi nenekku, yang ku panggil dengan sebutan "bu yah". Perempuan yang sangat pandai memasak acar-acaran didapur rumahku. Perempuan dengan sejuta senyuman dan cerita. Perempuan yang selalu mengulurkan tali silaturahmi. Perempuan yang mengenalkanku tentang sosok "joko kendil", "timun emas", "bawang merah dan bawang putih" serta cerita - cerita rakyat lainnya. Perempuan yang paling dekat denganku selain ibuku. Perempuan yang selalu menyediakan pelukannya ketika aku dimarahi abahku. Bu yah, perempuan yang memijitiku ketika aku kecapekan dan memberikan elusan di rambutku menjelang tidurku. Bu yah, perempuan yang selalu terjaga di tengah malam ketika aku menangis dan memenuhi keinginanku untuk keluar rumah di tengah malam itu, menggendongku sambil membaca sholawat sampai aklu tertidur lagi.
Bu yah sebenernya adek dari kakek dari pihak ibuku. Menurut saudara-saudaraku, bu yah adalah perempuan yang sangat cantik dimasa mudanya. Anak seorang "letnan" pada jaman belanda. Menikah pada saat usia yang masih muda.
Buyah memang sangat cantik bahkan ketika dia sudah berumurpun, sisa2 kecantikannya masih sangat kentara. Bu yah dengan kasih sayang yang seteduh awan mengajari kami cara merwat rambut dengan minyak kelapa asli dan memaksa aku dan kedua kakakku untuk memakai minyak kelapa itu sejak aku ingat bahwa aku hidup di dunia ini. Jadilah kami bertiga antri menuju pangkuan bu yah untuk meminyaki rambut kami sebelum berangkat sekolah. Tak heranlah orang-orang memandangi rambut kami dengan kagum karena kehitaman dan kelebatannya.
Bu yah, perempuan berhati seputih kapas yang mengajarkanku cara berbelanja. Aku selalu mengikutinya ketika dia belnja di pasar Sorogenen dan Pasar Poncol Pekalongan. Bu yah yang dicintai oleh seluruh penghuni pasar karena keramahannya.
Bu yah yang terpakasa tidak bisa melihat keindahan dunia ini melalui kedua matanya karena kegagalan operasi katarak. Bu yah yang mempunyai pendengaran tajam yang luar biasa. Bu yah yang selalu menangis setiap kali aku mau berangkat ke Yogya untuk kuliah. Bu yah yang selalu menyuruhku mengaji didekat dia karena dengan kondisi penglihatannya yang seperti itu, tidak memungkinkannya melihat huruf2 yang ada di Al Qur'an. Bu yah, yang ketika meninggal aku tidak bisa mendampinginya karena aku sedang berada di Yogya. Meninggalnya bu yah yang mebuat aku tidak malu menangis meraung-meraung di Teater Eska tanpa peduli sekitarku.
Bu yah bukan sekedar nenek bagiku. Bu yah adalah ibu kedua yang mempunyai kasih sayang sebening embun dan kesabaran seluas langit.Bu yah yang tetap menghujaniku dengan pelukan dan ciuman meskipun aku sudah lulus kuliah S1ku. Satu kata yang luput aku katakan pada beliau bahwa aku sangat mencintainya. Bu yah akan selalu ada dalam doa-doaku. Aku yakin lebih berbahagia di "sana". Al fatihah!
Ps : Kemarin aku memasak ayam bakar ala mamanya abang dan Chika serta bakwan jagung. Ah enak sekali saudara2.


© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










