Potret Dua buah Negeri
Wednesday, March 10, 2004
The Image of Librarians
Episode pertama
penata buku itu
dengan bibir yang manyun itu
menatap dibalik kaca mata yang melorot ke batang hidung
dengan galaknya mendesis "SSSStttttt!!!!"
pengunjungpun kabur.
Episode Kedua
Penata buku itu
bergegas menata senyum
ketika si boss ada didepan pintu
dan bergegas si boss menyimpan buku milik perpustakaan itu
didalam tasnya tanpa malu malu
Sistem pun menjadi kacau balau
Episode Ketiga
penata buku itu itu
menatap buku-buku baru dalam kotak kardus
membiarkan buku-buku itu tetap disitu
toh masih banyak waktu.
Episode Keempat
Penata buku itu
pasrah dalam tumpukan buku
tapi penata buku bukanlah seorang pustakawan yang di negeriku bercitra kelabu
Dan kalian harus bisa membedakan itu
Sudut Story telling, satu ruangan
di sebuah perpustakaan anak di Montreal
Di negeri ini ada sebuah tempat yang bernama perpustakaan, terdiri dari beberapa ruang. Ada ruang yang tenang di lengkapi dengan beberapa komputer dan beberapa meja lengkap dengan colokan notebook tempat kita berkonsentrasi berkutat dengan masalah akademis.
Sementara dinegeriku, Orang harus antri berjam-jam untuk bisa mengakses komputer. Dan sangat sulit menemukan tempat tenang untuk bisa berkreasi.
Di negeri ini, informasi ada ditangan kita. Buku cetak asli milik negara tertentupun bisa kita dapatkan dengan menggunakan jasa interlibrary loan. database begitu mudah digunakan untuk melacak sebuah informasi dan menemukannya dengan mudah di rak-rak yang ada.
Dinegeriku, kita sangat sulit untuk mencari jurnal-jurnal baru. Pengadaan buku-bukunya pun masih menjadi milik proyek-proyek ajaib yang bisa menyulap 'buku-buku yang kita inginkan' menjadi 'buku-buku apa adanya'. Sistem pelacakan informasinya masih banyak yang menjadikan pengunjungnya seperti sebuah bola yang dilempar kesana kemari.
Di negeri ini, kepala perpustakaan duduk sejajar dengan para guru besar ketika ada peristiwa wisuda. Sementara di negeriku kepala perpustakaan harus naik ojek untuk menghadiri pertemuan-pertemuan mewakili institusinya.
Di negeri ini, anak-anak gandrung dengan perpustakaan karena program menarik dari permainan individual di karpet sampai Story telling. Perpustakaan sekolah menyatu dengan kurikulum. Anak-anak berdendang sambill membuat "book report" di bimbing oleh seorang pustakawan yang memang ahli di bidangnya.
Di negeriku, perpustakaan anak sangat jarang di temukan. Perpustakaan sekolah di desa-desa hanyalah sebatas ruang berdebu, gelap dengan buku-buku teksbook yang itu-itu saja dengan seorang penjaga 'tenaga buangan' yang tidak dipake disana sini karena tabiatnya.
Di negeri ini, perpustakaan menjadi lembaga yang disegani karena kondite kerja seorang pengajar di nilai oleh perpustakaan yang mengawasi seberapa sering seorang pengajar meng 'up date' bahan referensi di kelasnya.
Dinegeriku, perpustakaan seperti anak kucing yang ketakutan ketika seorang tenaga pengajar meminjam buku sebanyak-banyaknya dalam waktu 'seumur hidup' dan memperlakukan biku-buku itu sebagai koleksi pribadi.
Di negeri ini, perpustakaan untuk semua kalangan. Orang tua dengan tangan tuanya terlihat asyik belajar komputer di sebuah perpustakaan. Ibu-ibu dengan membawa bayinya asik mencari -cari buku di rak-rak perpustakaan.
Sementara di negeriku, perpustakaan hanyak untuk anak-anak sekolahan.
Di negeri ini, pustakawan bersatu padu dengan kelompok orang-orang 'teknologi informasi' untuk mebicarakan dan menghasilkan sebuah sistem informasi yang nyaman.
Di negeriku, pustakawan tidak dipandang. Cukuplah orang-orang teknologi informasi yang mengurus sebuah perpustakaan dan menganggap ilmu-ilmu perpustakaan bisa dipelajari dalam dua hari saja. Akibatnya perpustakaan canggih dengan databasenya tapi porak poranda dalam pengaturan ruangan serta kaidah-kaidah perpustakaan terabaikan. pengunjung perpustakaan rame-rame mengrenyutkan dahi karena tidak bisa menemukan apa yang diinginkan. Sementara konsultannya, pustakawan yang menyarankan untuk menggunakan jasa mahasiswa2 jurusan ilmu perpustakaan itu hanya cukup dipanggil sekali saja itupun lupa mengganti ongkos transportasinya apalagi honor yang dijanjikan. Padahal institusi yang memperkerjakannya merupakan instansi pemerintah yang besar dengan 'kepala'nya terkenal sebagai public figur yang cinta terhadap ilmu pengetahuan. Penghargaan pustakawan di negeriku memang masih hanya sebatas di bibir saja.
Di negeri ini, orang-orang sibuk membicarakan berbagi akses peminjaman di seluruh perpustakaan di dunia. Di negeriku, instansi -instansi berebut memenangkan proyek pengadaan buku dengan ribuan duplikasinya.
Dinegeri ini, orang-orang sudah membicarakan konsep melakukan transaksi koleksi perpustakaan dimanapun mereka berada tanpa harus mengunjungi gedungnya. Sementara di negeriku masih kebingungan bagaimana cara mendatangkan pengunjung.
banyak perpustakaan di negeriku tidak tertata. tenaga pustakawan ada tetapi para ellit enggan mempekerjakan mereka dan masih saja dianggap sebelah mata. Konsep perpustakaan sederhana bisa saja diwujudkan tetapi kita lebih senang kalau kita tidak membicarakannya. "political will" mungkin kuncinya.
Di negeri ini juga banyak perpustakaan sederhana tapi tetap hidup ditangan para voluntirnya. Di negeriku gegap gempita dengan istilah 'gotong royong' tapi masih segelintir orang yang memikirkan gotong royong dalam konteks perpustakaan. Keinginan masyarakat yang di tunjang pemerintah, mungkin itu jawbannya.
Dinegeri ini perpustakaan adalah kata kerja yang terus menerus berproses untuk mencapai kepuasan penggunanya. Sedangkan di negeriku perpustakaan adalah kata benda yang selalu menjadi objek bulan bulanan proyek-proyek raksasa.
sudut OPAC (Online Public Access Catalog)
di sebuah Perpustakaan anak di Montreal.
*Terimakasih kepada Marwiyah yang telah mengambil gambar gambar perpustakaan ini.
Episode pertama
penata buku itu
dengan bibir yang manyun itu
menatap dibalik kaca mata yang melorot ke batang hidung
dengan galaknya mendesis "SSSStttttt!!!!"
pengunjungpun kabur.
Episode Kedua
Penata buku itu
bergegas menata senyum
ketika si boss ada didepan pintu
dan bergegas si boss menyimpan buku milik perpustakaan itu
didalam tasnya tanpa malu malu
Sistem pun menjadi kacau balau
Episode Ketiga
penata buku itu itu
menatap buku-buku baru dalam kotak kardus
membiarkan buku-buku itu tetap disitu
toh masih banyak waktu.
Episode Keempat
Penata buku itu
pasrah dalam tumpukan buku
tapi penata buku bukanlah seorang pustakawan yang di negeriku bercitra kelabu
Dan kalian harus bisa membedakan itu
Sudut Story telling, satu ruangan
di sebuah perpustakaan anak di Montreal
Di negeri ini ada sebuah tempat yang bernama perpustakaan, terdiri dari beberapa ruang. Ada ruang yang tenang di lengkapi dengan beberapa komputer dan beberapa meja lengkap dengan colokan notebook tempat kita berkonsentrasi berkutat dengan masalah akademis.
Sementara dinegeriku, Orang harus antri berjam-jam untuk bisa mengakses komputer. Dan sangat sulit menemukan tempat tenang untuk bisa berkreasi.
Di negeri ini, informasi ada ditangan kita. Buku cetak asli milik negara tertentupun bisa kita dapatkan dengan menggunakan jasa interlibrary loan. database begitu mudah digunakan untuk melacak sebuah informasi dan menemukannya dengan mudah di rak-rak yang ada.
Dinegeriku, kita sangat sulit untuk mencari jurnal-jurnal baru. Pengadaan buku-bukunya pun masih menjadi milik proyek-proyek ajaib yang bisa menyulap 'buku-buku yang kita inginkan' menjadi 'buku-buku apa adanya'. Sistem pelacakan informasinya masih banyak yang menjadikan pengunjungnya seperti sebuah bola yang dilempar kesana kemari.
Di negeri ini, kepala perpustakaan duduk sejajar dengan para guru besar ketika ada peristiwa wisuda. Sementara di negeriku kepala perpustakaan harus naik ojek untuk menghadiri pertemuan-pertemuan mewakili institusinya.
Di negeri ini, anak-anak gandrung dengan perpustakaan karena program menarik dari permainan individual di karpet sampai Story telling. Perpustakaan sekolah menyatu dengan kurikulum. Anak-anak berdendang sambill membuat "book report" di bimbing oleh seorang pustakawan yang memang ahli di bidangnya.
Di negeriku, perpustakaan anak sangat jarang di temukan. Perpustakaan sekolah di desa-desa hanyalah sebatas ruang berdebu, gelap dengan buku-buku teksbook yang itu-itu saja dengan seorang penjaga 'tenaga buangan' yang tidak dipake disana sini karena tabiatnya.
Di negeri ini, perpustakaan menjadi lembaga yang disegani karena kondite kerja seorang pengajar di nilai oleh perpustakaan yang mengawasi seberapa sering seorang pengajar meng 'up date' bahan referensi di kelasnya.
Dinegeriku, perpustakaan seperti anak kucing yang ketakutan ketika seorang tenaga pengajar meminjam buku sebanyak-banyaknya dalam waktu 'seumur hidup' dan memperlakukan biku-buku itu sebagai koleksi pribadi.
Di negeri ini, perpustakaan untuk semua kalangan. Orang tua dengan tangan tuanya terlihat asyik belajar komputer di sebuah perpustakaan. Ibu-ibu dengan membawa bayinya asik mencari -cari buku di rak-rak perpustakaan.
Sementara di negeriku, perpustakaan hanyak untuk anak-anak sekolahan.
Di negeri ini, pustakawan bersatu padu dengan kelompok orang-orang 'teknologi informasi' untuk mebicarakan dan menghasilkan sebuah sistem informasi yang nyaman.
Di negeriku, pustakawan tidak dipandang. Cukuplah orang-orang teknologi informasi yang mengurus sebuah perpustakaan dan menganggap ilmu-ilmu perpustakaan bisa dipelajari dalam dua hari saja. Akibatnya perpustakaan canggih dengan databasenya tapi porak poranda dalam pengaturan ruangan serta kaidah-kaidah perpustakaan terabaikan. pengunjung perpustakaan rame-rame mengrenyutkan dahi karena tidak bisa menemukan apa yang diinginkan. Sementara konsultannya, pustakawan yang menyarankan untuk menggunakan jasa mahasiswa2 jurusan ilmu perpustakaan itu hanya cukup dipanggil sekali saja itupun lupa mengganti ongkos transportasinya apalagi honor yang dijanjikan. Padahal institusi yang memperkerjakannya merupakan instansi pemerintah yang besar dengan 'kepala'nya terkenal sebagai public figur yang cinta terhadap ilmu pengetahuan. Penghargaan pustakawan di negeriku memang masih hanya sebatas di bibir saja.
Di negeri ini, orang-orang sibuk membicarakan berbagi akses peminjaman di seluruh perpustakaan di dunia. Di negeriku, instansi -instansi berebut memenangkan proyek pengadaan buku dengan ribuan duplikasinya.
Dinegeri ini, orang-orang sudah membicarakan konsep melakukan transaksi koleksi perpustakaan dimanapun mereka berada tanpa harus mengunjungi gedungnya. Sementara di negeriku masih kebingungan bagaimana cara mendatangkan pengunjung.
banyak perpustakaan di negeriku tidak tertata. tenaga pustakawan ada tetapi para ellit enggan mempekerjakan mereka dan masih saja dianggap sebelah mata. Konsep perpustakaan sederhana bisa saja diwujudkan tetapi kita lebih senang kalau kita tidak membicarakannya. "political will" mungkin kuncinya.
Di negeri ini juga banyak perpustakaan sederhana tapi tetap hidup ditangan para voluntirnya. Di negeriku gegap gempita dengan istilah 'gotong royong' tapi masih segelintir orang yang memikirkan gotong royong dalam konteks perpustakaan. Keinginan masyarakat yang di tunjang pemerintah, mungkin itu jawbannya.
Dinegeri ini perpustakaan adalah kata kerja yang terus menerus berproses untuk mencapai kepuasan penggunanya. Sedangkan di negeriku perpustakaan adalah kata benda yang selalu menjadi objek bulan bulanan proyek-proyek raksasa.
sudut OPAC (Online Public Access Catalog)
di sebuah Perpustakaan anak di Montreal.
*Terimakasih kepada Marwiyah yang telah mengambil gambar gambar perpustakaan ini.
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










