Mak Comblang
Monday, June 14, 2004
adalah menciptakan Halilintar, kawan
waspadalah
atau kita akan tersengat
:Sekarat
Menyatukan dua dunia
adalah pekerjaan raksasa, kawan
kuatkanlah
atau kita akan menjadi tumbal
:Sia-sia
Tetapi janganlah putus asa menjadi bayang-bayang
Ada Thomas Alva Edison menerangi dunia
Ada timun emas yang merdeka dengan akalnya
:Kemenangan
Jodoh ada di tangan Tuhan. Sebagaimana Rezeki dan mati, jodoh telah dituliskan di catatan suci sang pencipta. Walau sudah berusaha sekuat tenaga dan sudah menjalin cinta bertahun-tahun, tetapi kalau memang belum jodoh, ya tidak akan menikah juga. Walau berlari-lari menjauhi seseorang dengan bersembunyi di hutan belantara, kalu memang sudah jodoh, ya akhirnya akan menikah juga.
Selain berdoa, banyak cara dilakukan untuk mendekatkan jodoh. Biro jodoh dibuka dan mandi kembangpun banyak dilakukan. Cara yang paling populer adalah mencari "mak comblang" sebagai perantara cinta. Menjadi mak comblang kadang menyenangkan apabila pasangan yang dipasangkan menjadi langgeng dan bahagia. Tetapi akan menuai rasa yang berkepanjangan apabila yang dipasangkan bercerai ditengah jalan.
Sejak SMP sampai lulus bangku kuliah, saya sering dipercaya untuk menjadi 'mak comblang'. dan rasanya senang sekali kalau mereka bisa jadian. Saya pernah mencoba memasangkan dua orang dengan latar belakang yang sangat berbeda. Yang perempuan dari keluarga berkecukupan sedang yang laki-laki dari keluarga sangat sederhana. Yang perempuan tidak begitu akrab dengan dunia seni, sedangkan yang lelaki adalah penyair yang menyandarkan hidupnya pada puisi. Sang perempuan memandang konsep materi sebagai bentuk tanggung jawab suami sedangkan sang lelaki memandang materi dari konsep seorang sufi. Sang perempuan cantik tiada tara sedangkan sang lelaki sangat biasa-biasa saja. Tetapi mereka sama-sama rajin beribadah dam satu konsep.
Begitulah, mereka tetap menikah walau orang tua perempuan agak sedikit keberatan karena sang perempuan waktu itu belum meraih gelar sarjana. sayapun ikut berbahagia.
Tahun demi tahun berlalu. Mereka mempunyai dua anak yang lucu-lucu. Si penyair tetap bersyair dengan keikhlasan embun. Sang isteri nmpak ihlas dengan kehidupannya. Tetapi siapa nyana mereka akhirnya bercerai? saya dan suami yang merasa bertanggung jawab mempertemukan mereka, kalang kabut untuk menyatukan mereka yang ternyata tidak bisa lagi.
Ah, walaupun mereka tidak pernah menyalahkan saya, tetapi saya tetap merasa bersalah. menyadari bahwa mereka datang dari dunia yang berbeda yang saya kompori untuk bisa menjadi satu.
Adakah diantara kalian yang mempunyai pengalaman menjadi mak comblang?
Kalau saya, sejak kejadian perceraian itu, saya kapok menjadi mak comblang!!










