Pemilu Presiden RI
Tuesday, July 06, 2004
Memilih itu tak gampang
butuh ribuan mizan untuk menimbang
jawaraku jawaramu bukanlah malaikat
wajarlah kalau ada peyakit tersemat
tetapi hasil akhirnya bersifat mengikat
untuk semua umat
wahai penduduk negeri warna warni
perbedaan itu indah
jangan saling mengebiri warna
karena akan bersimbah darah dan air mata
Setelah rame dengan gegap gempita bola, tibalah saatnya untuk melaksanakan pawai demokrasi untuk memilih orang nomor satu di Indonesia. Ada yang yang menyambut dengan semangat empat lima sambil mengelus-elus jagonya, ada yang tenang-tenang saja, ada yang kebingungan karena tak tahu harus milih yang mana. ada yang mantap untuk memilih tidak bersuara baik karena calon-calon yang ada tidak memenuhi kriterianya atau karena tidak terdaftar sebagai pemilih.
Rame-rame soal capres pun marak di internet. Ada polling yang keakuratannya masih dipertanyakan oleh banyak pihak karena pengalaman pemilu caleg kemarin, terjadi perbedaan signifikan antara hasil polling dan hasil nyata, yang tentu saja sangat wajar, karena berapa banyak sih jumlah penduduk Indonesia yang beruntung bisa mengakses internet dan ikut serta di polling2 tsb?. Dan tentu saja polling di internet hanya mewakili kelas masyarakat tertentu (baca: urban dan terpelajar). Ada juga yang membuka debat antar pendukung capres tertentu. Ada pula yang membikin situs-situs khusus untuk calon-calon pilihannya disamping situs-situs resmi milik calon-calon presiden itu. sedangkan yang terjadi di darat, anda tentunya sudah tahu dengan sendirinya.
5 juli 2004 sudah berlalu. Wiranto tegas berwibawa, katanya. Mega, kalem dan tenang kata nya. Amin, cerdik dan pintar, katanya. SBY sangat simpatik dan berkharisma, katanya. Hamzah sangat alim dan bersahaja. Tetapi pilihan seseorang tetap saja kembali ke hati nurani. Bebas memilih di bilik demokrasi.
Selamat Indonesia!. Siapapun yang maju untuk keputaran selanjutnya dan siapapun yang akan memimpin negeri ini semoga bisa membawa negeri ini ke situasi aman, sejahtera, bijaksana, terpelajar dan bergengsi dimata dunia.
Selamat kepada pemilih yang telah bersusah payah meluangkan waktu dan dana untuk sekedar berpartisipasi untuk mengubah nasib lewat demokrasi. Selamat juga kepada yang tidak memilih karena untuk menjadi golput adalah sebuah pilihan juga dan merupakan hak mereka dialam demokrasi ini.
Selamat!
Saya memilih lewat Pos saja. Bagaimana dengan anda?
butuh ribuan mizan untuk menimbang
jawaraku jawaramu bukanlah malaikat
wajarlah kalau ada peyakit tersemat
tetapi hasil akhirnya bersifat mengikat
untuk semua umat
wahai penduduk negeri warna warni
perbedaan itu indah
jangan saling mengebiri warna
karena akan bersimbah darah dan air mata
Setelah rame dengan gegap gempita bola, tibalah saatnya untuk melaksanakan pawai demokrasi untuk memilih orang nomor satu di Indonesia. Ada yang yang menyambut dengan semangat empat lima sambil mengelus-elus jagonya, ada yang tenang-tenang saja, ada yang kebingungan karena tak tahu harus milih yang mana. ada yang mantap untuk memilih tidak bersuara baik karena calon-calon yang ada tidak memenuhi kriterianya atau karena tidak terdaftar sebagai pemilih.
Rame-rame soal capres pun marak di internet. Ada polling yang keakuratannya masih dipertanyakan oleh banyak pihak karena pengalaman pemilu caleg kemarin, terjadi perbedaan signifikan antara hasil polling dan hasil nyata, yang tentu saja sangat wajar, karena berapa banyak sih jumlah penduduk Indonesia yang beruntung bisa mengakses internet dan ikut serta di polling2 tsb?. Dan tentu saja polling di internet hanya mewakili kelas masyarakat tertentu (baca: urban dan terpelajar). Ada juga yang membuka debat antar pendukung capres tertentu. Ada pula yang membikin situs-situs khusus untuk calon-calon pilihannya disamping situs-situs resmi milik calon-calon presiden itu. sedangkan yang terjadi di darat, anda tentunya sudah tahu dengan sendirinya.
5 juli 2004 sudah berlalu. Wiranto tegas berwibawa, katanya. Mega, kalem dan tenang kata nya. Amin, cerdik dan pintar, katanya. SBY sangat simpatik dan berkharisma, katanya. Hamzah sangat alim dan bersahaja. Tetapi pilihan seseorang tetap saja kembali ke hati nurani. Bebas memilih di bilik demokrasi.
Selamat Indonesia!. Siapapun yang maju untuk keputaran selanjutnya dan siapapun yang akan memimpin negeri ini semoga bisa membawa negeri ini ke situasi aman, sejahtera, bijaksana, terpelajar dan bergengsi dimata dunia.
Selamat kepada pemilih yang telah bersusah payah meluangkan waktu dan dana untuk sekedar berpartisipasi untuk mengubah nasib lewat demokrasi. Selamat juga kepada yang tidak memilih karena untuk menjadi golput adalah sebuah pilihan juga dan merupakan hak mereka dialam demokrasi ini.
Selamat!
Saya memilih lewat Pos saja. Bagaimana dengan anda?
© 2004 - 2006 Serambi Rumah Kita. Design & Template by Anita.










